Setiap kali ketemu teman, entah direncanakan atau kebetulan, seringkali yang diperbincangkan tentang salah satu dari tiga hal yang biasanya dikaitkan dengan takdir Tuhan. Tiga hal yang saya maksud adalah jodoh, usia, dan rezeki.
Seorang yang lama ngejomblo dan hepi dengan status singglenya ditanya: “Kenapa kamu nggak nikah? Emang ngejomblo itu menyenangkan?” Dia ngejawab dengan santai sambil menyunggingkan senyum: “Ini kan udah takdir.” Saya tercekat. Terdiam. Menelan ludah. Seakan dia pasrah banget berpangku tangan di atas Takdir Tuhan.
Saat yang berbeda saya bertemu dengan orang yang hidupnya susah banget. Makan aja sulit. Tempat tinggal juga nggak punya. Begitu ditanya: “Kenapa kamu melarat banget?” Dengan enteng dia jawab: “Gimana lagi, mas. Wong ini udah takdir.” Saat itu juga saya tidak berani menyanggah.
Saya jadi heran kenapa orang yang nestapa hidupnya selalu menghubungkan dengan takdir. Seakan Tuhan sengaja menjadikan mereka berdiri di atas nasib yang kurang menguntungkan. Seakan Tuhan jahat. Seakan Tuhan tidak adil. Dan seterusnya.
Saya muslim. Saya yakin Tuhan saya ar-Rahman dan ar-Rahim, Sangat Mencintai dan Sangat Menyayangi makhluk-Nya. Tiada satupun yang Tuhan bedakan. Tuhan tidak membedakan makhluk-Nya karena status agamanya, jenis kelaminnya, sukunya, bahkan nasabnya. Semua makhluk sama di sisi-Nya.
Masa depan manusia ada pada takdir yang dipilih oleh mereka sendiri. Jodoh itu takdir. Rezeki juga takdir. Siapa saja yang tidak menjemput jodohnya dan memilih menunggu, maka dia akan berada dalam takdir yang nestapa, yakni ngejomblo. Siapapun juga yang malas bekerja dan memilih menengadahkan tangan terus, niscaya takdir kemiskinan akan menjeratnya.
Semua pilihan yang ditentukan oleh manusia adalah takdir yang Tuhan restui. Jadi, jangan gampang nyalahin Tuhan. Karena, semuanya ada pada pilihan manusia sendiri. Tuhan senang hamba-Nya yang giat bekerja dan tak lupa berdoa. Karena kerja adalah bukti pengorbanan sebelum manusia memohon kepada-Nya.
Sejak ini ayo perbaiki cara pandang kita tentang takdir agar tidak terjebak dalam pemahaman yang keliru, sehingga menggiring pada pilihan yang keliru pula. Hidup hanya satu kali. Buat hidup itu berprestasi dengan karya yang dapat bermanfaat bagi orang banyak.[] Shallallah ala Muhammad.







