Mendobrak Kejumudan dalam Beragama

Jamalul Muttaqin

13/05/2018

3
Min Read

On This Post

Agama Islam sebagaimana yang diungkap oleh seorang pemikir Mesir Amir Syakib Arsalan, Li-madza ta’akhkhara al-muslimun wa li-madza taqaddama gairuhum, menjadi alasan yang sangat penting lahirnya gerakan Islam revisionis, dalam kitab tersebut mensinyalir bahwa keterpurukan agama Muhammad akhir-akhir ini berada pada soal perpecahan umat, dekadensi moral hingga peran api Islam yang makin redup.

Pernyataan seorang pemikir Mesir seperti Amir Syakib Arsalan membuat kita merenung sejenak, membuat ummat muslim terkagum atas belbagai prestasi yang dicapai oleh kesarjanaan Barat. Syahdan, banyak bermunculan gagasan-gagasan segar lahir dari para pemikit orientalis yang justru mematikan nalar kritis ummat Islam. Sedangkan kita masih disibukkan dengan hingar bingar lahirnya ustadz-ustadz fenomenal yang semakin membuat orang muslim sempit dalam berpikir. (hlm. x).

Sebagai seroang pemikir Islam Indonesia, nama Mun’im Sirry sebenarnya tidak asing lagi di telinga kita, pemikirannya senantiasa kerap merevisi pandangan-pandangan yang sudah mapan. Melalui Islam revisionis, dosen Universitas Dame, USA ini, mengajak umat muslim selangkah lebih maju—untuk memperbaharui pemahaman, pemikiran, dan wawasan umat Islam di Indonesia. Layaknya, Mun’im Sirry tampil menyeimbangi para pemikir Barat yang sangat kritis menyerang Islam.

Sebagai seorang yang mengenyam pendidikan  pesantren, Mun’im Sirry menurut Fachry Ali memiliki semangat corak pemikir Islam yang neomodernisme, sebuah wacana intelektual yang berusaha mengintegrasikan dua corak pemikiran yang seolah-olah bertentangan; modernisme dan tradisionalisme.

Namun, bukan Mun’im Sirry namanya jika memandang agama Islam sebagai fenomena yang kaku dan stagnan. Dalam buku Revisionis senada dengan buku W. Hugher, Theorizing Islam: Disciplinary Decontruction and Reconstruction, yang menggambarkan betapa pentinggnya pemikiran kritis untuk digelorakan agar kajian Islam terus bergerak maju melahirkan sudut pandang yang pada titik akhir memperkaya disiplin Islamic Studies. Pada saat itulah menurut Mun’im Sirry, diperlukan ketebukaan untuk menyerap semangat zaman.

Wacana Islam revisionis Mun’im Sirry dimulai dari membincangkan Islam pada masa awal yang berhubung dengan pembacaan historis yang kritis, dan dilanjut dengan pergumulan modernisme yang menjadi perbincangan di kalangan akademik Islam. Bagian ketiga, menelaah kekerasan dan zaman radikal dari belbagai sumber agama yang dilihat dari perspektif Islam, dan bagian yang keempat tentang dialog dan perbedaan antara Islam dan Kristen tentang Iman dan Tuhan, hingga pada keragaman agama sebagai salah satu sunnatullah di muka bumi. (hlm. 270).

Pada buku ini, kumpulan tulisan semangat revisionisme Mun’im Sirry, dapat dijumpai nyaris di belbagai tulisannya. Sesuai dengan kapasitas seorang pemikit revisionis, di sini menilai bahwa Islam bukan sesuatu yang ajeg, konstan dan statis. (hlm. xi), dari situlah semangat mendobrak kejumudan dalam ber-Islam mendapatkan angin segar yang ditiupkan oleh kesarjanaan revisionis seperti Mun’im Sirry. Selamat membaca!

Leave a Comment

Related Post