Mengapa Perempuan Selalu Dituntut Multitasking?

Isna Nur Isnaini

11/08/2024

4
Min Read
perempuan Multitasking

On This Post

Harakatuna.com – Semakin banyaknya ruang publik yang tersedia untuk perempuan agar bisa mengapresiasikan diri mendapat sambutan yang positif dari banyak pihak. Dulu banyak yang menganggap perempuan sebagai “konco wingking” dengan konotasi negatif dimana ruang lingkupnya terbatas pada urusan domestik rumah tangga. Saat ini ruang gerak perempuan semakin luas.

Namun kesempatan untuk berperan serta dalam berbagai bidang tersebut tidak jarang membuat tanggung jawabnya semakin berat. Dalam kehidupan rumah tangga, perempuan mempunyai tanggung jawab sebagai penjaga, artinya bisa mengayomi dan membuat rasa aman untuk anak-anak. Tugas lainnya yang tidak kalah penting adalah menghadirkan rasa tenteram untuk pasangan.

Di luar peran tersebut, perempuan yang mengambil bagian dalam ranah publik, seperti berkarir atau berorganisasi juga mempunyai tanggung jawab besar. Ketika sudah memilih untuk berperan aktif di luar rumah, maka seorang perempuan dituntut untuk bisa multitasking.

Peran Domestik yang Tak Dapat Ditinggalkan

Mengandung, melahirkan dan menyusui merupakan kodrat perempuan. Ketika memutuskan untuk menikah, maka seorang perempuan harus siap mengandung, melahirkan dan menyusui anaknya serta merawat dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang.

Menjadi ibu rumah tangga maupun sebagai wanita karir, kodrat dan tugas utama ini tidak dapat ditinggalkan. Karena bertanggung jawab sangat besar dalam mendidik generasi mendatang, Islam memberikan keistimewaan kepada perempuan dengan kedudukannya tiga kali dari pria.

Kesempatan Bekerja

Terbukanya kesempatan kerja yang luas untuk perempuan perlu mendapat apresiasi positif. Dengan kemampuan dan keterampilannya, perempuan dapat bersaing untuk mendapatkan pekerjaan sesuai bekal ilmu yang dimiliki.

Saat ini untuk mendapatkan pekerjaan bagi perempuan tanpa meninggalkan tanggung jawab utamanya dalam mengurus rumah tangga semakin mudah. Banyak perusahaan yang menerima karyawan dengan sistem kerja remote dimana semua pekerjaan kantor tersebut dapat diselesaikan dari rumah.

Baik jenis pekerjaan dengan sistem remote maupun pekerjaan yang mengharuskan karyawannya untuk datang ke kantor, semua menuntut konsekuensi dan tanggung jawab. Seorang perempuan yang mengambil peran ganda sebagai ibu rumah tangga sekaligus pekerja harus pandai membagi waktu, tenaga dan pikiran agar semua dapat diselesaikan dengan baik.

Persepsi Sosial-Budaya

Semakin banyaknya perempuan yang mampu menyelesaikan pekerjaan dengan kualitas sama baik dengan lelaki membuat perubahan penilaian. Posisi perempuan sudah disejajarkan dengan lelaki. Perubahan persepsi sosial ini tidak jarang menjadi tekanan yang mengharuskan perempuan dalam semua kondisi untuk berkontribusi maksimal.

Ini bisa berdampak positif maupun negatif. Dalam penilaian positif, hal ini merupakan kesempatan baik bagi perempuan karena keberadaan dan kemampuannya mendapat apresiasi.

Namun dari sisi negatif, hal ini membuat perempuan tidak bisa beralibi atau beralasan ketika tidak mampu menyelesaikan pekerjaannya sesuai standar. Apa pun kondisi dan emosi yang sedang dihadapi, maka hasil kerjanya harus mempunyai kualitas yang sama dengan hasil pekerjaan lelaki.

Tuntutan Ekonomi

Semakin mahalnya biaya hidup membuat banyak keluarga yang membutuhkan income lebih dari satu sumber. Karena itu tidak sedikit yang memutuskan bahwa sang istri pun harus ikut bekerja mencari nafkah. Tuntutan ekonomi ini membuat seorang perempuan harus ikut bertanggung jawab terhadap pemenuhan keuangan rumah tangga.

Terlebih bagi seorang perempuan yang menjadi single parent. Mau tidak mau harus mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhannya dan kebutuhan buah hati. Hal ini merupakan kondisi yang tidak dapat ditawar karena tanggung jawab suami sebagai pencari nafkah sudah berpindah kepadanya.

Kemampuan Beradaptasi

Sebagai makhluk sosial, perempuan mempunyai kepekaan yang sangat tinggi. Ini yang membuatnya lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. Keterlibatannya dalam masyarakat tidak jarang lebih mudah diterima.

Selama menjalankan aktivitas sosial atau berperan dalam masyarakat, tugas utamanya dalam menjadi manajer rumah tanggal, membimbing dan merawat anak tidak dapat ditinggalkan. Tidak jarang saat beraktivitas sosial kemasyarakatan tersebut seorang perempuan harus membawa serta buah hatinya.

Menjalankan berbagai kegiatan, berinteraksi dengan orang lain sambil menjaga anak tidak selalu mudah. Hal ini yang menuntut perempuan harus luwes dan fleksibel menjalankan berbagai peran secara bersamaan. Kemampuannya dalam menyesuaikan diri akan sangat membantunya agar semua peran dapat berjalan secara sinergi.

Tekanan Sosial

Menjadi perempuan tidak selalu mudah, apalagi jika berada di lingkungan yang kurang memberi dukungan, pasangan yang kurang bertanggung jawab dalam hal pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga, dalam pengasuhan anak, maupun menyelesaikan pekerjaan rumah tangga.

Ketika ada satu pekerjaan yang tidak beres, tidak jarang perempuan disalahkan. Seperti ketika rumah dalam keadaan berantakan, perempuan yang notabene sebagai istri sering dianggap tidak mampu menjalankan perannya. Begitu juga saat buah hati bermasalah, tidak jarang sang ibu diangap gagal. Sedangkan sebenarnya rumah tangga merupakan tanggung jawab bersama antara suami dan istri.

Sebagai upaya agar tidak dianggap gagal seorang perempuan kemudian berusaha untuk multitasking, menyelesaikan semua perkerjaan dengan hasil terbaik. Untuk bisa mencapai hal ini pun tidak selalu mudah, rintangan dan hambatan yang ada harus bisa diselesaikan. Ketika tubuh merasa lelah, seorang perempuan tetap menjalankan semua peran dengan baik.

Tekanan pekerjaan dan masalah dalam rumah tangga merupakan beban yang dapat mengganggu emosi. Namun seorang perempuan harus tetap bisa mengendalikan dan bersikap lembut. Menjadi seseorang yang multitasking memang tidak salah. Namun sebagai individu, seorang perempuan mempunyai keterbatasan. Dukungan lingkungan, terutama pasangan dan orang terdekat, sangat penting agar bisa berperan multitasking tanpa ada yang dikorbankan.

Leave a Comment

Related Post