Judul: 3726 MDPL, Pengarang: Nurwina Sari, Tahun Terbit: 2025, Penerbit: Romancious, Kota Penerbit: Jakarta, Cetakan Kelima: Februari 2025, Tebal: 280 Halaman, ISBN: 978-623-310-259-9, Peresensi: Dyah Ayufitria Riskaputri Nandayanti.
Harakatuna.com – “Seperti 3726 MDPL, selalu butuh waktu yang lama untuk mendapatkan sesuatu yang indah.” Kalimat tersebut menjadi salah satu kutipan kunci dari novel 3726 MDPL yang secara simbolis merangkum inti cerita bahwa cinta dan pencapaian hidup tidak bisa dipaksakan, melainkan ditempuh dengan kesabaran dan perjuangan. Dalam dunia yang serba instan, novel ini memberikan narasi yang bertolak belakang mencintai dalam diam, berjalan pelan, namun tetap setia pada arah tujuan.
Novel karya Nurwina Sari ini menawarkan roman yang tak biasa. Tidak dibalut konflik besar atau romansa dramatis. 3726 MDPL justru menghadirkan keheningan yang dalam tentang perasaan yang tumbuh tanpa suara, tentang rindu yang tak tersampaikan, dan tentang proses yang perlahan tapi bermakna. Dengan latar kehidupan mahasiswa kehutanan dan pendakian ke Gunung Rinjani, novel ini juga menjelma menjadi perjalanan batin, akademik, dan spiritual seorang tokoh muda menuju kedewasaan.
Dalam khazanah sastra remaja dan dewasa muda, buku ini menempati ruang yang khas: menggambarkan cinta sebagai relasi antarmanusia sekaligus proses pendewasaan diri. Keberadaannya penting untuk menjadi pembanding dari novel-novel populer remaja yang seringkali lebih mengedepankan konflik dan drama dibanding kedalaman rasa.
Novel 3726 MDPL mengisahkan perjalanan batin dan cinta seorang mahasiswa kehutanan bernama Rangga Raja. Sejak awal kuliah, Rangga telah menyimpan perasaan kepada seorang adik tingkatnya bernama Andini Hangura. Ia jatuh cinta bukan karena rupa, melainkan karena ketenangan dan kebaikan hati yang terpancar dari Andini. Namun, cinta itu tidak pernah ia ungkapkan secara langsung.
Rangga memilih mencintai dalam diam, selama bertahun-tahun, dengan cara yang sederhana, dengan mengirim pesan ulang tahun setiap tahun, menyimpan foto, dan menyebut Andini dalam doanya. Sebagai mahasiswa aktif, hidup Rangga dipenuhi rapat organisasi, kegiatan lapangan, praktikum hutan, serta perjuangan menyelesaikan skripsi. Meskipun begitu, pikirannya selalu kembali pada Andini, seseorang yang terus hidup dalam diamnya.
Kisah mulai berkembang ketika Rangga mendapat balasan dari Andini setelah sekian lama hanya mengirim pesan sepihak. Mereka mulai berinteraksi lewat pesan singkat, percakapan ringan, dan saling menyapa di kampus. Walau hubungan mereka belum jelas arahnya, Rangga merasa ada harapan kecil yang tumbuh. Puncak dari hubungan emosional mereka terjadi ketika keduanya mengikuti pendakian ke Gunung Rinjani bersama teman-teman grup ‘Manusia’. Perjalanan ke Rinjani menjadi pengalaman spiritual tersendiri bagi Rangga. Gunung setinggi 3726 meter di atas permukaan laut itu menjadi simbol dari perasaannya, tinggi, sunyi, namun ia tetap berjuang untuk mendaki dan mencapai puncaknya.
Sepulang dari pendakian, hubungan mereka menjadi lebih dekat. Rangga menyelesaikan skripsinya dengan susah payah. Meski sempat mengalami keraguan dan tekanan mental, akhirnya Rangga lulus sidang skripsi dan meraih gelar S.Hut. Namun, bukan berarti cintanya langsung berbuah manis. Rangga menyadari bahwa hidup tidak selalu sesuai rencana. Meskipun akhir cerita tidak ditutup dengan pernyataan cinta atau hubungan resmi, kisah ini membiarkan pembaca menyimpulkan bahwa cinta Rangga bukan lagi sepihak. Ada benih yang mulai tumbuh, mungkin lambat, tapi hangat dan penuh harapan.
Novel ini sangat relevan dengan kehidupan mahasiswa masa kini. Tema seperti quarter life crisis, tekanan akademik, cinta yang tidak bisa diungkapkan, dan pencarian arah hidup menjadi bagian yang kuat. Di tengah gaya hidup yang serba cepat dan penuh tuntutan ekspresi, 3726 MDPL hadir sebagai pengingat bahwa kesunyian pun bisa bermakna.
Di Balik Sunyi dan Simbol
Salah satu kelebihan utama dari novel 3726 MDPL, karya Nurwina Sari adalah penggunaan gaya bahasa yang reflektif dan puitis, yang sangat terasa mulai awal cerita hingga akhir. Penulis menyampaikan peristiwa, juga membawa pembaca masuk ke dalam ruang batin tokoh utama, Rangga Raja. Gaya naratif itu sejalan dengan konsep prosa liris, yaitu gaya penulisan fiksi yang mengutamakan ekspresi emosional tokoh daripada peristiwa eksternal.
