Harakatuna.com – Hari Raya Waisak merupakan hari penting dan bersejarah bagi umat Buddha. Menariknya, perayaan tersebut tidak memiliki tanggal yang pasti setiap tahunnya, hanya saja pasti jatuh pada bulan Mei. Dilansir dari laman resmi Ditjen Bimas Buddha Kementerian Agama RI, penetapan Hari Raya Waisak berdasarkan metode Purnama-Sidhi dengan menggunakan perhitungan astronomi bersifat ilmiah, universal, dan modern.
Perayaan Hari Raya Waisak tahun ini jatuh pada hari Kamis (23/05) kemarin. Terdapat peristiwa unik yang viral baru-baru ini, di mana lagi-lagi bukti toleransi antara umat Islam dan Buddha terjalin begitu kuat. Hal ini terlihat dari rombongan Biksu Thudong yang beristirahat sejenak di Masjid Baiturrohmah Bengkal, Kec. Kranggan, Kab. Temanggung sebelum meneruskan perjalanan ke Candi Borobudur.
Momen tersebut tertangkap kamera pada Minggu (19/05) lalu. Pihak ketua takmir masjid pun membenarkan adanya video yang viral tersebut. Bahkan, pihak takmir menyambut kedatangan mereka dengan hangat, sekaligus memberikan minuman beserta snack guna menjamu para biksu. Lebih lanjut, Fatkhulrohman selaku ketua takmir masjid mengucapkan bahwa “Islam itu seperti ini, agama yang rahmatan lil ‘alamin dan sangat menjaga toleransi”.
Toleransi antaragama Islam dan Buddha di Indonesia memang tidak perlu diragukan lagi. Sebab, sudah cukup lama agama Islam dan Buddha berdampingan di Indonesia. Bahkan, agama Buddha merupakan agama tertua kedua setelah Hindu yang masuk ke Indonesia. Kemudian, barulah disusul dengan agama Islam.
Membahas toleransi antaragama Islam dan Buddha cukup penting, sebagai bentuk persatuan dan kesatuan bangsa. Mengingat, banyak sekali oknum yang ingin memecah-belah persatuan dan kesatuan Indonesia dengan menyebarkan propaganda negara khilafah. Tentu oknum tersebut harus diperangi dengan tetap berpegang teguh pada Pancasila dan UUD 1945.
Akulturasi Budaya Islam-Buddha
Sebelum agama Islam masuk ke Indonesia, sudah terlebih dahulu ada agama Hindu dan Buddha. Para ulama, tidak serta merta menyebarkan agama Islam secara keras. Sebab, upaya tersebut akan membuat perpecahan di Indonesia. Cara yang dilakukan yaitu secara perlahan-lahan dan tidak mengubah tradisi yang sudah diajarkan oleh pemuka agama Hindu dan Buddha.
Para Walisongo pada saat itu memiliki ide yang cemerlang untuk menyebarkan agama Islam. Tradisi yang sudah melekat tetap dibiarkan ada namun diselingi dengan ajaran-ajaran Islam. Cara tersebut terbukti sukses untuk membuat masyarakat tertarik dan memeluk agama Islam. Hingga saat ini, pemeluk agama Islam di Indonesia mencapai 229,62 juta jiwa atau sekitar 87,2% dari total populasi yang berjumlah 269,6 juta jiwa.
Meskipun menjadi agama mayoritas, namun agama Islam tidak meremehkan agama Buddha. Justru, hubungannya semakin baik hingga sekarang. Hal tersebut bisa dibuktikan dengan adanya akulturasi budaya yang masih ada hingga saat ini. Contohnya, bangunan Masjid Menara Kudus yang menggabungkan budaya Hindu-Buddha dengan Islam. Corak Buddha yang teletak pada masjid tersebut adalah adanya delapan pancuran wudhu yang diadaptasi dari ”Asta Sangika Marga” atau delapan jalan kebenaran.
Selain itu, ada juga seni wayang kulit yang masih berkembang sampai sekarang. Konon, wayang kulit termasuk kesenian yang datang bersamaan dengan penyebaran agama Hindu-Buddha di Indonesia. Kisah yang biasa dibawakan pada wayang tersebut adalah kisah Ramayana. Dulunya, Walisongo menggunakan wayang sebagai media untuk menyebarkan agama Islam. Hingga kini, pagelaran wayang kulit masih terus digelar untuk meneruskan budaya nenek moyang.
Similaritas Ajaran Islam dan Buddha
Di balik toleransi yang begitu kental antara penganut agama Islam dan agama Buddha, ternyata terdapat beberapa kesamaan ajaran di antara keduanya. Hal tersebut menandakan bahwa setiap agama memiliki korelasi sehingga bisa hidup secara berdampingan di dalam bermasyarakat dan bernegara.
Pertama, perintah berhaji jika mampu di dalam Islam. Haji tersebut merupakan ziarah ke Makkah dan Madinah. Dalam agama Buddha juga terdapat istilah ziarah ke tempat yang dianggap suci yaitu Bodh Gaya yang ada di India. Minimal satu kali seumur hidup, umat Buddha bisa sampai ke tempat tersebut untuk mencapai pencerahan.
Kedua, di agama Islam terdapat istilah zakat fitrah yang termasuk ke dalam rukun Islam yang ke-3. Zakat merupakan sejumlah harta tertentu yang wajib diberikan kepada orang yang kurang mampu. Biasanya, dalam bentuk makanan pokok ataupun uang. Agama Buddha juga mengenal istilah zakat namun dengan nama derma. Artinya adalah uang, pangan, atau benda lainnya yang diberikan kepada fakir miskin.
Ketiga, upacara 7 bulanan atau mitoni. Ajaran tersebut memang kental dengan adat Jawa, namun agama Islam pun mengadopsinya. Biasanya, terdapat kiai atau ustaz yang memimpin doa keselamatan untuk sang bayi. Ajaran agama Buddha pun mengenal upacara mitoni ini yang identik dengan tumpeng dan pembacaan doa atau paritra dari bhikku atau pandita.
Pada intinya, agama Islam dan Buddha datang ke Indonesia dengan cara damai. Keduanya pun telah hidup berdampingan sejak lama sehingga toleransi masih tetap terjaga hingga sekarang. Adanya similaritas ajaran-ajaran juga menjadikan kedua agama tersebut memiliki hubungan yang erat. Mari jaga persatuan antarumat beragama di Indonesia!









Leave a Comment