Judul Buku: Indonesia’s Moderate Muslim Websites and Their Fight Against Online Islamic Extremism, Penulis: A’an Suryana, ISBN: 978-981-5104837, Tahun Terbit: 2023, Penerbit: ISEAS Publishing, Singapura. Peresensi: Firda Adinda Syukri.
Harakatuna.com – Ruang digital Indonesia dalam beberapa tahun terakhir telah berubah menjadi arena penyebaran ideologi. Bukan hanya alat komunikasi, tetapi sarana penyebaran gagasan politik dan keagamaan yang saling bertabrakan. Buku Indonesia’s Moderate Muslim Websites and Their Fight Against Online Islamic Extremism karya A’an Suryana merekam dinamika itu secara teliti.
Melalui riset lapangan, wawancara dengan pelaku, dan pembacaan terhadap konten daring, Suryana menunjukkan bagaimana situs-situs Muslim moderat berupaya mempertahankan narasi keislaman yang inklusif di tengah arus ekstremisme digital yang terus menguat.
Laporan ini mengungkap bahwa meskipun memiliki tujuan jelas untuk melawan radikalisme, situs-situs moderat seperti NU Online, Islami.co, dan IBTimes.id masih kesulitan menyaingi dominasi narasi kelompok ekstrem. Tantangan utama bukan sekadar perbedaan ideologi, melainkan juga masalah struktural dan budaya yang melekat dalam operasional dan ekosistem masing-masing platform.
Sepanjang tahun 2022, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mencatat hampir 600 akun media sosial dan situs web yang aktif menyebarkan konten keagamaan berhaluan radikal. Dalam periode yang sama, lebih dari 900 unggahan bermuatan ekstrem berhasil terdeteksi. Data ini menggambarkan bagaimana internet—yang selama ini diposisikan sebagai ruang terbuka dan demokratis—telah bergeser menjadi sarana efektif penyebaran ujaran kebencian dan ideologi takfiri.
Berbanding terbalik dengan strategi kelompok ekstrem yang terorganisir dan agresif, situs-situs moderat justru tersandung persoalan internal. Minimnya pendanaan, absennya manajemen profesional, serta ketidaksesuaian antara konten dan minat pembaca muda perkotaan menjadi hambatan utama. Di banyak kasus, jurnalis media moderat lebih memilih menulis artikel panjang bernuansa akademik—alih-alih membahas isu konkret yang relevan dengan keseharian Muslim muda.
A’an Suryana menggarisbawahi tantangan yang dihadapi situs-situs moderat sebagai kombinasi persoalan struktural dan kultural. Di sisi struktural, keterbatasan dana menjadi hambatan utama. NU Online, misalnya, mendapat sokongan dari organisasi induknya, tapi dana itu hanya cukup untuk menambal sebagian kebutuhan operasional. Sementara Islami.co dan IBTimes.id bergantung pada kerja sama dengan LSM atau donatur individu—model yang membuat mereka kesulitan membangun sistem pendanaan berkelanjutan atau menarik talenta digital yang kompetitif.
Di ranah budaya organisasi, sebagian besar media moderat berangkat dari semangat aktivisme, bukan dari perencanaan sebagai entitas profesional. Mereka berjalan tanpa struktur bisnis yang solid—tanpa divisi pemasaran, tanpa pengembangan usaha, dan tanpa pelatihan jurnalisme yang berkelanjutan. Semangat mereka besar, tetapi infrastruktur pendukung nyaris absen. Dalam ekosistem digital yang kompetitif dan bergerak cepat, kondisi ini menjadikan mereka rentan tertinggal.
Masalah konten menjadi titik lemah lain. Banyak media moderat cenderung menyajikan tulisan yang terlalu teoritis, panjang, dan kurang relevan bagi pembaca muda. Sementara situs-situs Salafi seperti hsi.id dan Rumaysho.com justru unggul dengan pendekatan praktis—panduan wudhu, hukum halal-haram, hingga etika pergaulan. Ringkas, aplikatif, dan langsung menyasar kebutuhan sehari-hari. Itu pula yang menjelaskan mengapa, berdasarkan data Similarweb 2023 yang dikutip dalam buku ini, situs Salafi masih memimpin kategori “Faith and Belief.” Dari media moderat, hanya NU Online yang mampu bertahan di jajaran sepuluh besar.
Meski menghadapi berbagai keterbatasan, Suryana tidak memposisikan media moderat sebagai pihak yang gagal. Justru sebaliknya, ia menekankan pentingnya peran mereka sebagai satu-satunya penyeimbang di tengah gencarnya arus narasi ekstrem. Islami.co dan IBTimes.id, misalnya, tetap konsisten menyuarakan Islam inklusif melalui kolaborasi dengan lembaga seperti Maarif Institute dan Wahid Foundation. Namun, di tengah derasnya produksi dan distribusi konten ekstrem, suara mereka masih tenggelam dalam medan digital yang tak setara.
Suryana juga menyoroti minimnya peran negara dalam memperkuat posisi media moderat. Dukungan dari Kementerian Agama, jika pun ada, masih sporadis dan tidak berkelanjutan. Di sisi lain, BUMN dengan kapasitas finansial besar nyaris absen dari upaya membangun ekosistem informasi yang mendukung keberagaman. Padahal, keterlibatan melalui skema CSR atau kerja sama konten bisa menjadi langkah strategis untuk memperkuat media yang mengusung narasi toleran dalam lanskap digital yang kompetitif.
Buku ini juga menyoroti bagaimana algoritma platform digital global turut memperkeruh situasi. Sistem rekomendasi di Facebook, YouTube, dan Instagram sering kali justru mengangkat konten ekstrem karena dianggap lebih “engaging” oleh mesin. Media moderat, yang minim keahlian teknis dan sumber daya, tertinggal jauh dalam persaingan ini. Karena itu, negara punya peran penting: bukan sekadar menjadi penonton, tapi mengatur agar platform digital turut memberi ruang bagi narasi keagamaan yang damai dan inklusif.
Buku ini memberi peringatan yang jelas: idealisme saja tidak cukup. Di era digital yang cepat berubah, media moderat harus mampu bersaing secara profesional—mulai dari strategi konten, pengelolaan bisnis, hingga pemahaman mendalam terhadap perilaku pembaca muda. Tanpa kesiapan itu, suara moderat akan terus terkubur oleh kelompok yang lebih siap, lebih terstruktur, dan lebih paham cara memanfaatkan teknologi untuk menyebarkan pengaruh.








Leave a Comment