Mendalami Tafsir dengan Semangat Moderasi

Dr. (c) Khalilullah, S.Ag., M.Ag.

23/09/2024

3
Min Read
moderasi

On This Post

Harakatuna.com Pagi ini, saya mendampingi mahasiswa studi Tafsir Al-Qur’an yang sedang belajar di Pesantren Bayt Al-Qur’an Pondok Cabe. Menariknya, para mahasiswa ini berasal dari kampus yang berbeda: UIN Tulungagung, UIN Samarinda, dan IAIN Kediri. Perbedaan latar belakang kampus ini bukan hanya sekadar variasi geografis, tetapi juga mencerminkan beragam budaya, nilai, dan pendekatan akademik yang mereka bawa.

Keberagaman ini menambah dimensi dalam pembelajaran, di mana setiap mahasiswa tidak hanya belajar dari materi yang diajarkan, tetapi juga dari pengalaman dan perspektif teman-teman mereka. Diskusi antar mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah ini memungkinkan mereka untuk saling berbagi pengetahuan dan pandangan, menciptakan suasana yang kaya akan wawasan.

Lebih dari sekadar keberagaman latar belakang, motivasi mahasiswa untuk belajar kepada Profesor Quraish Shihab—tokoh tafsir yang dikenal luas di Indonesia—sangat mengesankan. Peminat studi tafsir pasti familiar dengan Tafsir Al-Mishbah karya beliau. Buku ini bukan hanya sekadar teks akademik; ia telah menjadi rujukan penting bagi banyak orang yang ingin memahami Al-Qur’an secara mendalam. Ketertarikan untuk berguru kepada Quraish Shihab menunjukkan bahwa mahasiswa ini memiliki komitmen yang kuat untuk mendalami ilmu tafsir di bawah bimbingan seorang yang telah terbukti kualitasnya.

Lalu, mengapa harus belajar kepada Quraish Shihab? Gagasan-gagasan yang beliau bangun dalam menafsirkan Al-Qur’an selalu mengedepankan nilai-nilai moderasi. Moderasi menekankan pentingnya keragaman dalam memahami kebenaran, yang menunjukkan bahwa kebenaran bukanlah satu, tetapi beragam dan kontekstual. Pendekatan ini sangat relevan dalam konteks sosial kita saat ini, di mana perbedaan sering kali menjadi sumber konflik.

Quraish Shihab sering menegaskan bahwa pernyataan yang tampaknya berlawanan bisa sama-sama benar. Misalnya, dalam konteks kehadiran dan ketidakhadiran, kedua pernyataan “Si A hadir” dan “Si A tidak hadir” dapat dianggap benar tergantung pada konteks yang diacu. Hal ini mengajarkan kita pentingnya memahami situasi dan sudut pandang orang lain, serta menumbuhkan sikap toleransi dalam berinteraksi dengan perbedaan.

Dalam konteks agama, pandangan Quraish Shihab membantu kita memahami keberagaman keyakinan. Ia menekankan bahwa kita tidak boleh menyalahkan atau menyesatkan keyakinan orang lain hanya karena berbeda. Setiap keyakinan memiliki klaim kebenarannya sendiri yang harus dihormati. Dalam dunia yang semakin terfragmentasi ini, sikap saling menghormati dan terbuka terhadap pandangan yang berbeda adalah hal yang sangat penting.

Keterbukaan terhadap kebenaran juga merupakan nilai penting dalam moderasi. Quraish Shihab sering mengutip pendapat dari berbagai agama dan mazhab dalam karyanya. Ia meyakini bahwa kebenaran tidak hanya terbatas pada satu tradisi atau pandangan. Dengan demikian, membatasi kebenaran pada satu agama atau mazhab adalah sikap yang eksklusif dan berpotensi berbahaya, karena dapat mengarah pada radikalisasi pemikiran.

Radikalisasi dalam berpikir dapat dikenali melalui ujaran kebencian, pengkafiran, dan klaim negatif terhadap orang lain. Sementara itu, radikalisasi dalam bertindak dapat terlihat dari aksi-aksi terorisme yang membahayakan jiwa dan lingkungan. Ini jelas bukan bagian dari ajaran Islam yang mengedepankan nilai-nilai rahmat dan kasih sayang bagi seluruh alam.

Kembali kepada motivasi mahasiswa yang berasal dari berbagai kampus untuk belajar kepada Quraish Shihab, ini adalah langkah yang tepat dalam memahami agama dengan benar. Mereka memilih guru yang tepat untuk membimbing mereka dalam memahami kompleksitas ajaran Islam, sehingga tidak tersesat dalam berpikir dan bertindak. Hanya seorang guru yang berpikir moderat yang dapat mengantarkan mereka pada jalan yang benar.

Sebagai penutup, mahasiswa tafsir yang memilih Quraish Shihab sebagai guru sangat beruntung. Mereka adalah penerus pemikiran beliau, dan penting agar mereka tidak terjebak dalam pemahaman yang keliru, seperti mengasosiasikan jihad dengan aksi teror. Dengan terus tergerak untuk belajar dari guru yang benar, termasuk Quraish Shihab di Jakarta, diharapkan mereka dapat menyebarkan pemikiran yang moderat dan rahmatan lil ‘alamin. Semoga upaya ini menciptakan generasi baru yang mampu membawa pesan damai dan toleransi di tengah masyarakat.[] Shallallahu ala Muhammad.

Leave a Comment

Related Post