“Seperti 3726 MDPL, selalu butuh waktu yang lama untuk mendapatkan sesuatu yang indah,” (hlm. 10).
Kalimat tersebut menjadi kutipan estetis dan simbol perjalanan cinta serta kehidupan tokoh yang panjang. Dalam konteks ini, Gunung Rinjani dijadikan sebagai metafora perjuangan batin yang mendalam, melambangkan ketabahan, kesabaran, dan ketulusan cinta Rangga yang dijalani dalam diam selama bertahun-tahun.
Kelebihan lain terdapat pada karakterisasi tokoh yang realistis dan dekat dengan kehidupan mahasiswa masa kini. Rangga digambarkan sebagai mahasiswa Fakultas Kehutanan yang sedang menghadapi tekanan skripsi, beban organisasi, serta kegelisahan emosional yang tidak pernah benar-benar ia ungkapkan.
Karakter ini relevan dengan fenomena quarter life crisis sebagaimana dibahas dalam psikologi perkembangan dewasa muda, di mana seseorang mengalami kecemasan terhadap masa depan, pencapaian pribadi, dan makna relasi sosial. Cinta Rangga kepada Andini adalah bentuk afeksi yang tidak agresif, namun konsisten dan tulus. Tokoh ini mewakili generasi yang tidak mudah mengekspresikan perasaan, tetapi tetap menyimpan harapan dalam batasan sopan dan hati-hati.
“An, dekat atau jauh, senang lo selalu gue doakan,” (hlm. 34).
Kutipan tersebut memperlihatkan kekuatan cinta yang tidak bersuara, tapi sangat hidup dalam hati.
Dari sisi teknik penulisan, Nurwina Sari juga berhasil memanfaatkan simbolisme alam dengan sangat baik. Gunung Rinjani bukan sekadar latar tempat, tetapi dijadikan sebagai simbol utama perjalanan hidup dan batin tokoh. Pendakian yang sulit, kabut yang menghalangi pandangan, dan puncak yang dingin namun menenangkan. Semuanya mencerminkan naik-turunnya emosi dan perjuangan Rangga dalam menyelesaikan studinya serta menyikapi perasaannya.
Penggunaan simbol ini dapat dianalisis menggunakan pendekatan ekokritik sastra, yang menempatkan alam sebagai cerminan psikologis manusia. Selain Rinjani, benda-benda seperti kompas, motor tua bernama Abu, dan sabana luas juga menjadi elemen simbolik yang memperkaya teks, membuatnya tidak saja bermakna secara naratif, namun juga filosofis.
Meski demikian, novel ini juga memiliki kelemahan. Secara struktural, alur cerita bergerak lambat dan dominan dengan monolog batin Rangga. Selain itu, sudut pandang yang sepenuhnya dari Rangga juga membuat pembaca kesulitan memahami kedalaman tokoh Andini. Perspektif naratif yang terlalu fokus pada satu sisi membatasi ruang eksplorasi hubungan dua arah, sehingga tokoh perempuan tidak berkembang secara optimal.
Padahal, jika narasi dibagi misalnya bab dari sudut pandang Andini, pembaca akan mendapat pemahaman yang lebih menyeluruh. Hal yang paling mengejutkan justru datang di bagian akhir novel. Ketika pembaca menyangka bahwa Rangga dan Andini akan bersatu, ternyata cerita berbelok. Ending ini membuyarkan harapan, namun justru menegaskan pesan moral novel bahwa cinta tidak selalu berakhir dengan memiliki, tetapi bisa selesai dalam bentuk penerimaan.
Dari perspektif psikologi eksistensial, keputusan Rangga melepaskan cinta yang ia perjuangkan bertahun-tahun adalah bentuk aktualisasi diri, ia tidak lagi terjebak dalam hasrat untuk memiliki, tetapi mencapai tahap “ikhlas” dan memahami bahwa cinta sejati kadang harus dilepas. Ending semacam ini tidak menawarkan klimaks bahagia yang klise, tetapi menggugah pembaca untuk bertanya pada dirinya sendiri, “apa arti cinta yang tidak sampai?”.
Bukan Tentang Memiliki
3726 MDPL adalah novel yang menawarkan lebih dari sekadar cerita cinta. Ia adalah catatan tentang perjalanan menemukan diri, mencintai tanpa pamrih, dan merawat harapan dalam diam. Dalam dunia yang serba cepat dan ekspresif, novel ini hadir sebagai ruang tenang untuk merenung bahwa cinta tidak harus gaduh untuk jadi nyata, dan tidak harus memiliki untuk bermakna.
Dengan kekuatan bahasa yang puitis, latar yang khas, dan narasi emosional yang jujur, Nurwina Sari menghadirkan karya yang layak menjadi teman perjalanan batin pembaca muda. Novel ini sangat direkomendasikan untuk mahasiswa, pembaca dewasa muda, pecinta alam, dan siapa pun yang pernah mencintai tanpa sempat menyatakan. Novel ini menempati tempat istimewa dalam khazanah fiksi mahasiswa yang reflektif dan bermakna.








Leave a Comment