Membedah Batasan Antara Islam, Islamisme, dan Ekstremisme Islamis

Bima Wahyudin Rangkuti

19/09/2025

6
Min Read
islam islamisme

On This Post

Harakatuna.com – Setidaknya hampir satu dekade silam, tepatnya pada Juli 2016, mendiang Paus Fransiskus menyampaikan pernyataan penting. Itu dimuat dalam sebuah tulisan yang berjudul Pope Francis Says it is ‘Not Right’ to Identify Islam with Violence. Tulisan itu dirilis The Guardian dari Reuters satu bulan setelahnya pada tahun yang sama. Beliau menyatakan bahwa tidak tepat mengaitkan ataupun mengidentikkan Islam dengan kekerasan. Hal itu adalah keliru, not right and not true, tegasnya.

Komentar tersebut disampaikan di hadapan para jurnalis dalam penerbangan beliau kembali ke Roma, pasca kunjungan lima hari di Polandia. Sebagai tanggapan terhadap pertanyaan perihal pembunuhan seorang pastor Katolik Roma berusia 85 tahun yang terjadi pada sebuah gereja kala prosesi ibadah, di Prancis bagian barat. Pandangan itu tidak lain merupakan suatu sikap penolakan secara tegas, terhadap segala upaya untuk mengaitkan Islam dengan ekstremisme bahkan terorisme dari Sang Paus.

Prejudice terhadap Islam boleh jadi sebab stigma yang berkelindan dalam wacana sebab stereotip-stereotip yang sengaja direproduksi dengan sedemikian rupa secara sinambung. Seperti halnya Edward W. Said dalam Covering Islam: How the Media and the Experts Determine How We See the Rest of the World, yang membongkar bagaimana beberapa media Barat memiliki kecenderungan mereduksi dan melakukan simplifikasi terhadap Islam.

Mekanismenya di antaranya dengan mengonstruksi Islam sebagai fenomena, yang kerap kali secara selektif hanya berfokus pada gambaran paling konfrontatif, negatif, juga keras. Islam amat jarang diketahui secara langsung, apalagi dipahami secara objektif. Ini tentu saja memunculkan ke permukaan problem lain, yakni suatu problem pemahaman. Dalam Unholy War: Terror in the Name of Islam, John L. Esposito menyibak terkait hal tersebut.

Dengan mengeksplorasi beberapa isu penting yang secara intens dikaitkan dengan Islam, seperti kekerasan, ekstremisme, pun terorisme, diungkap bagaimana beberapa aktor maupun kelompok yang identik dengan isu-isu tersebut melakukan pembajakan terhadap ajaran Islam itu sendiri. Mereka telah keliru bahkan di antaranya sengaja keliru dalam memahami beberapa konsep, guna melegitimasi agenda politik mereka. 

Karenanya, ajaran Islam yang autentik secara tegas harus dipisahkan dengan pelbagai aksi ataupun tindakan figur ataupun kelompok demikian. Dalam beberapa analisis dan kajian yang terkait dengan hal tersebut, setidaknya ditemukan tiga tipologi, yakni Islam, Islamisme, dan Ekstremisme Islamis. Memahami perbedaan ketiganya menjadi signifikan, selain sebagai ihwal distingtif yang berimplikasi positif terhadap pemahaman, juga dalam upaya pengembangan strategi kontra-terorisme yang efektif.

Islam vis-à-vis Islamisme 

Seorang Bassam Tibi, dalam bukunya yang cukup populer yakni Islamism and Islam, dengan eksplisit memberikan batasan yang jelas mengenai apa yang dimaksud dengan Islamisme dengan membedakannya dari Islam itu sendiri. Secara tegas, Tibi mengungkap bahwa Islamisme bukanlah Islam. Secara umum, ia terkait dengan politik, bukan iman, Islamism is about political order, not faith. Dan bukan semata-mata politik, tetapi apa yang disebutnya sebagai religionized politics, politik yang diagamaisasi.

Ini semacam promosi suatu tatanan politik, yang diyakini merupakan emanasi kehendak Allah, to emanate from the will of Allah. Dan bukan didasari oleh kedaulatan rakyat. Sedangkan perlu dipahami, bahwa memang Islam sebagai faith, cult, dan ethical framework, menyiratkan political values atau nilai-nilai politik tertentu. Hanya saja, perlu ditegaskan bahwa Islam sama sekali tidak mensyaratkan secara khusus suatu tata pemerintahan. Alhasil, bahwa memang Islamisme tumbuh dari interpretasi spesifik terhadap Islam, tetapi ia bukanlah Islam.

