Judul Buku: Tribes and Politics in Yemen: A History of the Houthi Conflict, Penulis: Marieke Brandt, Penerbit: Oxford University Press, Tahun Terbit: 2024, Tanggal Publikasi: 1 Mei 2024, Bahasa: Inggris, Tebal Buku: 466 halaman, Dimensi Buku: 5.1 × 1.7 × 8 inci, ISBN-10: 0197783252, ISBN-13: 978-0197783252, Berat Buku: 1.25 pounds, Peresensi: Shireen Ateefa Mahmood.
Harakatuna.com – Di tengah melimpahnya analisis geopolitik tentang konflik Yaman, banyak tulisan cenderung menyederhanakan perang yang kompleks itu ke dalam dua kerangka besar: rivalitas regional antara Iran dan Arab Saudi, atau konflik sektarian antara Sunni dan Syiah.
Dalam banyak laporan media internasional, gerakan Houthi hampir selalu digambarkan sebagai bagian dari “proxy war” Timur Tengah yang lebih luas. Namun, pendekatan seperti ini sering kali gagal menjelaskan satu pertanyaan mendasar: mengapa konflik tersebut muncul dan berkembang justru di wilayah tertentu di Yaman, dan mengapa ia mampu memperoleh dukungan sosial yang cukup kuat di tingkat lokal?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi titik berangkat buku Tribes and Politics in Yemen: A History of the Houthi Conflict karya antropolog politik Marieke Brandt. Buku ini menawarkan pendekatan yang berbeda dari banyak studi sebelumnya. Alih-alih melihat konflik Houthi semata sebagai fenomena geopolitik regional atau konflik ideologis, Brandt mengajak pembaca untuk memahami konflik tersebut dari perspektif masyarakat lokal di Provinsi Sa’dah, wilayah pegunungan di Yaman utara yang menjadi basis historis gerakan Houthi.
Dengan pendekatan antropologi politik yang kuat, Brandt menunjukkan bahwa konflik Houthi sebenarnya berakar jauh lebih dalam dalam sejarah sosial dan politik Yaman utara. Ia bukan sekadar pemberontakan religius atau proyek ideologis, melainkan hasil dari transformasi panjang yang berlangsung sejak dekade 1960-an.
Perubahan struktur kekuasaan yang terjadi setelah runtuhnya sistem imamah Zaydi dalam Perang Sipil Yaman utara menciptakan dinamika baru di masyarakat. Pergeseran kekuasaan tersebut memicu kompetisi antara elite lokal, jaringan suku, serta kelompok religius yang sebelumnya memiliki posisi sosial tertentu dalam struktur tradisional.
Brandt berargumen bahwa konflik Houthi tidak dapat dipahami tanpa melihat struktur masyarakat tribal Yaman. Di wilayah seperti Sa’dah, suku bukan sekadar identitas sosial, tetapi juga kerangka dasar bagi distribusi kekuasaan, otoritas moral, dan akses terhadap sumber daya.
Hubungan antarsuku, aliansi keluarga, serta jaringan patronase memainkan peran penting dalam menentukan bagaimana konflik berkembang dan bagaimana dukungan sosial terbentuk. Dalam konteks ini, banyak aktor yang muncul dalam konflik Houthi bukanlah figur baru dalam sejarah politik lokal, melainkan bagian dari jaringan keluarga dan kelompok yang telah lama terlibat dalam kompetisi kekuasaan sejak masa perang saudara pada 1960-an.
Salah satu kontribusi utama buku ini adalah kemampuannya menunjukkan bahwa konflik di Yaman bersifat sangat personal dan lokal. Meskipun simbol agama dan identitas sektarian kerap digunakan dalam mobilisasi politik, faktor utama yang mendorong konflik sering berkaitan dengan perebutan pengaruh, akses terhadap sumber daya, serta status sosial dalam masyarakat lokal. Konflik Houthi lebih tepat dipahami sebagai hasil dari persaingan sosial dan politik yang berakar pada sejarah lokal, bukan sekadar manifestasi dari konflik ideologis global.
Pendekatan Brandt juga unik dari segi metodologi. Buku ini merupakan hasil dari penelitian lapangan yang panjang di Yaman, di mana penulis melakukan observasi langsung terhadap masyarakat lokal serta membangun jaringan hubungan dengan berbagai aktor sosial di wilayah tersebut.
Ketika kondisi keamanan membuat penelitian lapangan menjadi sulit, Brandt melengkapinya dengan pendekatan antropologi digital untuk melacak dinamika sosial dan politik yang berkembang di antara komunitas lokal. Kombinasi metode ini memungkinkan buku tersebut menghadirkan gambaran yang sangat rinci tentang kehidupan sosial masyarakat di Sa’dah serta bagaimana konflik Houthi berkembang dari waktu ke waktu.
