Harakatuna.com – Tanggal 17 Agustus 2025, Indonesia baru saja menginjak dirgahayu ke-80 tahun semenjak merdeka pada tahun 1945. Jika pada tahun-tahun sebelumnya, Indonesia mengalami penjajahan oleh Barat seperti Belanda yang menjajah selama 350 tahun kemudian dilanjutkan dengan penjajahan Jepang selama 3 tahun lamanya. Bangsa Indonesia berperang melawan penjajah asing sebelum era kemerdekaan. Meskipun telah merdeka, bukan berarti Indonesia telah benar-benar bebas dari belenggu penjajah. Setelah proklamasi kemerdekaan pun, sejarah masih mencatat adanya perlawanan-perlawanan hingga saat ini.
Bisa kita bayangkan bagaimana perjuangan para pahlawan yang berdarah-darah mengorbankan seluruh waktu, tenaga, dan uang untuk mengupayakan Indonesia terbebas dari penjajahan. Sudah berapa banyak pahlawan dan keluarganya yang ikut tersiksa dan gugur karena penjajahan tersebut? Maka, kita harus memaknai bahwa kemerdekaan tidak boleh berhenti pada perjuangan para pahlawan-pahlawan saja.
Sebagai generasi penerus bangsa, menjadi kewajiban kita untuk meneruskan perjuangan-perjuangan pahlawan agar bangsa yang kita jaga tetap terpelihara dan merdeka. Pada sisi yang lain, kita perlu meningkatkan kualitas bangsa dari “negara merdeka” menjadi negara yang maju dan mensejahterakan rakyatnya. Oleh karenanya, salah satu bentuk untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa adalah dengan mencintai tanah air.
Mencintai Tanah Air
Mencintai tanah air merupakan perasaan kasih, bangga, dan peduli terhadap tempat tinggal. Tanah air merupakan tempat di mana kita dilahirkan, dibesarkan, dan menjalani kehidupan sehari-hari bersama keluarga dan masyarakat. Rasa cinta tanah air tumbuh karena adanya ikatan yang kuat dengan lingkungan, budaya, serta orang-orang di sekitar kita.
Seseorang yang memiliki cinta kepada tanah air akan berusaha menjaga dan merawat negerinya. Ia akan ikut berperan dalam menciptakan kedamaian, kebersihan, dan ketertiban. Ia juga menghormati aturan yang berlaku, menghargai perbedaan, serta berupaya menjadi warga yang bermanfaat. Seluruhnya dilakukan karena adanya rasa tanggung jawab dan rasa memiliki terhadap tanah tempat ia hidup.
Dalam ajaran Islam, cinta tanah air juga merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah atas nikmat tempat tinggal yang aman dan nyaman. Seorang muslim dianjurkan untuk mendoakan kebaikan bagi negerinya, ikut serta dalam membangun masyarakat, dan menjaga lingkungan agar tetap damai.
Rasulullah dan Ajaran Cinta Tanah Air
Cinta kepada tanah air menjadi hal penting dalam kehidupan seorang muslim. Rasulullah mengajarkan kepada umatnya untuk mencintai tempat tinggal dan negeri tempat mereka berasal. Hal ini terlihat dari sikap beliau terhadap Kota Makkah dan Madinah.
Makkah adalah kota yang mulia, tempat Ka’bah berada, dan tempat Rasulullah dilahirkan serta menghabiskan sebagian besar masa kecilnya. Namun, saat berdakwah beliau ditolak oleh sebagian besar kaum Quraisy. Beliau mendapatkan tekanan serta ancaman, sehingga beliau terpaksa meninggalkan Makkah dan hijrah ke Madinah.
