Menelaah Riak-riak Radikal-Terorisme dalam Solidaritas Pro-Pakistan di Indonesia

Ahmad Khairi

07/05/2025

6
Min Read
Solidaritas Pro-Pakistan

On This Post

Harakatuna.com – Kawasan Asia Selatan tengah berdiri di tepi jurang perang. Pada Selasa (22/4), darah mengalir di Pahalgam, Kashmir, saat 26 wisatawan Hindu tewas dalam serangan teroris paling mematikan sejak Mumbai 2008. Hanya dalam hitungan hari, api konflik merambat cepat. India dan Pakistan saling menuding, menembakkan rudal, mengusir diplomat, menutup perbatasan, menutup aliran Sungai Indus, hingga dikhawatirkan akan menjadi pemantik Perang Dunia III.

Laporan mobilisasi militer di sepanjang Line of Control (LoC) membuat kawasan bersenjata nuklir itu ibarat petasan basah yang tinggal menunggu kering dan meledak. Selasa (6/5) kemarin, roket India menghantam sejumlah titik di wilayah Pakistan, menewaskan sedikitnya delapan orang. Berikutnya, tiga warga sipil India ikut meregang nyawa akibat penembakan dari seberang. Kedua negara kini sama-sama berdarah, dan dunia menahan napas.

Namun lebih mencemaskannya lagi ialah, gema konflik India-Pakistan merambat jauh hingga ke dalam ruang medsos masyarakat Indonesia. Solidaritas terhadap Pakistan, yang idealnya karena empati geopolitik, justru menjelma simpati ideologis—di mana agama, identitas, dan doktrin jihad mulai digaungkan tanpa filtrasi. Di TikTok, misalnya, muncul dua kubu: pro-India dan pro-Pakistan. Kelompok terakhir ini membawa narasi Ghazwatul Hind, nubuat perang suci melawan India.

Netizen membawa narasi tersebut berdasarkan mimpi Muhammad Qasim, pria Pakistan yang mengklaim dapat ratusan mimpi kenabian dan ramalan ilahiah. Dalam mimpinya, Qasim menggambarkan Pakistan sebagai pusat kebangkitan Islam global dan medan perang akhir zaman melawan dajal serta musuh-musuh Islam—termasuk India.

Qasim mengaku, Allah dan Nabi Saw. telah menunjuknya secara spiritual untuk menyampaikan kabar bahwa Pakistan akan bangkit, menang dalam Ghazwatul Hind, dan memimpin umat Islam dunia setelah Arab Saudi dan Turki menjadi proksi Barat. Mimpi-mimpinya, yang tersebar luas di medsos telah menjangkau ribuan umat Muslim Indonesia yang merindukan kemuliaan Islam, namun tanpa sadar terseret pada romantisasi militerisme yang mengkhawatirkan.

Mengapa? Sebab, apa yang tampak sebagai solidaritas agama itu, bisa berubah jadi kanal cuci otak. Narasi ‘perang akhir zaman’, ‘musuh Islam’, atau ‘kebangkitan dari Pakistan’ membuka jalan infiltrasi ideologi radikal-teror ke masyarakat yang awam dan mudah terhasut. Saat Pakistan disebut sebagai markas akhir para mujahidin dan India dituduh sebagai representasi kekufuran, maka benih teror tumbuh subur di balik nubuat palsu, dan umat Islam Indonesia juga ikut terprovokasi.

Karena itu, Indonesia mesti waspada. Konflik India-Pakistan merupakan cermin bahwa konflik luar negeri bisa menyulut bara dalam negeri. Apalagi jika disulut oleh mimpi-mimpi yang dipoles jadi nubuat—bahkan wahyu. Jika dibiarkan, solidaritas semu semacam itu akan menjadi pintu masuk radikal-terorisme. Propagandanya terjadi dalam bentuk thread, caption, dan video provokatif. Dan umat Islam di negara ini lupa fakta sejarah penting, bahwa Pakistan pernah menjadi proksi teroris.

Solidaritas Semu yang Dibawa Provokator

Konflik India-Pakistan jauh lebih ramai dan gaduh di medsos ketimbang media berita yang mainstream. Beberapa orang, termasuk influencer, ikut memosisikan diri sebagai pendukung Pakistan, menggelorakan narasi solidaritas atas dasar kesamaan agama. Mereka menyerukan dukungan karena Pakistan dianggap representasi umat Islam yang tertindas oleh negara mayoritas non-Muslim. Konflik pun jadi hitam-putih: Islam versus musuh Islam.

Retorika yang beredar juga menyelipkan diksi-diksi agresif mirip jargon kelompok radikal. Narasi ‘jihad melawan musuh Islam’ muncul bersisian dengan quotes keagamaan yang dicomot di luar konteks. Solidaritas kemanusiaan tereduksi menjadi instrumen mobilisasi emosi sektarian, dan ruang publik diubah jadi arena agitasi kebencian. Di tengah narasi pro-kontra tersebut, nyaris tak ada ruang untuk menganalisis riak-riak radikal-teroris sebagai provokator perang.

