Harakatuna.com – Tulisan ini ditulis bukan lantaran penentuan tanggal pelaksanaan bulan puasa Ramadhan 1446 H, terlebih tahun ini tidak memiliki perbedaan yang cukup signifikan, persamaan waktu masehi dan hijriah pada tahun ini mungkin cukup memberi pengaruh begitu besar. Namun, tulisan ini ditulis bukan untuk itu. Tulisan ini bermula dari proses penulis membaca ulang sebuah anekdot salah seorang public figure bangsa ini, yang hingga kini masih lantang menyuarakan kebenaran ‘amar ma’ruf nahi munkar.
Bangsa Indonesia terlahir dengan banyak suku, ras, bahasa, agama, adat, dan masih banyak lagi perbedaan yang menerbitkan banyak kajian dan menjadi daya tarik orang asing, baik turis, peneliti, akademisi, ataupun pengamat praktisi. Perbedaan yang tak terhitung ini menjadi harta karun yang perlu dijaga, diteruskan dan dilaksanakan. Meski, jika ditelaah lebih dalam, terdapat pula perbedaan yang cenderung ke ranah mistis-anatomis, karena sebagai salah satu bangsa Asia, ia penuh dengan energi spiritual-metafisika yang bermula dari kekuatan keyakinan.
Pada saat merdeka, terhitung Indonesia memiliki 70 juta jiwa (meski belum ada sensus penduduk yang akurat), puluhan juta jiwa diproklamirkan merdeka secara fisik dari negara asing, bayangkan sekian juta jiwa tunduk pada satu kepala negara, satu kepala pemerintahan, yang bisa jadi keduanya tidak memahami bahasa satu sama lain, pemahaman itu datang karena ikatan emosional yang didapat dengan ketulusan hati, ketajaman logika. Tapi, apakah Indonesia sudah merdeka secara hati?
Mari kita kupas dengan pemaparan filosofis ukhuwah dalam jiwa bangsa ini, salah satu karakter yang digaungkan oleh pendahulu kemerdekaan dalam sila ketiga Pancasila. Pendahulu, pendiri negara ini sudah paham betul pentingnya persatuan untuk negara yang berjuta-juta perbedaannya, bukan hanya perbedaan SDM saja, tetapi juga perbedaan sumber daya alam, ada berapa jenis kuliner di Indonesia? Berapa jenis bahan pakaian di Indonesia, bahkan berapa jenis cita rasa yang bernama soto di Indonesia?
Perbedaan tentu menciptakan silang pendapat, adu pemahaman, karena dari tahap itulah ilmu pengetahuan berkembang, sebagaimana yang terjadi di masa keemasan Daulah Abbasiyah dan juga masa keemasan Eropa, lahir banyak cabang disiplin ilmu setelah berbenturan ragam pendapat dan diskusi.
Seperti contoh, ilmu pencangkokan dalam berbagai tanaman, saat kita mencangkok suatu tanaman dengan tanaman lain, ajaibnya hasil cangkokan itu tidak berpihak ke salah satu dari dua pihak, melainkan tercipta menjadi jenis tanaman ketiga. Alam raya pun memahami secara lapang dan mengolah menjadi ilmu pengetahuan segala perbedaan itu. Tetapi, apakah manusia bangsa ini mampu?
Secara fundamental, sering dipahamkan bahwasanya “persatuan” tanah air terbentuk dengan sikap saling menghargai perbedaan. Yes, itu betul. Ibaratnya nahi munkar, karena dengan menghormati perbedaan itu pertanda tidak akan ada sikap saling mencela, menghina atau mengutuk perbedaan. Lalu, bagaimana implementasi ‘amar ma’ruf?
Tunjukkan persamaan itu. Tonjolkan persamaan itu. Apa persamaannya? Bagaimana menemukan persamaan dari perbedaan yang jelas sekali kentara. Perlu dipahami, suatu hal dikatakan berbeda pertama kalinya dari segi fisik dan materiil. Tidak pernah ada manusia yang sama di dunia, manusia kembar identik pun memiliki sidik jari yang berbeda. Itulah perbedaan.
Apa persamaannya? Sudut pandang dan orientasi tujuan hidup, itulah titik temu persamaan. Fisik boleh berbeda, karena perbedaan materiil adalah ciptaan, kreativitas Tuhan. Namun, upayakan terwujud persamaan sudut pandang, persamaan dalam memandang hak dan kewajiban manusia, persamaan dalam memandang tingkat sosial dan pendidikan, persamaan dalam melaksanakan tasamuh beragama, persamaan dalam memandang konsep-konsep seminal dalam hidup.
