Membongkar Fondasi Zionisme: Telaah Kritis “The Myths of Zionism” karya John Rose

Cut Ammara Zahra

01/03/2026

9
Min Read
zionisme rose

On This Post

Judul Buku: The Myths of Zionism, Penulis: John Rose, Penerbit: Pluto Press, Tahun Terbit: 2004, Tanggal Publikasi: 11 Oktober 2004, Bahasa: Inggris, Tebal Buku: 248 halaman, Dimensi Buku: 5.25 × 0.62 × 8.5 inci, ISBN-10: 0-7453-2055-4, ISBN-13: 978-0-7453-2055-7, Peresensi: Cut Ammara Zahra.

Harakatuna.com – Ketika buku The Myths of Zionism terbit pada 2004, ia hadir bukan sebagai karya sejarah konvensional, melainkan sebagai intervensi politik yang sadar diri. Buku tersebut lahir dalam lanskap global yang dibentuk oleh Intifada Kedua, ekspansi permukiman Israel di Tepi Barat, pembangunan tembok pemisah, serta atmosfer pasca-9/11 yang memproduksi dikotomi keras antara “terorisme” dan “perang melawan teror.”

Kritik terhadap Zionisme dibungkam dengan tuduhan antisemitisme. John Rose memasuki arena ini dengan posisi yang tegas: antisemitisme adalah rasisme yang harus ditolak tanpa kompromi, tetapi Zionisme adalah ideologi politik modern yang wajib dikritik.

Buku ini bergerak dalam tradisi kiri Inggris yang kuat dalam analisis Marxis atas nasionalisme dan kolonialisme. Namun Rose tidak berdiri sendirian. Ia mengandalkan dan mengembangkan temuan para sejarawan Israel yang dikenal sebagai “New Historians” seperti Ilan Pappe dan Benny Morris, serta arkeolog seperti Israel Finkelstein. Dari mereka ia meminjam bahan mentah historiografis; dari tradisi kiri ia meminjam kerangka analisis ideologis. Hasilnya adalah sebuah buku yang tidak hanya mengoreksi detail sejarah, tetapi berupaya mengguncang fondasi naratif yang menopang negara Israel modern.

Secara struktural, buku ini dibangun seperti pembongkaran bertahap atas apa yang disebut Rose sebagai “mitos.” Ia tidak menggunakan istilah itu dalam pengertian cerita bohong sederhana, melainkan sebagai narasi pendiri yang memberi legitimasi moral dan historis pada sebuah proyek politik. Mitos, dalam pengertian Rose, adalah cerita yang terus-menerus diulang hingga menjadi kerangka persepsi kolektif. Dengan kerangka ini, ia menyasar beberapa pilar utama Zionisme.

Argumen pertama dan paling mendasar adalah bahwa Zionisme bukan kelanjutan alami dari sejarah Yahudi kuno, melainkan produk modernitas Eropa abad ke-19. Rose menempatkan Zionisme sejajar dengan nasionalisme etnis lain yang muncul di tengah runtuhnya kekaisaran dan bangkitnya gagasan bangsa. Ia menelusuri bagaimana gagasan tentang “bangsa Yahudi” sebagai entitas politik-teritorial mengalami transformasi signifikan di tangan tokoh-tokoh seperti Theodor Herzl.

Bagi Rose, Herzl dan generasinya bukan sekadar mewujudkan nubuat Alkitab, tetapi merumuskan solusi nasionalis modern terhadap antisemitisme Eropa. Dengan demikian, Zionisme dibaca bukan sebagai takdir sejarah, melainkan pilihan politik.

Dari sini, buku bergerak ke jantung persoalan: klaim atas tanah Palestina sebagai “tanah yang dijanjikan.” Di sinilah Rose memanfaatkan temuan arkeologi kontemporer. Ia merujuk pada karya Finkelstein dan arkeolog lain yang meragukan historisitas literal kisah Eksodus serta gambaran kerajaan Daud dan Salomo sebagai imperium besar seperti yang dituturkan Alkitab.

