Meneladani Sikap Wasatiah Nabi Muhammad Saw.

Ahmad Hirzan Anwari

13/09/2024

5
Min Read
Wasatiah Nabi

On This Post

Harakatuna.com – Artikel ini dibuat dalam rangka memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad Saw., sosok makhluk yang agung dan sikapnya menjadi teladan bagi umatnya. Keagungan Nabi Muhammad tidak hanya diakui dan dirasakan oleh umatnya saja, umat yang tidak mengikuti ajarannya juga merasakan keagungannya.

Raja Persia yang bernama Nusyirwan, adalah salah satu orang non-Islam yang merasakan keagungan Nabi Muhammad Saw. Konon sang raja mengalami mimpi yang aneh sebelum Nabi dilahirkan ke bumi. Di dalam mimpi itu ia menyaksikan banyak sekali kuda Arab yang memenuhi kota. Kuda-kuda itu tampak sangat gagah menggiring unta-unta dari berbagai negara.

Kuda-kuda dalam mimpi sang raja itu merupakan lambang bagi para sahabat Sang Nabi yang mengembara ke berbagai negeri dengan penuh keagungan dan kemuliaan. Kejadian ini terekam dalam kitab Burdah, karya Imam Muhammad al-Bushiri:

يوم تفرس فيه الفرس أنهم

قد أنذروا بحلول البؤس والنقم

“Pada saat dilahirkannya Nabi Saw., para penduduk Persia merasakan adanya firasat bahwa sesungguhnya mereka telah diingatkan dengan datangnya malapetaka dan kepedihan”.

Keagungan Nabi Muhammad Saw., dapat dilihat dari sikapnya saat bersosial dan berinteraksi dengan sesama makhluknya, baik yang mengikuti ajarannya maupun tidak. Banyak sikap Nabi Muhammad Saw., yang patut menjadi teladan bagi ummatnya. Salah satunya adalah sikap wasatiah.

Refleksi Makna Wasatiah

Wasatiah adalah ajaran Islam yang mengarahkan umatnya agar bersikap adil, tengah-tengah, tidak berpihak, bermaslahat, dan proporsional dalam segala aspek kehidupan. Umat Islam adalah umat pilihan (khiyarunnas), yang harus mampu menjadi penengah (wasath) di antara banyak pilihan.

 Kata wasatiah juga disinggung dalam surat al-Baqarah: 143:

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَکُوْنُوْا شُهَدَآءَ عَلَى النَّا سِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا 

“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.”

Dalam kitab Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka menjelaskan bahwa dengan berperilaku wasatiah, umat Islam tidak seperti umat Yahudi yang terlalu condong kepada perkara duniawi sebagaimana kitab suci mereka yang sedikit membahas perkara ukhrawi dan tidak seperti umat Nasrani yang terlalu mementingkan perkara ukhrawi dengan meninggalkan segala macam kemegahan duniawi. Dengan wasatiah, kata Buya Hamka, kita dapat bersikap sewajarnya dalam segala hal. Karena berlebihan terhadap sesuatu itu tidak baik bahkan menimbulkan mudarat. 

Sedangkan dalam kitab Tafsir Al-Mishbah, Quraish Shihab lebih menekankan wasatiah dengan sikap manusia yang adil atau tidak memihak terhadap siapa pun. Dengan sikap ini manusia akan dilihat dan mudah diterima oleh siapa pun dalam kondisi apa pun.

Ciri-ciri dari wasatiah, menurut Yusuf al-Qardhawi, ulama moderat asal Mesir, di antaranya adalah dapat memahami realitas bahwa dalam Islam ada yang at-tsawabit atau tetap iman, aqidah dan pokok-pokok ibadah dan al-mutaghayyirat fleksibel sesuai perubahan dan perkembangan zaman, aulawiyah yaitu memahami skala prioritas, memahami cara memudahkan umat Islam dalam memahami ajarannya, selalu melihat ayat-ayat secara kompeherensif, dan tidak terpotong-potong dalam memahami ajaran serta berkenan dialog dengan orang lain.