Tak jarang, netizen yang kontra-Pakistan dicap ‘pengkhianat umat’. Terjadi radikalisasi wacana yang meresahkan: ketika solidaritas jadi alat polarisasi sosial dan penghasutan, bukan jembatan empati dan penyelesaian konflik. Ada yang sengaja mengompori publik dengan narasi pemecah-belah, mengesankan bahwa setiap konflik yang melibatkan umat Muslim merupakan panggilan suci untuk bersatu, tanpa peduli pada kompleksitas masalah dan motif konflik itu sendiri.

Solidariras semu semacam itu di Indonesia telah berulang kali dimanfaatkan para radikal-teroris sebagai pintu masuk perluasan pengaruh ideologis mereka. Solidaritas Palestina, Suriah, Rohingya, dan kini Pakistan, kerap dijadikan kendaraan untuk mendiseminasi intoleransi, glorifikasi ekstremisme, hingga mobilisasi massa berbasis sentimen keagamaan. Dalam konflik India-Pakistan, sentimennya sektarian dan permusuhan lintas agama, sehingga risikonya lebih nyata.

Netizen Indonesia lupa satu hal: solidaritas adalah hak, bahkan kewajiban moral, tetapi jika dibangun di atas hasutan dan kebencian, maka ia akan memantik konflik domestik. Ketika konflik luar negeri dijadikan panggung ekspresi kebencian dalam negeri, dan ketika agama dipakai untuk membakar sentimen sektarian, maka yang lahir bukan solidaritas, melainkan simulakra solidaritas—empati palsu yang diselubungi agenda ideologis.

Pakistan dan Histori Radikal-Terorisme

Selama dua dekade terakhir, Pakistan dikenal sebagai tanah subur bagi tumbuh dan berkembangnya berbagai organisasi radikal-teror. Jika hari ini muncul dukungan terhadap Pakistan atas nama solidaritas Islam, maka nalar publik perlu dibuka untuk menyadari bahwa negara yang sedang mereka sanjung itu justru menyimpan sejarah kelam sebagai episentrum jaringan teror global. Masih ingat Al-Qaeda dan pemimpin tertingginya, Osama bin Laden?

Pasca tragedi 9/11, perhatian dunia tertuju pada Pakistan karena Osama, pemimpin Al-Qaeda, terbukti bersembunyi di Abbottabad, kota garnisun militer Pakistan. Di sana, Osama sembunyi selama bertahun-tahun, sebelum akhirnya tewas dalam operasi militer AS pada 2011. Fakta bahwa tokoh teroris paling dicari di dunia hidup tenang di dekat akademi militer Pakistan menimbulkan pertanyaan serius: sejauh mana Pakistan terlibat dalam pembiaran teroris?

Tidak hanya Al-Qaeda, Pakistan juga dikenal sebagai rumah bagi Lashkar-e-Taiba, kelompok militan yang bertanggung jawab atas serangan Mumbai 2008 dan menewaskan lebih dari 160 orang, termasuk warga asing. Pada saat yang sama, kebijakan ganda Pakistan selama ini memperkeruh situasi. Di satu sisi, pemerintahnya mengaku mitra perang melawan terorisme, khususnya dalam mendukung operasi NATO di Afghanistan.

Namun, di sisi lain, sejumlah faksi militer dan dinas intelijen Pakistan, khususnya Inter-Services Intelligence (ISI), secara aktif melindungi atau mendukung kelompok militan sebagai strategi menghadapi India dan memengaruhi Afghanistan. Kebijakan ambigu itu menjadikan Pakistan problematik dalam kontra-terorisme global. Banyak kelompok radikal yang diberi ruang eksistensial, selama tidak menyerang kepentingan domestik.

Relasi Pakistan dengan kelompok radikal-teror merupakan sejarah kelam yang dampaknya nyata hingga hari ini. Serangan di Pahalgam pada April kemarin juga dituding India sebagai ulah kelompok teroris Pakistan. Kendati Islamabad membantah, preseden historis menunjukkan bahwa tuduhan itu memiliki dasar yang jelas. Jaish-e-Mohammed dan Hizbul Mujahideen, misalnya, adalah kelompok jihadis dan militan separatis yang aktif bergerilya di Jammu dan Kashmir.

Mereka menggunakan jargon-jargon agama untuk membenarkan kekerasan dan menjustifikasi aksi teror terhadap warga sipil. Apakah netizen Indonesia yang pro-Pakistan tahu fakta tersebut? Jelas tidak. Itulah ironisnya. Netizen juga tidak akan tahu, bahwa masyarakat Pakistan sendiri tak jarang jadi korban serangan bom bunuh diri dan aksi teror lainnya yang dilakukan kelompok radikal-teroris di tanah mereka sendiri. Teroris tidak pernah mewakili umat Islam, dan Pakistan juga demikian.

Indonesia seharusnya belajar dari jejak sejarah tersebut. Ketika sebagian netizen dengan gegap gempita menyuarakan pro-Pakistan tanpa memahami fakta historis, yang terjadi ialah pencucian sejarah kelam dari radikal-terorisme itu sendiri. Buruknya lagi, jika wacana itu dikapitalisasi kelompok radikal di tanah air, maka Indonesia akan mengulang pola lama; ketika anak mudanya bergabung ke Suriah atas nama ‘jihad’ palsu. Waspadalah dengan riak-riak radikal-terorisme dalam solidaritas pro-Pakistan!

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Leave a Comment

Related Post