Melalui pendekatan ini, Brandt pada dasarnya menantang narasi dominan yang sering digunakan dalam analisis konflik Timur Tengah. Ia menunjukkan bahwa memahami konflik Yaman hanya melalui perspektif geopolitik regional dapat menutupi kompleksitas realitas lokal yang justru menjadi faktor paling menentukan dalam perkembangan konflik tersebut.
Dengan menempatkan masyarakat lokal sebagai pusat analisis, buku ini membuka cara pandang baru untuk melihat bagaimana konflik internal dapat muncul, bertahan, dan kemudian berkembang menjadi krisis yang melibatkan aktor regional dan internasional.
Namun, kekuatan utama buku ini bukan hanya terletak pada argumen teoretisnya, tetapi juga pada kemampuannya menghadirkan detail kehidupan sosial yang sering luput dari analisis politik. Brandt menggambarkan hubungan antar keluarga, jaringan suku, dan dinamika lokal dengan kedalaman etnografis yang jarang ditemukan dalam studi tentang konflik Yaman.
Melalui narasi yang kaya data dan pengalaman lapangan, pembaca dapat melihat bagaimana konflik yang tampak sebagai perang besar di tingkat internasional sebenarnya terbentuk dari interaksi sosial yang sangat lokal dan personal.
Di situlah letak nilai penting buku ini: ia mengingatkan bahwa di balik konflik geopolitik yang kompleks, selalu terdapat masyarakat dengan sejarah, relasi sosial, dan dinamika kekuasaan yang unik. Memahami dimensi lokal tersebut bukan hanya penting bagi kajian akademik, tetapi juga bagi upaya memahami mengapa konflik seperti yang terjadi di Yaman dapat berlangsung begitu lama dan sulit diselesaikan.
Lantas bagaimana konflik yang pada awalnya bersifat lokal di Provinsi Sa’dah perlahan berkembang menjadi krisis nasional dan akhirnya menjadi konflik regional yang melibatkan banyak aktor eksternal.
Brandt menelusuri secara rinci bagaimana jaringan sosial, aliansi suku, dan kompetisi elite lokal membentuk dinamika konflik sejak awal munculnya gerakan Houthi pada awal 2000-an. Gerakan yang kemudian dikenal sebagai Ansar Allah ini awalnya muncul dari lingkungan religius Zaydi di wilayah pegunungan Yaman utara.
Namun Brandt menunjukkan bahwa perkembangan gerakan tersebut tidak dapat dijelaskan semata sebagai kebangkitan identitas religius. Ia juga berkaitan dengan ketegangan yang telah lama berkembang antara masyarakat Sa’dah dan pemerintah pusat di ibu kota Sanaa.
Sejak dekade 1990-an, pemerintah Yaman di bawah Presiden Ali Abdullah Saleh berusaha memperkuat kontrol negara atas wilayah-wilayah periferal yang sebelumnya relatif otonom. Kebijakan ini sering kali memicu ketegangan dengan jaringan suku lokal yang telah lama mengatur kehidupan sosial dan politik di wilayah tersebut. Di Sa’dah, upaya negara untuk memperluas pengaruh administratif dan militer sering dipandang oleh masyarakat lokal sebagai ancaman terhadap keseimbangan kekuasaan tradisional.
Brandt menjelaskan bahwa konflik yang kemudian dikenal sebagai “Perang Sa’dah” pada 2004 tidak muncul secara tiba-tiba. Ia merupakan akumulasi dari ketegangan politik, ekonomi, dan sosial yang telah berkembang selama beberapa dekade.
Ketika pemerintah pusat memandang gerakan Houthi sebagai ancaman keamanan, respons militer yang keras justru memperluas basis dukungan gerakan tersebut di kalangan masyarakat lokal. Dalam banyak kasus, solidaritas suku dan hubungan keluarga memainkan peran penting dalam menentukan posisi masyarakat dalam konflik.
Melalui analisis yang sangat detail, Brandt memperlihatkan bagaimana konflik tersebut berkembang melalui jaringan hubungan sosial yang kompleks. Aliansi antar suku dapat berubah dengan cepat, konflik lokal dapat meluas menjadi konfrontasi yang lebih besar, dan keputusan individu, baik pemimpin suku maupun aktor politik, sering kali memiliki dampak yang luas terhadap dinamika konflik.
Dengan pendekatan tersebut, Brandt menggambarkan konflik Houthi sebagai proses sosial yang terus berubah, bukan sebagai peristiwa tunggal yang dapat dijelaskan melalui satu faktor saja.
