Harakatuna.com – Media sosial bukan lagi sekadar ruang hiburan, ia kini menjelma sebagai ruang pembentukan nilai dan identitas anak-anak kita. Di balik layar yang tampak ceria, tersembunyi algoritma yang bekerja tanpa lelah menyesuaikan konten dengan preferensi pengguna, termasuk konten yang membawa pesan radikal dan intoleran.
Itulah ancaman baru, algoritma yang diam-diam menyusup ke ruang pikir anak-anak dan menggiring mereka pada jebakan paham kekerasan. Jika orang tua, guru, dan masyarakat lengah, maka kita sedang membiarkan generasi penerus tumbuh dalam kabut digital yang rawan tersesat arah.
Medsos telah menjadi bagian integral dari kehidupan anak muda generasi penerus bangsa. Seiring dengan aspek manfaatnya, kita juga perlu memahami dampak yang mungkin muncul pada sikap generasi muda. Artinya, sebagai produk yang lahir dari pemikiran modernitas, medsos tak ubahnya pedang bermata dua.
Di satu sisi berdampak positif. Namun, di sisi lainnya acapkali memicu dampak negatif. Berbagai tantangan pun muncul menjadi bayang-bayang buruk bagi masa depan generasi bangsa. Tidak dipungkiri saat ini konten-konten radikalisme berkeliaran di ruang-ruang virtual.
Medsos sedikit banyak telah berperan dalam membentuk sikap generasi muda. Apalagi, dengan hadirnya Artificial Intelligence (AI) dengan berbagai kemudahan dalam produksi konten, namun terkadang sarat dengan imitasi dan manipulasi dalam berbagai sendi kehidupan. Para pengasong radikalisme juga menjadikan kemudahan tersebut sebagai medan baru sebagai strategi transformasi menyebarkan paham radikal di dunia maya.
Berbagai persoalan tersebut tentu jangan dibiarkan berlarut-larut hingga menimbulkan masalah selanjutnya yang lebih serius. Dalam hal ini perlindungan dan pengawasan orang tua sangatlah krusial. Mengingat anak adalah aset berharga bagi orang tua, anak menjadi cerminan bagaimana orang tuanya sendiri.
Media sosial sebagai struktur sosial yang berasal dari individu dan organisasi yang diikat oleh kesamaan penggunanya. Artinya, keluarga sebagai lingkup kecil masyarakat menjadi entitas tak terelakkan dalam budaya bermedsos anak-anaknya. Orang tua harus mampu membina wawasan kebangsaan anak-anaknya.
Etika bermedsos juga patut ditanamkan semenjak dini yang ditanamkan oleh orang tua kepada anaknya. Hal ini penting dilakukan agar anak bijak dalam bermedsos. Pasalnya, tidak kita pungkiri bahwa pengguna medsos didominasi oleh kalangan anak-anak. Apabila medsos tidak didesain berwawasan kebangsaan, maka akan sangat berbahaya.
Selain itu, orang tua sebagai sekolah pertama mempunyai tugas untuk membimbing dan mengarahkan penggunaan medsos anak-anak. Pentingnya komunikasi terbuka dan pembuatan batasan harus ditekankan. Artinya, ada alat dan sumber daya yang dapat membantu orang tua memastikan penggunaan yang bertanggung jawab.
Pendekatan lemah lembut dengan empati dan kebijaksanaan dalam penggunaan medsos sangatlah diperlukan. Dorong terus pengalaman belajar dan kesadaran akan dampaknya untuk memastikan pengalaman yang positif bagi masa depan anak ke depan.
Oleh karenanya, pengawasan orang tua terhadap anaknya ketika memakai internet perlu dilakukan secara rutin. Harus diwaspadai bagi orang tua yang sibuk, sehingga tak ada waktu untuk mengawasi anaknya ketika bermedsos. Sesibuk apa pun dengan segala rutinitas, anak harus diprioritaskan perhatiannya.
Selanjutnya di lingkungan sekolah, juga memainkan peran yang tak kalah penting sebagai tempat pengembangan karakter utamanya pada periode golden age, usia 6 sampai 12 tahun.
Apalagi, dalam konteks sekarang dimana krisis moral dan tindakan kenakalan anak marak terjadi di sekolah-sekolah. Diakui atau tidak saat ini terjadi krisis yang nyata dan mengkhawatirkan dalam lingkungan sekolah yang melibatkan anak-anak. Bahkan tak sedikit dari mereka yang terkontaminasi oleh paham-paham intoleransi.
Merespons berbagai demoralisasi tersebut, proses pembelajaran yang mengajarkan pendidikan moral dan berwawasan kebangsaan sudah seharusnya tak sebatas teks semata (teori). Sedangkan pengamalan dalam kehidupan dan pergaulan sangat minus.
Apalagi, kurang mempersiapkan anak-anak untuk menyikapi dan menghadapi kehidupan yang kontradiktif. Dalam situasi ini, pendidikan baik di rumah maupun di sekolah yang sesungguhnya paling besar memberikan kontribusi dan bermakna.
Di tengah derasnya arus digital dan derasnya konten yang berseliweran di media sosial, membentengi anak dari wabah algoritma radikal bukanlah pilihan, melainkan sebuah keharusan. Sinergi antara keluarga, sekolah, dan negara harus diperkuat untuk menciptakan ekosistem digital yang sehat, cerdas, dan berwawasan kebangsaan.
Literasi digital dan spiritualitas kebangsaan harus ditanamkan sejak dini agar anak tidak hanya melek teknologi, tapi juga memiliki daya tahan ideologis. Karena pada akhirnya, generasi yang kuat bukan hanya yang pandai berselancar di dunia maya, tetapi juga yang mampu menjaga akal sehat dan nuraninya dari infiltrasi paham-paham yang menyesatkan.









Leave a Comment