Harakatuna.com – Adalah Tarjumân Al-Mustafîd karya tafsir yang ditulis oleh seorang ulama terkemuka yang hidup sekitar abad 17 M yang berkiprah di Nusantara. Beliau bernama ‘Abdur Rauf ibn ‘Ali ibn Al-Fanshuri Al-Jawi As-Singkili. Karyanya tersebut digadang sebagai karya tafsir pertama yang berbahasa Melayu dan ditulis dengan abjad Arab-Melayu.
Tafsir yang ditulisnya itu lengkap dengan penafsiran 30 juz secara tartîbî. Belum ditemukan data yang valid mengenai musabab atau latar belakang dari penulisan karya tafsir ini. Tetapi, bila menilik kondisi masyarakat kala itu, bisa dimaklumi mengapa tafsir ini perlu hadir. Ketika itu tentu saja amat dibutuhkan rujukan yang dapat menjembatani khazanah keilmuan Islam klasik dengan masyarakat pada masanya.
Kekaliberan ‘Abd Ar-Rauf As-Singkili dalam keilmuan agama tentunya sudah tidak perlu disangsikan lagi. Namanya bisa dikatakan sangat kokoh, merepresentasikan baik itu kalangan fuqahâ’ maupun kalangan mutashawwifin. Beberapa karyanya yang lain pula turut membuktikan itu, seperti Mir’at Ath-Thullab fi Tashil Ma’rifah Ahkam Asy-Syar’iyyah li Al-Malik Al-Wahhab, yang merupakan kitab fiqih mazhab Syafi’i.
Dalam bidang tasawuf dikenal karya beliau yaitu ‘Umdat Al-Muhtajin ila Suluk Maslak Al-Mufridin, Kifayat Al-Muhtajin ila Masyrab Al-Muwahhidin Al-Qailin bi Waḥdah Al-Wujud, dan masih banyak yang lainnya. Dalam bidang tafsir adalah Tarjumân Al-Mustafîd ini yang menjadi di antara magnum opus yang ditulisnya. Dengan kedalaman keilmuan yang beliau punya, menjadi menarik untuk mengulas perihal gaya maupun sistematika penafsiran beliau. Kali ini kita akan mulai dari surah pembuka, yakni surah Al-Fatihah.
Perlu diketahui sebelumnya, bahwa secara metode penafsiran, Tarjuman Al-Mustafid yang ditulis ‘Abdur Rauf As-Singkili ini terkategorisasi sebagai metode ijmali. Metode ini pula yang terlihat pada penafsiran surah Al-Fatihah di tafsir ini. Beliau memulai penafsirannya dengan menjelaskan klasifikasi surah Al-Fatihah yang merupakan surah Makiyyah dan jumlah ayatnya yang berjumlah tujuh ayat. Kemudian beliau menuliskan keutamaan surah ini, dengan menukil pendapat Al-Baydhawi serta Manafi’ Al-Qur’an, sebagai berikut:
…مك ترسبت ددالم بيضاوى بهوا فاتحة ايت فناور بݢي تيف٢ فپاكيت دان ترسبت ددالم منافع القرآن بر ڠسیاف ممباچدی اداله بݢيڽ درفد فهلاڽ يڠ تیاد دافت مڠݢندائی دی کتاب دان ممبرى منفعة اكن بربايك٢ أورڠ دان فركاسيه، والله أعلم.
Artinya: …maka tersebut di dalam Baydhâwi bahwa Fatihah itu penawar bagi tiap-tiap penyakit dan tersebut dalam Manâfi’ Al-Qur’ân, barang siapa membaca dia adalah baginya daripada pahalanya yang tiada dapat menggandai dia kitab dan memberi manfaat akan berbanyak-banyak orang dan perkasih, Wa Allahu A’lam.
Dengan mengacu pada dua sumber tersebut, secara tidak langsung beliau menjelaskan beberapa keutamaan dari surah ini. Pertama, penawar bagi setiap penyakit. Kedua, pembacanya akan memperoleh ganjaran yang tidak dapat ditandingi nilainya dengan kitab lainnya. Ketiga, tidak hanya mendatangkan dampak baik bagi pembacanya, tetapi juga turut meluas bagi orang banyak di sekitarnya. Dan keempat, menjadi sarana menumbuhkan cinta dan kasih sayang orang lain.
Sistematika ataupun gaya yang sama akan ditemui pada penafsiran surah-surah selanjutnya. Ini menunjukkan bagaimana Tarjuman Al-Mustafid tidak ditujukan sebagai karya akademis yang rigid pun gersang, melainkan memosisikan dirinya sebagai rujukan yang memberikan panduan dengan tujuan menjadikan Al-Qur’an terasa dekat dan relevan.
Tujuan utamanya adalah pendidikan dan pengamalan, di mana Al-Qur’an diposisikan sebagai medium penyembuhan dan terutamanya sebagai sumber keberkahan.