Rose tidak bermaksud menolak nilai religius teks-teks tersebut, tetapi menolak penggunaannya sebagai dasar klaim teritorial modern. Ia berargumen bahwa narasi biblis lebih tepat dipahami sebagai konstruksi teologis yang lahir dalam konteks politik kuno tertentu, bukan catatan sejarah yang dapat langsung diterjemahkan menjadi hak kedaulatan abad ke-20.

Pembacaan ini memiliki implikasi besar. Jika klaim biblis dilepaskan dari literalitas historisnya, maka fondasi moral “kembali ke tanah leluhur” menjadi jauh lebih problematis. Rose berupaya menunjukkan bahwa tanah Palestina pada akhir abad ke-19 bukanlah ruang kosong yang menunggu “kembali”-nya sebuah bangsa, melainkan wilayah yang telah lama dihuni masyarakat Arab dengan kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya yang mapan. Ia membedah slogan awal Zionisme tentang “tanah tanpa rakyat untuk rakyat tanpa tanah” sebagai simplifikasi ideologis yang mengaburkan keberadaan penduduk asli.

Dalam pembahasan tentang 1948, Rose banyak bersandar pada arsip dan temuan historiografi Israel sendiri. Ia menolak narasi bahwa pengungsian besar-besaran rakyat Palestina semata akibat perang yang tidak terencana. Dengan merujuk pada penelitian seperti yang dikembangkan oleh Pappe, ia memandang peristiwa tersebut sebagai bagian dari logika etnonasional yang sejak awal menyadari bahwa negara Yahudi dengan mayoritas Yahudi sulit dibentuk tanpa pemindahan penduduk Arab dalam skala besar. Di titik ini, analisisnya menjadi terang: Zionisme tidak sekadar proyek migrasi, tetapi proyek demografis.

Metodologinya bersifat interdisipliner, tetapi jelas politis. Rose menggabungkan historiografi, arkeologi, dan teori ideologi. Ia tidak sekadar memaparkan fakta, melainkan menempatkan fakta dalam struktur argumentasi yang menunjukkan bagaimana narasi tertentu dipilih, ditekankan, dan dilembagakan. Kekuatan pendekatan ini terletak pada kemampuannya menyingkap dimensi ideologis sejarah resmi. Namun sekaligus di sinilah batasnya: karena berangkat dari posisi politik yang jelas, buku ini kadang tampak menyederhanakan kompleksitas internal Zionisme, termasuk perbedaan tajam antara arus sosialis, religius, dan revisionis.

Meski demikian, relevansi buku ini tidak berhenti pada 2004. Ketika isi bukunya dibaca dalam konteks pendudukan yang terus berlangsung di Tepi Barat, blokade Gaza, serta tuduhan luas mengenai praktik apartheid dan bahkan genosida dalam operasi militer mutakhir, argumen Rose memperoleh resonansi baru. Ia berpendapat bahwa mitos bukan sekadar cerita masa lalu; ia adalah mesin legitimasi yang bekerja di masa kini. Jika negara dipahami sebagai realisasi janji ilahi dan koreksi atas sejarah penganiayaan, maka tindakan represif mudah dibingkai sebagai pertahanan eksistensial.

Dalam konteks situasi hari ini, pembacaan Rose mendorong pertanyaan mendasar: sejauh mana narasi pendiri mempengaruhi kebijakan kontemporer? Jika konflik dipahami sebagai kelanjutan janji sakral, ruang kompromi menyempit. Jika identitas nasional dilekatkan pada klaim historis absolut, pengakuan atas hak kolektif rakyat Palestina menjadi lebih sulit diterima dalam kerangka ideologis tersebut.

Buku The Myths of Zionism adalah kritik terhadap fondasi naratif yang, menurut Rose, terus memengaruhi kebijakan dan struktur kekuasaan Israel hingga hari ini. Buku ini kuat dalam membongkar legitimasi simbolik, berani dalam memanfaatkan temuan ilmiah Israel sendiri, dan tajam dalam analisis ideologinya. Namun, karena sifatnya yang polemis dan berpijak pada posisi politik tertentu, pembacanya perlu tetap kritis terhadap generalisasi dan kemungkinan reduksionisme di dalamnya.

