Menakar Evolusi Ekstremisme Kekerasan

Harakatuna

04/12/2025

4
Min Read
evolusi ekstremisme

On This Post

Harakatuna.com – Evolusi, dalam diskursus biologi, berarti perubahan pada sifat-sifat terwariskan suatu populasi organisme dari satu generasi ke generasi berikutnya. Perubahan-perubahan itu disebabkan oleh kombinasi variasi, reproduksi, dan seleksi.

Sifat-sifat yang menjadi dasar evolusi dibawa oleh gen yang diwariskan kepada keturunan suatu makhluk hidup dan menjadi bervariasi dalam suatu populasi. Lantas, apa makna evolusi, dan bagaimana ia terjadi, jika konteksnya adalah ‘ekstremisme’?

Evolusi ekstremisme kekerasan pada abad ke-21 berlangsung jauh lebih cepat daripada kemampuan sebagian besar negara untuk memahaminya. Jika ekstremisme konvensional menampakkan diri dalam bentuk organisasi ideologis berhierarki dengan kepemimpinan yang jelas, maka gelombang ekstremisme kekerasan hari ini berpijak pada jaringan desentralistik dan kerap kali tidak memiliki struktur formal.

Transformasi tersebut menjadikan ancaman sulit diidentifikasi, diukur, apalagi dicegah. Pada saat aparat masih sibuk memetakan sel dan organisasi ekstremis, radikalisasi telah berlangsung melalui algoritma dan koneksi psiko-sosial yang tersembunyi di balik layar ponsel. Anak-anak muda, dalam konteks ini, menjadi target prioritas. Ekstremisasi menyasar fondasi bangsa.

Perubahan paling drastis terjadi pada motif. Jika ekstremisme kekerasan pada dekade 2000-an masih banyak bertumpu pada narasi keagamaan, maka kini bidangnya melebar ke spektrum supremasi ras, nativisme, anti-negara, konspirasionisme, bahkan satanisme dan neo-Nazi. Australia menyebutnya ideologically motivated violent extremism (IMVE).

Dalam banyak kasus, motif-motif itu tidak berdiri sendiri. Fenomena tersebut melahirkan apa yang disebut pakar sebagai mixed violent extremism, ketika seseorang menyerap berbagai ideologi kekerasan tanpa komitmen tunggal, lalu memproduksinya kembali dalam bentuk yang tidak terduga dan, bahkan, mematikan.

Para analis Australia dan AS menemukan bahwa remaja yang terpapar propaganda neo-Nazi juga mengonsumsi konten satanisme dan narasi jihad global secara bersamaan, tanpa memahami batas kategoris di antaranya. Di titik itulah ekstremisme berhenti menjadi ‘keyakinan ideologis’ dan bertransformasi menjadi ‘ekspresi destruksi tanpa narasi tunggal’. Semula tampak mustahil, tetapi anak muda telah berada di dalamnya.

Selain motif, metode rekrutmen juga mengalami revolusi. Pada 2005, rekrutmen ekstremisme identik dengan pertemuan fisik, halakah tertutup, atau distribusi pamflet. Pada 2015, rekrutmen beralih ke media sosial dan kanal propaganda terpusat.

Namun pada 2025 proses itu digantikan oleh ruang digital yang tidak dirancang untuk ideologi sama sekali, yaitu game online seperti Roblox, forum game private seperti Discord, dan ekosistem meme yang mengaburkan batas antara hiburan dan ideologi.

Konten ekstremis kini hadir melalui estetika kekerasan, karakter permainan, soundtrack agresif yang memicu adrenalin, dan narasi naratif interaktif yang memicu keterikatan emosional sebelum kesadaran rasional bekerja. Rekrutmen bukan lagi proses meyakinkan seseorang untuk mengikuti ideologi A atau B, melainkan membawa seseorang pada titik di mana kekerasan tampak relevan, seru, dan bermakna. Alih-alih asyik, itu justru menakutkan.

Dimensi berikutnya adalah psikologi audiens. Tidak seperti generasi sebelumnya yang berideologi lebih mapan sebelum terlibat dalam ekstremisme, gelombang terkini menyasar kelompok rentan: remaja kesepian, korban bullying, anak dari keluarga broken atau fatherless, pelajar dengan kecemasan sosial, hingga mereka yang mencari identitas emosional di dunia digital.

Pelaku perekrutan menganalisis kerentanan emosi target melalui interaksi gaming atau obrolan daring, kemudian menyesuaikan narasi kekerasan sesuai ‘kesenjangan psikologis’ yang dimiliki korban. Aktivitas ekstremis hari ini tak lagi bertumpu pada indoktrinasi ideologi, melainkan pada rekayasa keterikatan emosional. Itulah mengapa anak berusia 12 tahun bisa menyerap narasi kekerasan jauh lebih cepat dibandingkan orang dewasa berusia 30 tahun.

Selain itu, evolusi ekstremisme kekerasan juga tampak pada pola operasional. Tidak lagi membutuhkan struktur organisasi, pelatihan militer, atau senioritas kader. Jaringan saat ini memfasilitasi lone actor, kelompok satu digit, atau sel longgar yang bekerja berdasarkan inspirasi semata tanpa komando, tanpa instruksi formal, tanpa rencana strategis.

Hal itu menghindari kesalahan generasi radikal-terorisme sebelumnya yang rentan dibongkar melalui infiltrasi, penyadapan, dan analisis hubungan sosial. Aksi kekerasan menjadi murah, cepat, dan terdesentralisasi. Algoritma hanya perlu mempertemukan orang-orang yang rentan dengan konten hiper-kekerasan, sisanya berkembang melalui kebutuhan afeksi, pencarian identitas, dan sensasi relevansi sosial. Bullying masuk di sini.

Evolusi ekstremisme kekerasan hari ini menghadirkan tantangan baru bagi negara. Kebijakan kontra-ekstremisme konvensional, yang meliputi penegakan hukum, pelarangan organisasi, dan penutupan situs propaganda, menjadi efektif hanya untuk ekstremisme konvensional. Ekstremisme generasi baru tidak membutuhkan organisasi dan tidak membutuhkan situs propaganda, sehingga tidak ada delik hukum yang bisa diperkarakan.

Penghapusan konten kekerasan di satu platform hanya memicu migrasi ke platform lain. Pelarangan simbol hanya melahirkan simbol baru. Penangkapan aktor hanya menciptakan martir digital. Perang ideologis tak bisa dimenangkan dengan pendekatan struktural apabila berbasis dunia yang telah kehilangan struktur.

Menakar evolusi ekstremisme kekerasan berarti mengakui realitas baru, bahwa ancaman saat ini tidak sekadar bermotif politik-agama, tetapi juga bermotif sosial-psikologis dan algoritmik. Perekrutan berlangsung bukan melalui logika, melainkan emosi. Ideologi kekerasan menyasar anak-anak muda yang kosong spiritualitas dan tengah mencari pegangan hidup.

Dalam evolusi ekstremisme kekerasan, anak-anak kini berada di garis tembak utama radikalisasi. Dunia keamanan, pendidikan, dan kebijakan publik harus menyesuaikan diri dengan lanskap ancaman yang bergerak secara vertikal, tak terduga, dan multimodal.

Tanpa pembacaan holistik dari seluruh stakeholder, respons negara akan selalu terpaut dua langkah di belakang ancaman yang ada. Jangan sampai itu terjadi. Ekstremisme, bagaimana pun evolusinya, harus diberantas hingga ke akar-akarnya.

Leave a Comment

Related Post