Bisakah sudut pandang disamakan? Padahal, manusia terlahir dengan ragam latar belakang keluarga dan lingkungan yang berbeda, sudut pandang manusia kaya dan miskin memandang nilai harta tentu beda. Tetapi, apakah tidak bisa disamakan? Bisa. Apa itu kebahagiaan? Apa standar kekayaan? Bagaimana sikap berikhlas dan bersedekah. Seluruhnya adalah konsep dasar dalam hidup. Perbedaan memiliki peran dalam implementasi konsep tersebut, tapi tidak dengan sudut pandang.
Sudut pandang ibarat nahkoda kehidupan. Seluruh gerak panca indera aktif dari komando nahkoda. Nasionalisme akan menggerakkan jiwa untuk menemukan persamaan itu, bukan hanya perbedaan. Kebenaran akan menuntun manusia untuk menggaungkan, menyuarakan persamaan itu. Andaikata, bangsa ini masih saja dalam tahap “menghargai perbedaan” tidak dengan persamaan, maka, apakah bangsa ini dalam tahap kebenaran?
Dalam suatu survei world population review, terdapat negara-negara di dunia yang memiliki tingkat perbedaan (diversity), tapi tidak tersebut di dalamnya Indonesia. Bahkan hingga ranking 10, Indonesia yang konon berjuta-juta perbedaannya tetap tidak masuk dalam daftar list tersebut. Apakah survei tersebut salah total? Tidak. Karena sejatinya, kita perlu menapaktilasi perjuangan pendahulu dalam memerdekakan bangsa ini.
Sebab tanah air Indonesia merdeka bukanlah karena perbedaan yang mencolok itu, tetapi karena kekuatan persamaan sudut pandang dan cita-cita sama yang terlahir dengan penuh perjuangan, titik air mata, percobaan gagal dan gagal yang tak terhitung banyaknya. Itulah Indonesia sejatinya. Andai ada survei negara dengan prestasi persatuannya, bisa jadi Indonesia mendapat nominasi. Tetapi itu dulu, apakah masih berlaku hingga kini?
Pasca kemerdekaan, gerakan masyarakat dalam segala bidang, yang menumbuh-kembangkan belasan hingga puluhan organisasi besar, seperti Muhammadiyah, NU, Persis, dan Masyumi telah menjadi motor penggerak dakwah pendidikan-sosial-ekonomi-politik, termasuk agama. Ormas besar yang beridentitas agama Islam itu sendiri memiliki perbedaan yang sudah tak asing lagi oleh masyarakat, perbedaan furu’i, syukur-syukur bukan perbedaan ushuli.
Dengan segala perbedaan itu, apa yang menjadikannya lahir banyak kontroversi? Meski kontroversi itu sendiri diamini datang dari pihak eksternal, yang kemudian dikompori dengan asumsi tak berdasar. Pihak eksternal tersebut gagal memahami konsep persatuan. Karena sejatinya wadah organisasi hanyalah atribut, hanyalah pakaian, identitas setiap manusia, Muslim atau non-Muslim, beragama atau tidak beragama adalah amal saleh.
Ada sebuah anekdot menarik dari salah seorang cendekiawan besar Indonesia, permisalan dalam pemaparan definisi ukhuwah islamiah, ia mengkisahkan suatu hari di surga bertemulah tokoh-tokoh dari segala ormas yang berbeda, mereka saling bertanya-tanya, bagaimana mereka bisa bertemu, sedangkan mereka berbeda golongan, lagi-lagi mereka berdebat, hingga akhirnya disepakatilah membentuk komite dari masing-masing golongan, diadakan rapat, dan tercetuslah satu jawaban.
Satu hal yang menjadikan ragam organisasi itu berada di surga yang sama dengan identitas golongan yang berbeda tidak lain tidak bukan karena amal saleh masing-masing dari manusia tersebut. Golongan hanyalah atribut, hanyalah pakaian sementara untuk keberpihakan, untuk membantu menegaskan keputusan individual. Tetap saja, setiap dari jiwa yang hidup akan diukur dari amal saleh yang dilakukannya.
Sebagaimana dalam surah al a’raf, laa taziru waaziratan wizra ukhra. Manusia tidak akan menanggung dosa orang lain. Tidak ada yang namanya dosa turunan atau dosa warisan. Setiap akil baligh, ia sudah diwajibkan menanggung dosanya sendiri, sewajibnya ia harus paham baik-buruk suatu hal.
Itulah mengapa dalam lafal basmallah, Allah dahulukan sifat-Nya Maha Penyayang (Rahman) lalu berlanjut Maha Pengasih (Rahim), karena sejatinya Rahman adalah kasih sayang-Nya untuk seluruh manusia semesta alam tanpa memandang golongan, agama, asal, dan segala identitasnya, Allah memandang dari amal saleh yang dikerjakan. Baru kemudian, untuk seluruh umat Islam mendapat keistimewaan, ibarat golden ticket, dengan Rahim-Nya, Allah Maha Pengasih.
Jadi, apakah kita sudah mengamalkan persatuan itu sendiri? Wallahu al-musta’an.








Leave a Comment