Mengapa Masyarakat Masih Denial tentang Keterlibatan Jama’ah Islamiyah dalam Aksi Terorisme?

Muallifah

11/07/2024

4
Min Read

On This Post

Harakatuna.com – Bubarnya organisasi Jama’ah Islamiyah (JI) yang disampaikan oleh pengurusnya di Bogor pada 30 Juni lalu, masih menyisakan perdebatan yang panjang, sekaligus pertanyaaan, “benarkah semua anggota JI sepakat dengan pembubaran tersebut atau hanya mengubah citra agar diterima oleh masyarakat? Atau jangan-jangan masih ada gerakan bawah tanah yang sudah disiapkan oleh sebagian anggota JI untuk melaksanakan aksi-aksi terorisme yang lain?”

Pertanyaan dan sekaligus kekhawatiran semacam itu, wajar saja muncul dalam benak. Sebab eksistensi JI sebagai organisasi Islam, sekaligus organisasi, di mana pendirinya adalah orang yang tegas menolak Pancasila, sekaligus keukeuh mendirikan negara Islam di Indonesia. Di samping itu, dari berbagai aksi terorisme yang terjadi di Indonesia, anggota JI terlibat aktif dalamnya. Berbagai aksi Densus 88 yang melakukan penggrebekan terhadap teroris, terbukti mereka adalah anggota aktif JI. Artinya, pengakuan para pengurus sekaligus anggota JI terhadap Pancasila dan NKRI, masih menyisakan misteri.

Meski begitu, hingga pembubaran tersebut diberitakan oleh berbagai media nasional, kita bisa membaca respon masyarakat melalui para netizen. Akun media sosial narasi.tv, misalnya. Ketika memposting pembubaran JI, komentar netizen yang bisa disorot adalah sikap denial dengan mengatakan bahwa, Abu Bakar Ba’asyir hanyalah korban dari sebuah kebencian yang diciptakan oleh Barat. Komentar tersebut juga ditambah dengan argumen bahwa, hanyalah ISIS yang merupakan organisasi teroris, dengan menegasikan keterlibatan Al-Qaeda, Jama’ah Islamiyah (JI), Jama’ah Ansharut Tauhid (JAT), dalam kasus terorisme. ISIS-pun sebagai organisasi teroris, adalah buatan Amerika, yang sebetulnya untuk menghancurkan citra Islam, dengan menyebut Islam sebagai agama teroris.

Berdasarkan argumen di atas, mengapa masih ada sebagian kelompok masyarakat yang denial terhadap eksistensi JI yang terlibat dalam terorisme?

Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi, di antaranya: pertama, salah satu faktor mengapa aksi terorisme itu hadir adalah aksi kekerasan yang dilakukan oleh Barat, utamanya Israel, yang disponsori oleh Amerika kepada Palestina yang menciptakan solidaritas internasional di kalangan masyarakat Muslim. Masyarakat Muslim di negara mana yang tidak empati atas kejadian yang menimpa Palestina? Aksi solidaritas yang diusung oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia merupakan bukti nyata bahwa, kesengsaraan masyarakat Palestina dalah kesedihan masyarakat Muslim di seluruh dunia.

Aksi solidaritas ini bisa dimanfaatkan oleh sebagian kelompok (umat Muslim) untuk melakukan balas dendam dengan kekerasan yang sama, misalnya pengeboman untuk melakukan balas dendam atas kesengsaraan yang dialami oleh masyarakat Muslim. Artinya, denial dengan kenyataan bahwa, sebagian kelompok masyarakat mengartikan ayat suci Al-Qur’an untuk membunuh sesama manusia, adalah sebuah kebodohan.

Kedua, Abdullah Sungkar adalah pendiri JI sekaligus bersama Abu Bakar Ba’asyir dan kawan-kawannya mendirikan Pondok Pesantren Al-Mukmin. Dua tokoh ini diakui oleh sejarah adalah orang yang menolak secara keras terhadap Pancasila sekaligus memiliki ambisi untuk mendirikan negara Islam di Indonesia. Pada masa Orde Baru, Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir kabur ke Malaysia karena pada waktu itu iklim sosial sangat represif terhadap kelompok-kelompok yang bertentangan dengan negara/pemerintah.

Di sinilah proses keduanya dimulai dengan melakukan jejaring bersama kelompok jihadis internasional sekaligus menjadi bekal untuk memfasilitasi pengiriman mujahid asal Indonesia untuk belajar strategi kemiliteran ke Afghanistan agar menjadi bekal jihad di Indonesia.

Adanya Pondok Pesantren Al-Mukmin yang diasuhnya, menjadi jembatan yang sangat mudah bagi Abu Bakar Ba’asyir untuk mencari kader yang potensial, memiliki kecerdasan agama, kemudian dikirim ke Afghanistan untuk menjadi jihadis. Sampai di sini, menjadi jelas bahwa Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir adalah salah satu otak terorisme di Indonesia.

Ketiga, Jama’ah Islamiyah bertanggung jawab atas kejadian aksi terorisme besar di Indonesia seperti: pengeboman gereja pada tahun 2000 silam yang menewaskan 18 orang, aksi Bom Bali II yang menewaskan 202 orang, bom di hotel J.W Hotel Marriot, bom di Kedutaan Besar Australia pada September 2004, dan beberapa aksi teror lainnya.

Sebagian masyarakat yang masih denial tentang keterlibatan JI pada aksi terorisme, bisa jadi karena kebencian yang besar terhadap negara Barat, yang selama ini menjadi sponsor atas kesengsaraan yang dialami oleh masyarakat Muslim. Meski demikian, kita tidak boleh menutup mata sekaligus menyangkal bahwa Jama’ah Islamiyah adalah organisasi teroris di Indonesia dengan berbagai fakta yang sudah dikemukakan di atas. Wallahu A’lam.

Leave a Comment

Related Post