Teladan Wasatiah Nabi Muhammad Saw.

Sikap wasatiah Nabi salah satunya bisa dilihat saat beliau berlaku adil kepada seorang Muslim yang menzalimi seorang rahib Yahudi. Kisah ini ditulis oleh Imam Ibnu Jarir ath-Thabari (w. 310 H), dalam kitabnya, Jami’ al-Bayan fii al-Qur’an. Alkisah, seorang Muslim bernama Thu’mah bin Abiraq, berasal dari Madinah atau sahabat Anshar, mencuri baju milik pamannya, yang itu juga titipan dari seseorang. Untuk menghindari kecurigaan dan tuduhan, Thu’mah secara diam-diam menyembunyikan baju besi itu ke rumah seorang Yahudi bernama Zaid bin Samin.

Melihat barang itu berada di rumah Zaid bin Samin, si pemilik, keluarga dekat dan Thu’mah bin Abiraq, menuduh dan mengutuk orang Yahudi tersebut. Mendapat perlakuan seperti itu, Zaid bin Samin mengadukan kepada Nabi dan minta keadilan. Setelah melakukan investigasi secara cukup, Nabi kemudian membebaskan orang Yahudi itu dan memutuskan bahwa Thu’mah bib Abiraq yang bersalah. Mendengar keputusan ini, Tuh’mah bin Abiraq memilih berlari ke daerah yang tidak diketahui oleh siapa pun.

Dari sikap Nabi di atas, kita diajarkan agar melihat sesuatu secara objektif, adil, tidak memihak. Siapa pun orangnya dan apa pun agama dan latar belakang hidupnya, jika melakukan kebaikan, maka tak salah kita seiya-sekata dengannya selama tidak berkaitan dengan persoalan akidah. Sebaliknya, jika melakukan keburukan, kita harus tegas untuk mencegah dan menghukumnya.

Dengan meneladani dan mengikuti sikap Nabi yang demikian, kita akan terhindar dari fanatisme terhadap satu golongan atau ajaran. Kita bisa menghargai kebenaran yang timbul dari orang yang bukan berasal dari pihak sendiri. Sekali lagi, selama bukan persoalan akidah.

Sikap wasatiah Nabi sering kali luput dari perhatian orang-orang yang berpegang teguh pada nash (Al-Qur’an dan hadis). Keteguhan pada nas membuat mereka kaku dalam beragama dan bersosisal. Tak ayal, jika mereka kerap marah kepada sesama manusia yang tidak sepaham dengan ajarannya.

Padahal, seorang mukmin sejati harus bisa mencintai sesama manusia dan makhluk lainnya, apa pun latar belakang hidup dan agamanya. Dan kunci agar bisa saling mencintai antar sesama makhluk adalah sikap wasatiah sebagaimana yang telah diajarkan oleh Nabi. Dalam sebuah hadis dikatakan:


عن أبي هريرة قال قال رسول لله صالله عليه وسلم يا أبا هريرة حب للناس ما تحب لنفسك تكن مؤمنا وأحسن جوار من جاورك تكن مسلما

Dari Abu Hurairah, berkata: Rasulullah Saw. bersabda: “Wahai Abu Hurairah, cintailah untuk semua manusia apa yang kamu cintai untuk dirimu, maka kamu akan menjadi orang yang mukmin (sejati), dan berbuat baiklah dalam hal persahabatan dengan siapa pun yang bersahabat denganmu, maka kamu akan menjadi orang Islam (yang sejati)” (HR. Ibnu Majah, No. 4357).

Dengan sikap wasatiah yang menimbulkan rasa saling menghargai dan mencintai antar sesama makhluk, misi Islam rahmatan lil alamin akan tersampaikan kepada semua makhluk.

Leave a Comment

Related Post