Judul Buku: Why Not Moderation? Letters to Young Radicals, Penulis: Aurelian Craiutu, Penerbit: Cambridge University Press, Kota Terbit: Cambridge, United Kingdom, Tahun Terbit: 2023, ISBN: 978-1108494953, Peresensi: Rahul Sagar.
Harakatuna.com – Di tengah suasana politik Amerika Serikat yang kian keras dan terpolarisasi, Aurelian Craiutu menghadirkan sebuah buku yang nadanya justru berlawanan dengan zamannya. Why Not Moderation? Letters to Young Radicals bukanlah pamflet ideologis, bukan pula seruan mobilisasi.
Ia adalah sebuah refleksi panjang tentang sebuah kebajikan yang lama dicurigai, bahkan dicemooh, baik oleh kaum kiri maupun kanan: moderasi. Craiutu mengajukan pertanyaan yang terdengar sederhana namun sesungguhnya mengguncang asumsi politik kontemporer: apakah moderasi masih relevan, atau justru telah menjadi penghalang bagi keadilan dan perubahan?
Buku ini ditulis sebagai serangkaian surat dan dialog imajiner kepada dua mahasiswa, Lauren dan Rob, yang masing-masing mewakili kemarahan kiri dan kepahitan kanan dalam politik Amerika saat ini. Keduanya datang dengan keluhan yang berbeda, tetapi berujung pada kesimpulan yang sama: demokrasi liberal telah gagal karena memberi ruang terlalu besar bagi pihak yang salah.
Institusi-institusinya dianggap rapuh, nilai-nilainya dianggap munafik, dan toleransinya dipandang sebagai bentuk kelemahan moral. Craiutu tidak menepis kegelisahan ini. Ia mengakui bahwa ada alasan nyata di balik kekecewaan tersebut. Namun, ia menolak lompatan logis yang sering menyertainya, bahwa ketidakpuasan terhadap praktik demokrasi liberal harus berujung pada penolakan terhadap legitimasi pandangan pihak lain.
Di sinilah posisi Craiutu menjadi jelas: demokrasi liberal tidak runtuh karena terlalu banyak kompromi, melainkan karena semakin sedikit orang yang bersedia hidup berdampingan dengan perbedaan yang sah.
Inti buku ini adalah upaya sistematis untuk membongkar kesalahpahaman tentang moderasi. Craiutu sadar bahwa istilah ini telah lama dibebani citra negatif sebagai sikap setengah hati, penanda ketiadaan prinsip, atau bahkan pengkhianatan terhadap keadilan. Ungkapan Barry Goldwater yang terkenal, bahwa ekstremisme dalam mengejar kebebasan bukanlah cela dan moderasi dalam mengejar keadilan bukanlah kebajikan, menjadi bayangan yang terus menghantui pembelaan Craiutu.
Namun, alih-alih menghindar, ia menghadapi tuduhan tersebut secara langsung. Moderasi, tegasnya, bukanlah sentrisme mekanis atau kompromi murahan. Ia adalah sebuah etos, sebuah cara berada dalam politik yang ditandai oleh kerendahan hati epistemik dan kesadaran akan keterbatasan manusia dalam memahami kebenaran moral secara utuh.
Secara filosofis, moderasi bertumpu pada pengakuan bahwa nilai-nilai luhur tidak selalu harmonis. Kebebasan, keadilan, kesetaraan, ketertiban, dan solidaritas sering kali saling bertabrakan. Politik, dalam pengertian ini, bukan arena pemurnian moral, melainkan ruang penimbangan yang terus-menerus.
Moderasi lahir dari skeptisisme moral yang sehat, bukan relativisme yang acuh, tetapi kesadaran bahwa keyakinan yang paling tulus sekalipun dapat membawa bencana ketika dilepaskan dari rasa ragu dan kehati-hatian. Sejarah, bagi Craiutu, memperkuat pelajaran ini. Kekerasan dan kehancuran hampir selalu muncul ketika satu pihak meyakini bahwa hanya merekalah pemilik sah keadilan, sementara pihak lain tidak lebih dari penghalang yang boleh disingkirkan.
Namun Craiutu tidak berhenti pada pembelaan normatif. Ia menyadari bahwa bagi banyak orang, terutama mereka yang tertarik pada gagasan-gagasan radikal, moderasi terdengar hambar dan tidak menggerakkan. Kekhawatiran inilah yang mendorongnya untuk menegaskan bahwa moderasi bukanlah sikap nyaman. Justru sebaliknya, dibutuhkan keberanian yang besar untuk tetap moderat di tengah lingkungan politik yang menghargai kemarahan, kepastian moral, dan sikap konfrontatif.
Moderat, tulis Craiutu, sering kali berdiri sendirian, diserang dari berbagai arah, dan dicurigai oleh semua kubu. Ia mengibaratkan keberanian moderat seperti seorang peniti tali, yang harus menjaga keseimbangan di atas jurang konflik tanpa jaring pengaman.
