Harakatuna.com – Mahasiswa memang masuk kategori usia generasi remaja yang merupakan salah satu dari tiga kelompok paling rentan terpapar radikalisme-terorisme. Oleh karena itu, banyak orang menekankan kalau mahasiswa harus berjiwa kritis, moderat, dan adil dalam berpikir serta bertindak.
Cara utama untuk menjauhkan dari sikap khilafah radikal adalah ikut bagian dalam program kontraradikalisme atau deradikalisasi. Selanjutnya menerapkan dalam kehidupan sehari-hari dan memastikan bahwa sikap radikalisme jauh dari lingkungan kita.
Mencegah Khilafah Radikal
Negara telah memberikan strategi taktis untuk mencegah ajaran khilafah radikal di Indonesia. Salah satunya dengan program penguatan moderasi beragama. Moderasi beragama ini bukanlah paham, melainkan tata cara dan ajaran bagaimana seseorang bisa bersikap moderat, adil, dan martabat.
Untuk mahasiswa bisa belajar membaca dalam berbagai literatur seperti buku-buku yang dicetak oleh Kemenag RI. Buku-buku moderasi dan termasuk buku komik terbaru Kemenag RI berjudul ‘ModerArt’ membawa ini pesan moderasi beragama lebih mudah dipahami, khususnya oleh Gen-Z.
Bacalah buku yang berisi ajaran beragama yang lemah lembut, santun, dan tidak keras. Buku Kemenag RI layak dibaca oleh anak muda agar secara ideologi dan paham keagamaan terjaga. Berbeda dengan buku ciptaan aktivis khilfah yang selalu berisi dengan perang dan sentimen tentang demokrasi, Pancasila dan pluralisme.
Hari ini Kemenag RI selalu membuat buku-buku dari berbagai latar belakang penulis di Indonesia. Ini menunjukkan bahwa negara memang ingin memiliki perspektif berbeda dalam penguatan moderasi beragama untuk menghilangkan radikalisme.
Menakar Narasi dari Pegiat Khilafah
Dalam lima tahun ini, pegiat khilafah berupaya membentuk opini publik. Salah satunya dengan membuat tulisan, meme, buku dan narasi di ruang digital seperti Youtube website. Mereka membuat bahasa yang propaganda, seperti Sudah Waktunya Hijrah, Papua Butuh Kepemimpinan Islam, Curang demi Kekuasaan, Hal Lumrah dalam Politik Sekuler Demokrasi.
Untuk menakar narasi dari aktivis khilafah itu, narasi melawannya tidak boleh tunggal. Karena itulah sangat bagus jika banyak penulis memakai perspektif yang beragam. Ini dilakukan untuk penataan ulang tentang narasi bangsa dan paham agama agar sesuai dengan karakter keberagaman bangsa dan tidak berpotensi menimbulkan konflik dan perpecahan. Seperti narasi khilafah dan lainnya.
Narasi dari khilafah baik dari tulisan di media sosial dan buku serta kitab mereka isinya semuanya sungguh tidak benar dan berbahaya karena telah mengalihkan ajaran Islam ke tempat tidak mulia: radikal. Kita tahu Islam adalah din yang mengajarkan seluruh umat manusia untuk berbuat baik dan akan melahirkan kebaikan. Namun sebaliknya, Islam yang baik ini akan menghasilkan kemungkaran apabila dijalankan dengan penuh kekerasan seperti ajaran khilafah.
Banyak di masyarakat selalu menyebut diri itu adalah paham kaffah dan lainnya. Namun ketika dilihat ke lapangan, mereka sebenarnya melanjutkan jihad keras yang terbalik dari kaffah itu sendiri, yakni tidak rahmat bagi seluruh alam. Ini terjadi lagi-lagi karena dampak narasi paham khilafah.
Menjaga Keutuhan NKRI
Anehnya, aktivis khilafah ini justru mengadopsi paham radikal-ekstrem dalam pengaturan kehidupan berbangsa, bernegara, dan beragama. Mereka menganut: di bidang politik, lahir sistem hipokrit; di bidang sosial-budaya, lahir sistem monarki; lalu di bidang pendidikan, lahir sistem pendidikan radikal khilafah.
Dengan ajaran radikal oleh pegiat khilafah inilah lahir individu-individu yang keras, kejam dan penipu. Sehingga yang terjadi nantinya adalah menyengsarakan rakyat, mengancam keutuhan negara, dan menghancurkan Indonesia.
Oleh karena itu, ancaman nyata yang sebenarnya ialah paham khilafah. Paham ini menegaskan bahwa manusia sama seperti Tuhan. Tuhan selalu dibawa-bawa hanya “kedok” yang diciptakan untuk mengalihkan generasi bangsa jauh dari paham moderat, demokrasi, Pancasila dan keutuhan NKRI. Mari kita lawan siapa pun yang mengancam NKRI.








Leave a Comment