Meskipun begitu, Rasulullah tidak pernah melupakan Makkah sama sekali. Bahkan, ketika hendak meninggalkan kota tersebut, beliau mengungkapkan perasaannya dengan sangat tulus. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, yang diriwayatkan dari Ibnu Hibban:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلْدَةٍ وَأَحَبَّكِ إِلَيَّ، وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُونِي مِنْكِ، مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ
Artinya, “Dari Ibnu Abbas ia berkata, Rasulullah bersabda, ‘Alangkah baiknya engkau (Makkah) sebagai sebuah negeri, dan engkau merupakan negeri yang paling aku cintai. Seandainya kaumku tidak mengusirku dari engkau, niscaya aku tidak tinggal di negeri selainmu” (HR Ibnu Hibban).
Dalam hadis tersebut, Rasulullah mengungkapkan bagaimana beliau sangat mencintai kota Makkah. beliau menunjukkan bagaimana beliau tidak akan berpaling dari kota Makkah jika beliau tidak diusir oleh kaumnya. Pada riwayat hadis yang lain juga berbunyi:
اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ
Artinya, “Ya Allah, jadikan kami mencintai Madinah seperti cinta kami kepada Makkah, atau melebihi cinta kami pada Makkah.” (HR al-Bukhari 7/161)
Hadis tersebut merupakan doa Rasulullah setelah hijrah dari Makkah. Rasulullah menetap di Yatsrib yang sekarang dikenal sebagai Kota Madinah. Di Kota Madinah, Rasulullah membangun kehidupan bersama kaum muslimin dan menanamkan rasa cinta yang besar kepada Kota Madinah. Beliau memanjatkan doa kepada Allah agar Madinah dicintai sebagaimana beliau mencintai Makkah, bahkan lebih.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih Bukhari juz 3 halaman 23,
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ، عَنْ حُمَيْدٍ، عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، «أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ، فَنَظَرَ إِلَى جُدُرَاتِ المَدِينَةِ، أَوْضَعَ رَاحِلَتَهُ وَإِنْ كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا
Artinya, “Ketika Rasulullah hendak datang dari bepergian, beliau mempercepat jalannya kendaraan yang ditunggangi setelah melihat dinding Kota Madinah. Bahkan beliau sampai menggerak-gerakan binatang yang dikendarainya tersebut. Semua itu dilakukan sebagai bentuk kecintaan beliau terhadap Tanah Airnya. ” (HR Bukhari).
Hadis tersebut mengisahkan betapa besar rasa cinta Rasulullah kepada Kota Madinah yang setiap kali Rasulullah kembali dari perjalanan jauh dan melihat dinding-dinding Kota Madinah, beliau mempercepat laju hewan tunggangannya. Karena hal itulah beliau sangat merindukan dan ingin segera sampai di Kota Madinah.
Mencintai Tanah Air Sebagai Bagian dari Iman
Berdasarkan hadis-hadis tersebut, maka dapat kita simpulkan bahwa mencintai negeri sendiri merupakan manifestasi dari mengikuti ajaran Rasulullah. Beliau menunjukkan rasa cintanya yang dalam kepada Makkah dan Madinah sebagai tempat tinggal dan perjuangan. Bahkan beliau memberikan pesan bahwa bentuk mencintai tanah air merupakan bagian dari Iman.
Melalui sikap mencintai tanah air, kita sebetulnya sedang berterima kasih kepada Allah atas nikmat keamanan dan kenyamanan yang diberikan. Rasa cinta tanah air harus terus kita wujudkan dengan menjaga kedamaian, kebersihan, persatuan, dan ikut membangun bangsa agar maju. Sebagai generasi penerus bangsa, kita memiliki kewajiban untuk meneladani Rasulullah dengan cara menjaga nilai-nilai baik dalam masyarakat dan bekerja sama membangun Indonesia yang lebih baik. Sehingga perjuangan para pahlawan tidak sia-sia dan tanah air tetap terjaga.
Referensi
Arifin, S. (2023). Khutbah Jumat: Mencintai Tanah Air Teladan Rasulullah. [online] NU Online. Available at: https://jombang.nu.or.id/khutbah/khutbah-jumat-mencintai-tanah-air-teladan-rasulullah-0EDy1 [Accessed 18 Aug. 2025].








Leave a Comment