Harakatuna.com – Kemarin ada pemeluk agama Buddha yang melakukan perjalanan berhenti sejenak di sebuah masjid. Saat melipir, mereka melakukan ibadah sesuai keyakinan mereka. Melihat kenyataan itu, beberapa umat Islam geram dan merasa jengkel karena tempat ibadah mereka dijadikan tempat beribadah umat di luar Islam.
Reaksi sebagian umat Islam yang kurang suka membuat saya bertanya-tanya, “Memangnya umat non-muslim dilarang melakukan ibadah di masjid? Bukankah dulu ada umat Islam yang beribadah/shalat di gereja?” Soal boleh atau tidak, ini mungkin kembali kepada keputusan ulama fikih, karena mereka punya otoritas dalam istinbat hukum/berijtihad.
Namun, saya mencoba melihat fakta tersebut dari sudut pandang pluralisme dan toleransi. Pluralisme mengajarkan bahwa semua agama memiliki kebenaran yang sama, hanya saja jalannya berbeda. Artinya, semua agama memiliki tujuan dalam perjalanannya menuju kepada Tuhan Yang Esa, yakni Allah. Jadi, dari sudut pandang pluralisme agama apa pun, baik Islam, Buddha, dan lain sebagainya, adalah satu kesatuan yang saling mengikat. Maka, tidak ada persoalan bagi semua pemeluk agama dalam melakukan ibadah.
Pluralisme mengajarkan kita bukan hanya melihat titik temu antar agama-agama, tetapi juga menemukan solusi dalam menyatukan perbedaan yang terbentang luas di tengah-tengah semesta. Siapa pun yang cara berpikirnya plural tidak melihat fakta umat Buddha beribadah di masjid tadi sebagai realitas yang keliru. Justru ini memperlihatkan keharmonisan antara umat Islam dengan pemeluk agama lain.
Bahkan, pluralisme mengingatkan bahwa ada persaudaraan yang jauh lebih luas jangkauannya daripada persaudaraan antar sesama Muslim, yaitu persaudaraan antar sesama (ukhwah basyariyah). Persaudaraan ini menembus sekat-sekat agama yang mengisolasi pemeluknya. Persaudaraan ini juga menghadirkan rasa cinta dan kasih, sehingga cinta ini membawa pelakunya simpati melihat umat di luar Islam, termasuk umat Buddha tadi, kesulitan mencari tempat beribadah yang nyaman.
Selain itu, sudut pandang toleransi penting dihadirkan ketika dihadapkan dengan perbedaan agama. Toleransi ini mengajarkan bahwa semua pemeluk agama harus saling menghormati, meski mereka berbeda keyakinan. Karena, menghormati orang lain tidak dapat dibatasi oleh perbedaan agama. Lihat sikap Nabi Muhammad Saw. yang tetap menghormati pamannya Abu Thalib meski dia berbeda agama. Nabi pemeluk sekaligus pembawa agama Islam, sedang Abu Thalib pemeluk agama Kristen.
Sikap saling menghormati itu juga dilakukan oleh pemeluk agama lain. Karena Nabi senang menghormati orang lain tanpa pandang agama, maka pada suatu kesempatan Nabi juga diperlakukan sangat terhormat oleh pendeta Nasrani Buhaira. Sikap baik umat non-muslim ini tentu lahir beriringan dengan sikap baik Nabi. Jadi, jika umat Islam suka acuh tak acuh dan gemar merendahkan umat non-muslim maka jangan salahkan umat non-muslim jika berbuat hal yang serupa. Karena, apa yang dipanen mencerminkan apa yang ditanam.
Lebih dari itu, toleransi mengajarkan kesadaran tentang klaim kebenaran. Bahwa kebenaran, selain kebenaran partikular, juga ada kebenaran universal. Kebenaran universal menjadi kebenaran yang diakui oleh semua manusia tanpa memandang agama. Semisal, semua manusia membenarkan bahwa menghormati orang lain adalah perbuatan baik. Jika demikian adanya, maka mengapa sebagian dari umat Islam gemar merendahkan orang lain? Apakah merendahkan orang lain adalah ajaran agama Islam?
Sebagai penutup, tidak perlu lagi umat Islam mempersoalkan realitas yang memperlihatkan umat Buddha beribadah di masjid. Apa yang mereka lakukan jika dilihat dari sudut pandang pluralisme dan toleransi masih dapat dibenarkan. Jangan batasi cara berpikir dengan hanya mengikuti pendapat yang sempit berpikirnya, sehingga mengantarkan kepada sikap yang tidak terpuji.[] Shallallahu ala Muhammad.








Leave a Comment