Pada tahap berikutnya, analisis akan bergerak pada kritik terhadap pendekatan Rose, perbandingannya dengan historiografi lain, serta evaluasi akhir mengenai kontribusi dan keterbatasan buku ini dalam perdebatan Israel-Palestina kontemporer.

Kritik atas Pendekatan John Rose

Kekuatan utama Rose adalah keberaniannya menghubungkan sejarah, arkeologi, dan ideologi dalam satu argumen politik yang koheren. Namun kekuatan itu sekaligus menjadi titik kritiknya. The Myths of Zionism bukan karya historiografi arsip primer, melainkan sintesis polemis atas riset orang lain. Rose mengandalkan temuan para sejarawan dan arkeolog Israel, lalu menempatkannya dalam kerangka analisis Marxis tentang nasionalisme dan kolonialisme.

Masalahnya, pendekatan ini kadang menghasilkan reduksionisme. Zionisme diperlakukan sebagai entitas ideologis tunggal, padahal secara historis ia terfragmentasi: ada Zionisme buruh, Zionisme religius, Zionisme revisionis, dan varian-varian lain yang berbeda dalam strategi maupun visi sosialnya.

Dalam buku ini, perbedaan-perbedaan tersebut cenderung dilebur ke dalam satu logika kolonial yang seragam. Kritik lain menyasar kecenderungan Rose melihat perkembangan sejarah Israel hampir sepenuhnya melalui lensa niat ideologis awal, sehingga dinamika kontingensi politik dan keamanan regional kurang mendapat bobot.

Selain itu, pembaca yang mencari keseimbangan naratif mungkin akan merasa bahwa pengalaman traumatik Yahudi Eropa, khususnya Holocaust, meski diakui, tidak dieksplorasi secara empatik dalam kompleksitas eksistensialnya. Rose menegaskan bahwa Holocaust adalah kejahatan Eropa dan tidak dapat dijadikan legitimasi atas ketidakadilan baru, tetapi pembahasannya lebih diarahkan pada kritik atas instrumentalitas politiknya daripada eksplorasi psikologi kolektif yang melatarbelakangi dukungan luas terhadap proyek Zionis pasca-1945.

Namun kritik-kritik ini tidak serta-merta membatalkan nilai buku. Ia memang tidak mengklaim sebagai sejarah netral; ia adalah kritik ideologis yang sadar posisi.

Komparasi dengan Historiografi Lain

Dalam lanskap historiografi Israel-Palestina, posisi Rose paling dekat dengan para “New Historians” seperti Ilan Pappé dan Benny Morris. Mereka membuka arsip Israel dan menunjukkan bahwa pengungsian Palestina 1948 bukan sekadar konsekuensi perang yang tidak disengaja. Namun ada perbedaan penting.

Morris, misalnya, dalam perkembangan pandangannya kemudian membenarkan sebagian logika demografis negara Yahudi sebagai “tragis namun perlu,” sementara Pappé bergerak lebih jauh dengan menyebutnya sebagai pembersihan etnis yang terencana. Rose secara politis lebih dekat ke Pappé, tetapi ia melangkah lebih jauh dengan membongkar fondasi mitologis ideologinya, bukan hanya praktik militernya.

Jika dibandingkan dengan pendekatan pascakolonial, argumen Rose selaras dengan pembacaan Israel sebagai proyek pemukim-kolonial (settler colonialism). Dalam kerangka ini, Israel dilihat bukan sekadar negara pascakolonial biasa, melainkan entitas yang berdiri melalui pemindahan penduduk asli dan pembentukan kedaulatan etno-nasional. Namun, berbeda dari sebagian teori pascakolonial yang menekankan ambivalensi identitas dan hibriditas, Rose tetap beroperasi dalam kerangka kelas dan imperialisme yang lebih klasik.

