Harakatuna.com – Minggu ini, saya mengubah kebiasaan kerja freelance dengan meluangkan waktu untuk membaca buku. Buku yang saya baca berjudul The Things You Can See Only When You Slow Down karya Haemin Sunim, seorang penulis dan guru agama Buddha berdarah Korea yang berkebangsaan Amerika Serikat. Saya baru mengenal buku ini setelah ikut serta dalam sebuah diskusi di kantor, di mana kebetulan teman saya sendiri yang membedah isinya.
Yang menarik dari buku ini, sejauh yang saya baca, adalah tentang motivasi diri dalam menjalani hidup dengan damai, serta pentingnya meditasi sebagai cara untuk mencapai ketenangan tersebut. Meditasi, biasanya, banyak dipraktikkan oleh pemeluk agama Buddha. Namun, dalam Islam, praktik serupa dikenal dengan istilah “khalwat”, yaitu menyepi di tempat yang sunyi untuk memusatkan pikiran.
Berbicara tentang meditasi, saya teringat pada Nabi Muhammad SAW yang sering menyendiri di Gua Hira. Di sana, beliau menerima wahyu pertama dari Allah berupa surah al-Alaq ayat 1 sampai 5. Isi surah ini mengandung perintah untuk “membaca”. Pada saat itu, Nabi Muhammad tidak membawa buku di Gua Hira. Oleh karena itu, objek membaca dalam perintah tersebut tidak dijelaskan secara spesifik. Dalam kaidah tafsir, objek yang tidak disebutkan berarti bersifat umum. Dengan kata lain, perintah membaca di sini bisa merujuk pada apa saja, termasuk membaca alam sekitar.
Mengapa membaca itu penting? Mungkin pertanyaan ini muncul di benak kita. Membaca sering kali disebut sebagai langkah awal untuk memperoleh pengetahuan. Seorang penulis harus membaca sebelum menulis. Begitu pula dengan pendakwah, ustaz, dosen, dan lain sebagainya. Tanpa membaca, seseorang tidak akan sampai pada tujuan yang diinginkan. Seorang penulis pernah berpesan, “Penulis yang baik adalah pembaca yang baik.” Membaca adalah kunci dari aktivitas-aktivitas lainnya.
Mengabaikan aktivitas membaca bisa berakibat fatal. Di zaman sekarang, banyak ustaz yang ceramah di sana-sini dengan hanya bermodalkan pengetahuan yang dangkal. Akibatnya, isi ceramah mereka bukan mencerahkan, melainkan menyesatkan. Ustaz-ustaz semacam ini sering kali memprovokasi jemaah mereka untuk menghujat orang yang berbeda pemikiran atau agama dengan sebutan “kafir”, bahkan mencuci otak jemaah untuk melakukan jihad dalam bentuk aksi terorisme. Na’udzubillah!
Sejauh yang saya tahu, dakwah Nabi Muhammad SAW tidak pernah bersifat provokatif seperti itu. Beliau berdakwah dengan hati, sehingga banyak orang yang menerima ajarannya dengan hati pula. Salah satu contoh adalah Umar bin Khattab, yang awalnya berniat membunuh Nabi. Namun, berkat doa Nabi, hatinya terbuka untuk menerima hidayah, dan ia akhirnya memeluk Islam.
Bahkan, Nabi tidak pernah menyebut orang kafir hanya karena perbedaan agama. Saya pernah membaca kisah ketika Nabi Muhammad diundang oleh seorang tokoh Nasrani bernama Bahira untuk menghadiri sebuah jamuan. Nabi berbicara dengan Bahira secara akrab, tanpa mengucapkan satu pun kata yang dapat menyakiti hatinya. Sungguh mulia sikap Nabi!
Sikap mulia Nabi Muhammad ini kemudian dicontoh oleh Walisongo dalam menyebarkan Islam di Nusantara. Islam yang mereka ajarkan penuh dengan rahmat, sehingga masyarakat Nusantara berbondong-bondong memeluk Islam dengan hati yang rela, tanpa paksaan. Namun, dakwah penuh kasih sayang ini tampaknya mulai dilupakan oleh sebagian ustaz masa kini yang lebih memilih cara yang kasar dan arogan, sehingga justru menimbulkan ketakutan bagi orang yang ingin mengenal Islam.
Saya menduga, ustaz-ustaz yang berdakwah dengan cara kasar dan arogan mungkin kurang gemar membaca. Biasanya, mereka berdakwah demi kepentingan pribadi, seperti bisnis. Mereka bahkan tidak segan-segan memanipulasi jemaah untuk bersedekah, tetapi hasilnya justru mereka ambil sendiri. Mereka juga memprovokasi jemaah untuk melakukan aksi-aksi terorisme karena mendapat sokongan dana. Dalam hal ini, jelas yang dirugikan adalah umat. Jemaah yang datang untuk mencari ilmu dan hidayah, justru pulang membawa dosa karena perbuatannya bertentangan dengan ajaran agama.
Sebagai penutup, setiap pendakwah atau siapa pun harus menjadikan membaca sebagai prioritas agar tidak menimbulkan kemudaratan baru. Dakwah yang baik pasti membawa dampak baik. Sebaliknya, jika ada dakwah yang menimbulkan keburukan seperti aksi-aksi terorisme, itu bukan dakwah, melainkan provokasi. Dakwah berbeda dengan provokasi. Nabi Muhammad berdakwah, sedangkan Abu Lahab suka memprovokasi. Kira-kira, mereka yang gemar provokasi itu mengikuti Nabi atau Abu Lahab?[] Shallallahu ala Muhammad.








Leave a Comment