Orientasi demikian pula tersirat ketika memasuki penafsiran ayat pertama, berikut:
دڠن نام الله يڠ أمة موره ددالم دنیا این لاڬي يڠ أمة مڠاسهاني همباڽ يڠ مؤمن ددالم نڬري آخرة ايت جوا كو مڠامبل برکة فد ممباچ فاتحة اين.
Artinya: Dengan nama Allah yang amat murah di dalam dunia ini lagi yang amat mengasihani hamba-Nya yang mukmin di dalam negeri akhirat itu jua ku mengambil berkat pada membaca Fatihah ini.
Di sini beliau membedakan Ar-Rahman dengan Ar-Rahim sebagai halnya pula pada penafsiran beliau terhadap ayat ketiga surah ini, berikut:
لاݢي توهن يڠ أمة موره ددالم دنيا اين لاݢي يڠ أمة مڠسهاني همباڽ يڠ مؤمن ددالم نݢرى آخرة.
Artinya: Lagi Tuhan yang amat murah di dalam dunia ini, lagi yang amat mengasihani hamba-Nya yang mukmin di dalam negeri akhirat.
Ar-Rahmân diidentifikasi sebagai pengasih-Nya Allah kepada seluruh makhluk di dunia, sementara Ar-Rahîm sebagai penyayang-Nya Allah bagi kaum mukmin di akhirat. Pembedaan tersebut sebagai halnya ditemukan dalam tafsir-tafsir klasik. Tetapi yang menarik adalah penggalan pernyataan akhir beliau tersebut, yang memberi maksud tabarruk di sana.
Dan pada ayat kedua beliau menulis: “segala puji tsabit bagi Allah Tuhan yang mempunyai segala makhluk.” Ada yang menarik dari penggunaan kata tsabit di sini, bahwa pujian itu melekat secara absolut hanya pada Allah. Bukanlah sesuatu yang baru dengan ketergantungannya terhadap pemberian pujian oleh makhluk. Pujian itu telah ada dan selalu ada, permanen dan abadi, sejak azali.
Kemudian pada ayat keempat beliau menulis: “Raja yang memerintahkan pada hari kiamat.” Terdapat makna dengan penggunaan kata Raja untuk menerjemahkan kata Malik pada ayat keempat Surah Al-Fatihah ini. Bahwa beliau tidak hanya menerjemahkan kata tersebut sebagai Pemilik, dengan memilih menggunakan kata Raja, bahkan beliau menambahkan frasa “yang memerintahkan.”
Ini menekankan akan otoritas aktif Allah dan penegasian akan kekuasaan yang lain. Bahwa segala bentuk otoritas maupun kekuasaan telah sirna pada hari itu. Dan yang menarik pula pada bagian penafsiran ayat keempat ini, beliau memperlihatkan kepiawaiannya pada bidang ilmu qira’at. Pembahasan itu beliau letakkan pada yang beliau tulis sebagai Faidah (فائدة). Berikut beliau menulis:
…مڽتاكن اختلاف انتارا سڬل قاري يڠ تيڬ فد ممباچ ملك مك أبو عمر دان نافع اتفاق كدواڽ اتس مماچ ملك دڠن تياد ألف دان حفص دڠن الف مك اداله معناڽ تتكال دياچ دڠن الف توهن يڠ ممڤوڽائي شڬل فكرجأن هارى قيمة.
Artinya: …menyatakan ikhtilaf antara segala Qari yang tiga pada membaca Malik. Maka Abu ‘Amr dan Nafi’ ittifaq keduanya atas membaca Malik dengan tiada alif, dan Hafsh dengan alif. Maka adalah makna-Nya tatkala dibaca dengan alif; Tuhan yang mempunyai segala pekerjaan hari kiamat.
Beliau menjelaskan perbedaan membaca para Qari dalam membaca ayat keempat ini, sekaligus beliau menerangkan implikasi makna dari perbedaan cara membaca tersebut. Kemudian, pada ayat selanjutnya beliau menulis: “kami tentukan akan Dikau ibadah dan kami tuntut daripada-Mu tolong atas berbuat ibadat dan yang lainnya.”
Di sini terkandung makna bahwa untuk dapat melaksanakan ibadah pun, seorang hamba perlu secara mutlak pertolongan Allah. Dan pada penafsiran ayat selanjutnya, sampai akhir, terdapat identifikasi golongan yang dimurkai dan golongan yang sesat sebagai halnya penafsiran yang lazim dalam tafsir-tafsir klasik.
Demikian penafsiran beliau pada Surah Al-Fatihah ini, semoga dapat merepresentasikan karakteristik beliau sebagai seorang mufasir, serta seperti apa sistematikan pun gaya dari tafsir ini.
Oleh: Bima Wahyudin Rangkuti.









Leave a Comment