Dari sisi arkeologi, rujukannya pada Israel Finkelstein memperkuat legitimasi akademiknya. Finkelstein menunjukkan bahwa banyak kisah Alkitab bersifat konstruksi literer belakangan. Akan tetapi, tidak semua arkeolog sepakat dengan interpretasi minimalis tersebut. Rose cenderung mengambil posisi yang paling menguntungkan bagi argumennya tanpa mengelaborasi perdebatan internal di bidang itu.

Dengan demikian, dalam spektrum historiografi, Rose bukan pembuka arsip baru, melainkan pengintegrasi radikal dari temuan yang sudah ada ke dalam kritik ideologi yang sistematis.

Relasi dengan AS

Salah satu dimensi yang membuat buku ini tetap relevan adalah analisis implisitnya mengenai hubungan Israel dengan kekuatan besar, khususnya AS. Meski buku ini terbit sebelum dinamika terbaru di Gaza dan polarisasi global saat ini, kerangka Rose tentang Zionisme sebagai proyek yang berkelindan dengan imperialisme Barat menemukan resonansi dalam hubungan strategis Israel-AS.

Sejak Perang Dingin hingga kini, dukungan militer, finansial, dan diplomatik dari AS menjadi pilar utama keberlanjutan dominasi Israel di kawasan. Dalam pembacaan Rose, dukungan ini bukan semata aliansi pragmatis, tetapi bagian dari konfigurasi geopolitik yang lebih luas: Israel sebagai sekutu utama Barat di Timur Tengah. Dengan meningkatnya kritik internasional terhadap operasi militer Israel di Gaza dan perluasan permukiman di Tepi Barat, relasi ini semakin disorot sebagai faktor yang memungkinkan impunitas politik.

Dalam konteks tuduhan pelanggaran berat hukum humaniter internasional, argumen Rose tentang mitos legitimasi menjadi semakin relevan. Ia menunjukkan bagaimana narasi eksistensial: negara sebagai benteng terakhir keselamatan Yahudi, membentuk cara Israel membingkai kebijakan keamanan. Ketika narasi ini diperkuat oleh dukungan strategis AS di forum internasional, termasuk veto di Dewan Keamanan PBB, maka kritik terhadap kebijakan Israel berbenturan dengan arsitektur kekuasaan global.

Namun, perkembangan politik domestik Israel dan AS juga menunjukkan kompleksitas baru yang mungkin tidak sepenuhnya diantisipasi Rose. Polarisasi internal di kedua negara, pergeseran opini publik global, serta munculnya gerakan solidaritas lintas identitas menandakan bahwa legitimasi naratif tidak lagi sekuat dekade sebelumnya.

Secara keseluruhan, buku The Myths of Zionism memberikan kontribusi penting dalam membongkar fondasi ideologis yang sering dianggap tak tersentuh. Ia memperlihatkan bahwa klaim historis dan religius yang menopang proyek negara-bangsa modern perlu diuji dengan standar ilmiah yang sama seperti klaim lainnya. Keberaniannya memanfaatkan riset Israel sendiri untuk mengkritik Zionisme memberikan bobot intelektual yang signifikan.

Namun buku ini juga memiliki keterbatasan yang nyata. Pendekatannya yang polemis membuatnya kurang memberi ruang pada ambiguitas sejarah dan keragaman pengalaman Yahudi. Ia lebih kuat sebagai kritik ideologi daripada sebagai sejarah sosial yang komprehensif. Selain itu, karena diterbitkan pada 2004, ia tidak mengantisipasi perkembangan geopolitik dua dekade terakhir secara detail, meski kerangka dasarnya tetap relevan.

Buku ini bukanlah bacaan netral, melainkan intervensi intelektual yang tajam. Nilainya terletak pada kemampuannya memaksa pembaca untuk mempertanyakan asumsi-asumsi yang sering diterima begitu saja. Bagi pembaca yang ingin memahami bagaimana narasi sejarah, arkeologi, dan identitas dipolitisasi dalam konflik Israel-Palestina, karya John Rose tetap menjadi teks penting karena membuka ruang debat yang mendalam dan tak terhindarkan.

Leave a Comment

Related Post