Menag Tekankan Integrasi Nilai Spiritual dan Sains di Perguruan Tinggi

Ahmad Fairozi, M.Hum.

24/03/2026

2
Min Read

On This Post

Harakatuna.com. Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dengan perkembangan sains dan teknologi dalam dunia pendidikan tinggi. Menurutnya, kemajuan ilmu pengetahuan harus tetap berpijak pada nilai-nilai agama agar membawa manfaat bagi kemanusiaan.
Hal tersebut disampaikan Nasaruddin saat meresmikan Fakultas Sains dan Teknologi di Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa pada Senin (23/3/2026).

Dalam sambutannya, Nasaruddin mengingatkan agar kemajuan teknologi tidak membuat manusia kehilangan arah secara spiritual. Ia menilai nilai-nilai agama harus menjadi pedoman dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

“Jangan sampai kita maju secara teknologi, tetapi kehilangan arah secara spiritual. Teknologi harus dipandu oleh nilai-nilai agama agar tetap memanusiakan manusia,” kata Nasaruddin.

Ia menekankan bahwa penguatan pendidikan berbasis sains dan teknologi perlu berjalan seiring dengan penguatan nilai keagamaan. Perguruan tinggi, menurutnya, memiliki peran penting dalam melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual. “Ilmu tanpa agama kehilangan arah, sementara agama tanpa ilmu kehilangan relevansi. Keduanya harus berjalan beriringan,” ujarnya.

Selain itu, Nasaruddin juga menyoroti pentingnya memperkuat kerukunan umat beragama melalui dialog lintas iman yang lebih substantif. Ia menilai dialog antarumat beragama tidak boleh sekadar menjadi agenda seremonial, melainkan harus melahirkan pemahaman dan kebijaksanaan bersama.

“Kita harus menghadirkan dialog yang berdampak, bukan sekadar pertemuan formal. Dialog harus melahirkan hikmah yang berakar pada nilai lokal dan berwawasan global,” tegasnya.

Lebih lanjut, Nasaruddin menegaskan bahwa moderasi beragama menjadi kunci penting dalam menjaga persatuan bangsa di tengah keberagaman masyarakat Indonesia. Ia menjelaskan bahwa moderasi bukan berarti mengurangi ajaran agama, melainkan mengelola cara beragama agar tetap berada di jalan tengah.

“Agama itu sudah sempurna. Yang perlu dimoderasi adalah cara kita beragama. Moderasi adalah upaya menjaga keseimbangan, menghargai perbedaan tanpa memaksakan keseragaman,” jelasnya.

Nasaruddin juga mengingatkan agar masyarakat menghindari dua kutub ekstrem dalam kehidupan beragama. Menurutnya, pemaksaan keseragaman dapat memicu radikalisme, sementara kebebasan tanpa batas berpotensi melahirkan sikap liberal yang berlebihan.

“Indonesia tidak dibangun di atas ekstremitas. Kita menjaga keseimbangan melalui nilai toleransi, komitmen kebangsaan, anti-kekerasan, dan penghormatan terhadap tradisi,” pungkasnya.

Leave a Comment

Related Post