Namun buku ini tidak berhenti pada analisis konflik lokal. Brandt juga menunjukkan bagaimana konflik di Sa’dah secara bertahap menarik perhatian aktor regional. Ketika ketegangan di Yaman meningkat setelah gelombang perubahan politik di Timur Tengah pada awal 2010-an, konflik yang sebelumnya bersifat domestik mulai dilihat melalui lensa geopolitik. Rivalitas regional antara Iran dan Arab Saudi kemudian memperkuat persepsi bahwa konflik Houthi merupakan bagian dari pertarungan pengaruh di kawasan.
Transformasi konflik lokal menjadi perang regional mencapai titik penting ketika koalisi militer yang dipimpin oleh Arab Saudi meluncurkan operasi militer Operation Decisive Storm pada tahun 2015. Intervensi ini menandai perubahan besar dalam dinamika konflik Yaman. Apa yang sebelumnya merupakan konflik internal kini berubah menjadi perang yang melibatkan berbagai kekuatan regional serta memiliki dampak kemanusiaan yang sangat luas.
Salah satu kelebihan utama buku Brandt adalah kemampuannya menjelaskan bagaimana konflik lokal dapat “bermetastasis” menjadi konflik regional. Dengan menggunakan istilah tersebut, para pengulas buku ini menekankan bahwa konflik yang awalnya terbatas di wilayah tertentu dapat berkembang menjadi krisis geopolitik yang jauh lebih besar ketika berbagai aktor eksternal mulai terlibat. Analisis Brandt menunjukkan bahwa tanpa memahami akar sosial dan politik konflik di tingkat lokal, sulit untuk memahami mengapa konflik tersebut dapat berkembang menjadi perang yang lebih luas.
Di luar kontribusinya terhadap pemahaman konflik Houthi, buku ini juga memiliki nilai metodologis yang penting bagi studi politik Timur Tengah. Dengan menggabungkan pendekatan sejarah, antropologi, dan analisis politik, Brandt menunjukkan bahwa studi tentang konflik tidak cukup sebatas mengandalkan analisis kebijakan atau geopolitik. Pemahaman tentang masyarakat lokal, termasuk struktur suku, hubungan keluarga, dan dinamika sosial, menjadi kunci untuk menjelaskan bagaimana konflik berkembang.
Meski demikian, kompleksitas buku ini juga dapat menjadi tantangan bagi pembaca. Banyaknya aktor lokal, jaringan keluarga, serta aliansi suku yang dibahas dalam buku tersebut membuat narasinya cukup padat dan membutuhkan perhatian khusus dari pembaca. Namun justru di situlah kekuatan karya ini: ia memperlihatkan bahwa realitas politik di Yaman memang sangat kompleks dan tidak dapat disederhanakan ke dalam narasi konflik yang terlalu sederhana.
Buku Tribes and Politics in Yemen: A History of the Houthi Conflict memberikan kontribusi penting bagi upaya memahami konflik Yaman secara lebih mendalam. Buku ini mengingatkan bahwa di balik narasi geopolitik tentang perang regional terdapat dinamika sosial lokal yang jauh lebih kompleks.
Dengan menempatkan masyarakat Sa’dah sebagai pusat analisis, Brandt berhasil menunjukkan bagaimana konflik yang tampak sebagai pertarungan kekuatan besar sebenarnya berakar pada sejarah lokal, jaringan sosial, dan kompetisi kekuasaan yang telah berlangsung lama.
Dalam konteks Timur Tengah kontemporer, pelajaran dari buku ini sangat relevan. Ia menunjukkan bahwa memahami konflik modern tidak cukup dengan melihat peta geopolitik atau rivalitas negara saja. Konflik lahir dari dinamika sosial yang sangat lokal, yang kemudian berkembang menjadi krisis yang melibatkan aktor regional dan internasional. Tanpa memahami dimensi lokal tersebut, setiap upaya untuk menjelaskan, atau bahkan menyelesaikan, konflik seperti yang terjadi di Yaman akan selalu menghadapi keterbatasan.
Dengan kedalaman penelitian, kekayaan data etnografis, serta analisis historis yang tajam, karya Marieke Brandt ini layak dianggap sebagai salah satu referensi paling penting dalam studi tentang politik Yaman dan konflik Houthi. Buku ini bukan sekadar membantu pembaca memahami masa lalu konflik tersebut, tetapi juga memberikan kerangka analisis yang penting untuk melihat bagaimana masa depan politik Yaman mungkin akan berkembang.









Leave a Comment