Harakatuna.com – Mungkin tidak terhitung berapa banyak orang yang telah menulis tentang teori, motivasi, gaya penulisan dan apa saja yang berkaitan dengan kegiatan dan proses menulis. Tetapi acapkali orang lupa, bahwa kekuatan bahasa merupakan instrumen penting untuk dikuasai. Lalu, apakah pemahaman bahasa itu hanya sekadar membaca dan menulis yang harus selaras dengan gramatikal bahasa; ejaan yang disempurnakan; atau Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) serta pedoman lainnya.
Ada banyak penulis yang hanya menulis, tetapi tidak memiliki tujuan dari kegiatan penulisan. Salah satu faktor yang memengaruhinya karena tidak mampu mengolah ide serta tidak terlatih menggunakan gaya bahasa serta teknik informasi bahasa. Kegiatan menulis adalah sebuah upaya untuk tetap menjaga dan memelihara literasi. Upaya ini juga sering diidentikkan sebagai gerakan literasi. Lantas, sejauh mana kualitas pencapaian gerakan literasi? Sebab selama ini, kita hanya melihat dari sisi kuantitas.
Seyogianya, jika perkembangan gerakan literasi semakin banyak, itu artinya bisa sebanding dengan kualitas minat baca di kalangan masyarakat. Persoalannya, apakah bacaan yang diserap oleh masyarakat sudah sesuai dengan aspek psikologis dan edukatif? Pertanyaan ini acapkali menjadi titik persinggungan antara teori-teori dan kondisi kekinian yang berisiko terhadap nilai-nilai kultural.
Membangun budaya literasi tidaklah mudah, karena masyarakat Indonesia tidak terbiasa untuk membaca dan tidak terlatih untuk menulis. Padahal, membaca adalah jembatan untuk membuka cakrawala wawasan dan pengetahuan. Menulis adalah menciptakan sebuah karya. Membaca dan menulis belum menjadi budaya sehari-hari masyarakat Indonesia. Kebiasaan membaca dan kemampuan untuk menulis merupakan hal yang sangat penting untuk membentuk generasi tangguh yang mampu bersaing di era globalisasi.
Bagaimanapun juga, gerakan literasi harus terus didengungkan, meski pada satu sisi kita selalu dihantui dengan penurunan angka minat baca secara umum. Sikap pesimistis ini, seharusnya menjadi tantangan bagi penulis untuk terus berperan aktif dalam menghasilkan karya-karya yang bagus; yang sesuai minat dan kebutuhan pasar pembaca.
Penulis sebagai subjek yang menyuguhkan bacaan, sepatutnya bisa membaca pasar pembaca, mana yang cocok sesuai minat dan kebutuhan bacaan tersebut. Hal yang paling sulit dialami oleh penulis ketika dihadapkan pada pilihan bacaan adalah bagaimana memutuskan untuk memenuhi sesuai seleranya atau membaca selera pasar yang sangat heterogen.
Pada umumnya, pasar pembaca dipicu oleh keinginan untuk mendapatkan referensi dan informasi bacaan yang aktual dan baru. Topik yang lagi hangat tentu menjadi daya tarik tersendiri, atau bacaan-bacaan penting karena kebutuhan yang sifatnya ilmiah. Ini tentu terbatas, karena lebih cenderung dibutuhkan oleh kalangan akademisi. Tetapi ada harapan bagi penulis, meski dengan topik yang sama, ada kecenderungan masyarakat pembaca untuk menjangkaunya, karena sudut pandang berbeda. Narasi dan ilustrasi yang disajikan tentu dengan gaya berbeda.
Dalam kilas balik, pada tahun 2019 sebuah opini berjudul: “Buku Cetak yang Ditinggalkan Abad 21” yang terbit pada sebuah media cetak nasional (ditulis oleh Vito Prasetyo) seakan sebuah sikap pesimistis di abad kini. Tapi ini tentunya didasarkan pada pengamatan yang cukup realistis. Bisa jadi, pada akhir abad ke-20 menjadi peringatan (warning) terhadap gejala-gejala sosial yang ada, di abad ke-21. Perubahan konsep konvensional yang bertransformasi ke digital, tentu membawa risiko terhadap perkembangan dan pertumbuhan minat baca.
Apakah dengan hadirnya komunitas-komunitas penggerak literasi secara konvensional mampu menahan lajunya serangan siber yang lebih modernis? Hadirnya media mainstream yang tumbuh seperti jamur, setidaknya memengaruhi cara mendapatkan informasi bacaan yang sedikit demi sedikit meninggalkan metode membaca secara tekstual (buku cetak dan sejenisnya). Tetapi apakah kehadiran ruang digital telah menggantikan peran “membaca” secara dasar?
Kondisi ini juga memengaruhi pasar buku tradisional yang kian tergerus dan sebagian besar harus tutup. Pola interaksi pembaca dan bacaan tekstual menjadi jarak yang kian renggang. Tantangan literasi untuk meningkatkan minat baca memang tidak mudah. Kebiasaan membaca buku tekstual kian hari, kian menurun drastis. Sikap prismatik masyarakat, yang menganalogikan membaca secara digital, sudah setara dengan bacaan tekstual buku cetak sangat keliru.
Kesalahan mendasar saat ini adalah ketika orang-orang merasa sudah fasih membaca, meski hanya membaca dalam bentuk audio visual atau bentuk video. Jejaring sosial yang menawarkan pelbagai pilihan dianggap sebanding dengan edukasi, seperti TikTok dan lain sebagainya. Dan keberadaan buku cetak dianggap narasi yang mengulangi peristiwa-peristiwa yang sama, hanya dengan penulis yang berbeda. Maka tidak heran, jika populasi bahasa kita semakin tergerus dan sebagian besar lainnya terancam punah.
Sering menjadi tanda tanya besar, mengapa gerakan-gerakan literasi yang setiap tahunnya bertambah cukup signifikan, tetapi masyarakat masih apriori dengan edukasi literasi? Apakah karena bacaan-bacaan yang diajarkan tidak tepat sasaran, atau karena kita gagal membaca pasar pembaca, terutama bagaimana mendorong peserta didik untuk membiasakan mereka membaca dengan bacaan yang sesuai keinginan mereka. Sebab terkadang kita gagal dalam memahami dunia anak. Berikan kesempatan agar mereka berpikir dengan cara mereka. Dan ini harus ada ruang edukasi yang semata-mata tidak hanya bergantung pada pendidikan formal.
Ini tentunya menjadi peringatan sekaligus perenungan bagi penulis atau pengarang, bahwa sebuah karya tulis, baik ilmiah maupun fiksi, tidak hanya bertujuan untuk identifikasi sosial bagi penulis atau pengarang. Perlu diingat, bahwa menulis itu adalah mewujudkan sesuatu yang abstrak menjadi sesuatu yang berwujud.
Ada sebuah stigma pesimistis pada masyarakat, bahwa makin hilang dan punahnya bahasa, maka budaya juga akan punah. Maka, gerakan literasi tidak hanya sebatas membaca tantangan era modern, tetapi juga menyiapkan generasi penerus bangsa yang memiliki rasa cinta kepada nilai-nilai bahasa dan budaya bangsa.







Leave a Comment