Menag Ajak Umat Jaga Nilai Ramadan Setelah Idulfitri

Ahmad Fairozi, M.Hum.

24/03/2026

2
Min Read

On This Post

Harakatuna.com. Jakarta – Menteri Agama Nasaruddin Umar mengingatkan umat Islam untuk terus menjaga dan menginternalisasi nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan sehari-hari setelah Idulfitri. Menurutnya, keberhasilan menjalani Ramadan tidak hanya diukur dari intensitas ibadah selama bulan suci, tetapi juga dari konsistensi perilaku setelah Ramadan berakhir.

Hal tersebut disampaikan Nasaruddin dalam program “Memaknai Lebaran Bersama Menag Nasaruddin Umar” yang disiarkan Berita Satu dalam edisi khusus Idulfitri. Dalam kesempatan itu, ia menekankan pentingnya mempertahankan nilai-nilai yang telah dibangun selama Ramadan agar tidak hilang setelah bulan suci berlalu.

Menurut Nasaruddin, Ramadan merupakan proses pembentukan karakter yang menanamkan berbagai nilai keutamaan, seperti kejujuran, keadilan, kebersamaan, dan toleransi. Nilai-nilai tersebut, kata dia, harus terus dijaga dan diterapkan dalam kehidupan sosial masyarakat.

“Yang paling penting, nilai-nilai Ramadan itu harus dipatrikan dalam diri kita. Kejujuran, keadilan, kebersamaan, toleransi, dan sifat-sifat keutamaan lainnya jangan sampai hilang setelah Ramadan berlalu. Nilai-nilai itu harus terus tertanam dalam diri kita,” ujar Nasaruddin.

Ia menilai, konsistensi dalam menjaga nilai-nilai tersebut akan berdampak positif terhadap kualitas kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Jika semangat Ramadan mampu dipertahankan, masyarakat dinilai dapat menciptakan suasana yang lebih harmonis, damai, dan produktif.

“Kalau kita mampu mengikuti spirit Ramadan itu, maka kita akan menjadi produk Ramadan yang sangat sejuk, indah, cerah, dan mencerahkan,” kata dia.

Selain itu, Nasaruddin juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Ia mengimbau masyarakat agar tidak terjebak pada kepentingan sesaat yang berpotensi merusak kohesi sosial.

“Saya minta persatuan dan kesatuan. Jangan sampai kita terkecoh oleh satu kepentingan sesaat, lalu saling menyikut antar sesama warga bangsa. Itu akan melemahkan sendi-sendi kebangsaan kita,” ujarnya.

Menanggapi pertanyaan mengenai pentingnya memulihkan “fitrah kebangsaan”, Menag menegaskan bahwa sikap individualisme harus dihindari karena dapat menjadi racun dalam kehidupan berbangsa.

“Saya kira individualisme jangan sampai bersarang di hati dan pikiran setiap anak bangsa. Ini yang menjadi racun, ketika semua orang hanya mementingkan dirinya sendiri,” tuturnya.

Karena itu, menurut Nasaruddin, momentum Idulfitri seharusnya dimaknai sebagai titik awal untuk menjaga kesinambungan nilai-nilai Ramadan, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam hubungan sosial. Ia menegaskan bahwa Idulfitri tidak sekadar menjadi perayaan seremonial tahunan, tetapi juga momentum untuk memperkuat karakter dan persatuan bangsa.

Leave a Comment

Related Post