Dalam menggambarkan moderasi sebagai praktik yang hidup, Craiutu merujuk pada beragam tokoh dan tradisi, mulai dari Michael Oakeshott hingga George Washington, yang memahami politik sebagai seni membatasi diri dan menyesuaikan arah tanpa kehilangan kompas.
Moderasi, dalam pandangan ini, bukan penolakan terhadap perubahan, melainkan penolakan terhadap keyakinan bahwa perubahan hanya sah jika dilakukan secara total dan tanpa sisa. Ia menuntut disiplin karakter, kesabaran, dan kemampuan menahan dorongan untuk meraih kemenangan moral yang cepat.
Meski demikian, pembelaan Craiutu terhadap moderasi tidak sepenuhnya bebas dari masalah. Ketika buku ini beralih ke pertanyaan tentang prospek moderasi di Amerika Serikat hari ini, jawabannya terasa kurang memadai dibanding kedalaman refleksi sebelumnya. Craiutu menyarankan agar kaum moderat membangun pengaruh di dalam partai-partai besar dan menciptakan identitas politik yang menarik.
Moderasi, menurutnya, dapat menjadi ide yang magnetis dan kembali merekatkan jalinan kewargaan. Namun, saran ini mengandaikan bahwa demokrasi modern menyediakan lahan subur bagi tumbuhnya moderasi. Di sinilah keraguan muncul. Moderasi adalah kebajikan yang menuntut pendidikan karakter dan pengalaman panjang, sementara demokrasi elektoral sering kali memberi insentif pada sikap yang paling keras dan paling sederhana.
Pertanyaan yang paling mengganggu justru dibiarkan terbuka: bagaimana sebuah demokrasi yang ingin tetap moderat harus memperlakukan mereka yang secara aktif merusak norma moderasi? Tidak cukup mengatakan bahwa kaum imoderat adalah minoritas. Polarisasi yang kita saksikan justru menunjukkan sebaliknya.
Moderasi mungkin bersahabat dengan demokrasi, tetapi tidak jelas apakah demokrasi, dalam bentuknya yang sekarang, bersahabat dengan moderasi. Sejarah menunjukkan bahwa moderasi sering kali lahir dari pendidikan yang disipliner dan dari pengalaman pahit: perang, kehilangan, dan penderitaan, bukan semata dari pertukaran argumen rasional antar warga yang setara.
Dimensi emosional buku ini menjadi semakin terasa ketika dibaca sebagai karya seorang emigran dari Eropa Timur, seseorang yang tumbuh di bawah rezim non-liberal dan memahami betul harga yang harus dibayar ketika masyarakat menghancurkan institusi moderatnya sendiri.
Ada nada luka dan kecemasan dalam tulisan Craiutu, seolah ia menyaksikan sebuah pengulangan tragedi dalam bentuk yang berbeda. Ia tidak sedang berbicara dari menara gading, melainkan dari ingatan historis yang pahit. Pertanyaan implisitnya sederhana namun menghantui: apakah masyarakat Amerika sungguh memahami apa yang sedang mereka pertaruhkan?
Di bagian penutup, Craiutu tidak menawarkan jawaban yang menenangkan. Ia justru meninggalkan pembaca dengan kegelisahan tentang masa depan kaum moderat. Ke mana mereka akan pergi? Di mana mereka akan menemukan perlindungan dalam ruang publik yang semakin tidak ramah terhadap kehati-hatian dan pengekangan diri? Ketidakpastian ini memberi buku tersebut nada elegiak, seakan Why Not Moderation? bukan hanya pembelaan atas sebuah kebajikan, tetapi juga catatan tentang kemungkinan lenyapnya kebajikan itu sendiri.
Sebagai sebuah karya, buku ini kuat karena kejernihan moralnya dan kelebaran horizon intelektualnya. Kelemahannya terletak pada optimisme yang tersisa tentang kemampuan demokrasi modern untuk memelihara moderasi tanpa terlebih dahulu mengalami kehancuran yang mendidik. Ironisnya, buku ini mungkin tidak akan dibaca oleh mereka yang menjadi sasaran utamanya, para radikal muda yang memandang moderasi dengan curiga.
Namun justru karena itu, Why Not Moderation? layak dibaca oleh siapa pun yang masih peduli pada demokrasi liberal sebagai cara hidup bersama, bukan sekadar mekanisme memilih penguasa. Jika moderasi memang sedang berada di ambang kepunahan, buku ini akan dikenang sebagai salah satu pembelaan paling jernih tentang mengapa ia layak dipertahankan, dan betapa berat beban yang harus dipikul oleh mereka yang memilih tetap setia padanya.









Leave a Comment