Islamisme merupakan ideologi politik, ia tidak sama dengan ajaran agama Islam itu sendiri. Menarik untuk melihat apa yang disampaikan Muhammad Sa’id Al-Asymawi dalam Al-Islam As-Siyasi, bahwa Allah menghendaki Islam sebagai agama, tetapi sebagian orang menjadikannya sebagai politik. Padahal, Islam sebagai agama sendiri bersifat universal, humanis, dan komprehensif. 

Sementara politik yang diklaim sebagai Islam, berpandangan sempit, partikularistik, chauvinistik, berbasis loyalitas kelompok, bergantung pada kausalitas duniawi yang berubah-ubah, dan temporal. Perbedaan yang signifikan itu, memperlihatkan tidak validnya gambaran Islamisme sebagai bentuk a revival of Islam atau kebangkitan kembali Islam. Justru, lebih tepat disebut mengonstruksi suatu pemahaman Islam yang tidak sejalan dengan warisan, tradisi, maupun kesejarahannya.

Dambaan terhadap kebangkitan kembali Islam itu, baik historisitas maupun kejayaannya, tidak lain merupakan tradisi yang dibuat-buat. Dalam Political Islam as a Forum of Religious Fundamentalism and the Religionisation of Politics oleh Tibi, itu disebut sebagai invention of tradition. Term-term sentral yang menjadi dasar argumen kaum Islamis seperti dawlah/state, tidak tercantum dalam Al-Qur’an, juga tidak ditemukan dalam hadis. 

Hal yang sama untuk nizham Al-Islam/Islamic system, dan hukumah Islamiyyah/Islamic government. Term-term Islamis ini tidak tergolong dalam istilah yang lazim digunakan dalam khazanah tradisi Islam menurutnya. Begitu pula, perihal substansi negara Islam dan corak tatanan yang dicita-citakan oleh kaum Islamis. Pendapat yang selalu muncul, bahwa penerapan syariat menjadi karakteristik mendasarnya. Padahal, konsep syariat sendiri dalam Islam beragam. 

Dari Islamisme Menuju Ekstremisme Islamis

Dalam Islam vs Islamism: The Dilemma of the Muslim World, Peter R. Demant menjelaskan, selain terciri dengan penafsiran agama mereka yang dipolitisasi, kelompok Islamis juga mengidentifikasikan diri anti Barat dan anti modern. Dan di antara kaum Islamis tersebut, terdapat kelompok minoritas yang mendukung penggunaan kekerasan dan terorisme terhadap Barat untuk mencapai tujuan mereka.

Matthew L. N. Wilkinson dalam bukunya, The Genealogy of Terror: How to Distinguish between Islam, Islamism and Islamist Extremism, mengurai bagaimana hadirnya kelompok minoritas tersebut, terjadi melalui proses bertahap yang tiap-tiap tahapannya semakin ekstrem. Pertama, adalah ideological Islamism yang merupakan Islamisme itu sendiri. Kedua, non-violent Islamist extremism, suatu tahap yang menjembatani antara Islamisme dengan ekstremisme Islamis.  

Tahap ini merupakan ideological Islamism, yang bertransformasi secara antagonis menjadi pandangan dunia manichean yang dualistik, kita versus mereka. Aksentuasinya, pada pembedaan secara mutlak antara Muslim yang benar yakni “kelompok dalam/in-group” dengan Muslim yang salah, yang merupakan “kelompok luar/out-groups”. Sedangkan tahap yang ketiga, adalah violent Islamist extremism. Ini merupakan manichean Islamist ideology yang begitu ekstrem.

Pada tahapan ini, semesta dipandang sebagai ajang manifestasi pertarungan abadi tak berkesudahan antara Islam dan kekafiran. Non-Muslim atau Muslim yang dipandang keliru, yang tidak berjuang dengan kekerasan untuk menegakkan a global Islamic state, dianggap sebagai musuh abadi dari Islam yang sejati. Karenanya, pantas dan layak untuk dibasmi.

Alhasil, memahami perbedaan antara Islam dan Islamisme, serta memahami alur potensi Islamisme itu sendiri yang sangat mungkin menuju ekstremisme Islamis yang paling ekstrem, menjadi modal mendasar untuk membongkar narasi-narasi keliru, baik dari para ekstremis maupun pihak yang sentimen terhadap Islam. Ini sekaligus menjadi landasan pengembangan strategi kontra-terorisme yang efektif.

Leave a Comment

Related Post