Menangkal Eksploitasi Aksi Mahasiswa dari Penumpang Gelap Demokrasi

Agus Wedi

29/08/2024

3
Min Read
Menangkal Eksploitasi Aksi Mahasiswa dari Penumpang Gelap Demokrasi

On This Post

Harakatuna.com – Dalam aksi unjuk rasa mahasiswa kemarin, banyak yang menilai bahwa di antara mereka ada penumpang gelap. Dan memang betul, dalam setiap aksi memungkinkan ditunggangi oleh penumpang gelap (free rider). Ini karena, jalannya aksi tidak dilakukan semacam seleksi. Siapa pun boleh bergabung dan mengungkapkan haknya.

Fenomena penumpang gelap dalam demokrasi sah. Penumpang gelap ini biasanya diinisiasikan kepada kelompok yang tidak suka pada Indonesia. Mereka sering melucuti niat aksi bersih mahasiswa, menjadi kotor dan bahkan gagal. Bahkan terkadang mereka mengeksploitasi gerakan mahasiswa.

Penumpang gelap ini memanfaatkan demokrasi. Mereka bergerak atas dasar kebebasan berekspresi namun bertujuan untuk melakukan pemisahan diri dari wilayah NKRI, seperti dilakukan oleh KKB di Papua. Yang terpenting bagi kelompok ini adalah suku mereka bisa pisah dengan Indonesia, melalui apa pun caranya. Kadangkala kekerasan yang mereka pilih, tetapi berlindung di balik sistem demokrasi.

Penumpang gelap lain adalah kelompok yang ingin memisahkan dari sistem demokrasi Pancasila. Kelompok ini seperti HTI, FPI dan kelompok teroris. Kerjanya kelompok ini oposisi destruktif, yakni apa pun kebaikan yang diperoleh oleh Indonesia, di mata mereka tetap salah. Kerja-kerja pemerintah didelegitimasi dan melihat kerja pemerintah dari sisi negatifnya saja, karena itu selalu salah. Mereka juga menganggap bahwa setiap persoalan Indonesia karena sistem demokrasi dan Pancasila.

Bepura-pura Kritis, Padahal Apatis

Penumpang gelap berpura-pura menjadi bagian mahasiswa kritis. Mereka menolak kebijakan buruk pemerintah demi mendapat simpati publik. Sayangnya, mereka tidak benar-benar tulus dan ikhlas. Kepentingan mereka hanya melampiaskan kekecewaannya dan kemarahan, bukan semata memperjuangkan kepentingan rakyat.

Anehnya, semua gerakan mereka tetap terbungkus dengan semangat keagamaan. Kelompok radikal ini menjadikan agama sebagai senjata politik untuk menumbangkan Indonesia. Tujuan mereka hanyalah mendirikan negara Indonesia bersyariah.

Menariknya, mereka mengatakan itu secara terbuka dan terang-terangan. Dalam aksi kemarin, dalam tiap-tiap narasi dan spanduknya terpampang tujuan mereka: “Demokrasi Bangkrut, Solusinya Khilafah!”. Dengan toa mereka katakan bahwa semua masalah ini terjadi karena kebijakan pemerintah dan sistem Indonesia. Karena itulah mereka menganggap bahwa demokrasi Pancasila telah gagal. Solusinya adalah khilafah!

Bersih-bersih Penumpang Gelap

Penumpang gelap ini di tiap zaman akan selalu ada. Semua masalah akan dijadikan topik bahasan untuk mendelegitimasi pemerintahan yang sah. Bahannya adalah ketika isu-isu yang tengah mencuat ke permukaan kemudian dipelintir secara membabi buta, takutnya masyarakat terpancing ikut membagikannya.

Jika itu terus terjadi, dikhawatirkan menciptakan kekacauan sosial (social chaos). Dari kekacauan sosial akan berujung disintegrasi bangsa. Inilah bahaya sesungguhnya yang harus kita lawan. Karena itulah penting kiranya kita harus kritis pada para penumpang gelap itu sendiri.

Berbicara seperti ini bukan untuk mencari kambing hitam. Melainkan untuk membangun ekosistem demokrasi yang bersih dari kaum penumpang gelap. Mahasiswa harus rasional dan kritis, karena itu menjadi syarat utama mewujudkan demokrasi.

Bersih dari penumpang gelap dalam setiap aksi, adalah obat mujarab untuk membantu pemerintah menjalankan roda pemerintahan yang lebih aktif dan berkeadilan. Namun sebaliknya, setiap protes tetapi selalu disusupi oleh penumpang gelap, sikap politik masyarakat sipil (civil society) akan cacat dan malah mudah dimobilisasi demi kepentingan si penumpang gelap ini. Karena itu, ayo mulai sekarang kita lawan penumpang gelap.

Leave a Comment

Related Post