Memaknai Kembali Ruhul Jihad

Harakatuna

13/11/2025

4
Min Read
Propaganda Jihad sebagai Jalan Manipulasi Ajaran Islam

On This Post

Harakatuna.com – Ruhul jihad terdiri dari dua kata, yaitu ruh yang berarti jiwa, energi atau inti dari sesuatu dan jihad yang berarti perjuangan. Maka secara sederhana ruhul jihad berarti energi atau semangat perjuangan. Hanya saja, sering kali makna jihad ini dipersempit berkaitan dengan perang di jalan Allah Swt. Jika dilihat, ayat-ayat Al-Quran tentang jihad turun dalam dua periode, yaitu periode Mekah dan Madinah. Ayat yang turun pada periode Makkah lafal jihad tidak bermakna qital (perang). Karena qital (perang) itu sendiri baru diizinkan Allah Swt terhadap kaum Muslimin guna membela diri pada periode Madinah dengan turunnya surat Al-Hajj [22] ayat 39-40. 

اُذِنَ لِلَّذِيْنَ يُقَاتَلُوْنَ بِاَنَّهُمْ ظُلِمُوْاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ عَلٰى نَصْرِهِمْ لَقَدِيْرٌ ۙ – ٣٩

Artinya: Diizinkan (berperang) kepada orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka dizalimi. Dan sungguh, Allah Maha Kuasa menolong mereka itu. (Al-Hajj/ 22: 39)

Berdasarkan hal tersebut dapat ditegaskan bahwa lafal jihad tidaklah terbatas dalam perang saja, sebab lafal jihad telah diserukan Allah Swt dan dilaksanakan Nabi Muhammad Saw dalam rangka untuk menegakkan agama Islam jauh sebelum ayat yang memperbolehkan perang turun di Madinah.

Jihad adalah sebuah akhlak yang mengedepankan kesungguhan dan ketekunan dalam beramal. Sebagaimana yang disebutkan An-Naisaburi bahwa jihad adalah mencurahkan kesungguhan dalam meraih tujuan.  Menurut Quraish Shihab dalam tafsir Al-Misbah, jihad mempunyai dua makna. Pertama, mencurahkan segala kemampuan atau menanggung pengorbanan. Kedua, bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu. Firman Allah Swt, 

وَمَنْ جَاهَدَ فَاِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهٖ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ – ٦

Artinya: Dan barangsiapa yang berjihad (bersungguh-sungguh), maka sesungguhnya kesungguhannya itu adalah untuk dirinya sendiri. (Al-Ankabut [29]: 6). 

Dengan demikian bentuk jihad bisa beragam. Seorang pelajar berjihad dengan tekun belajar, seorang guru berjihad dengan mengajar, sehingga belajar dan mengajar merupakan sebuah jihad. Sabda Rasulullah Saw:

مَن جاءَ مَسجِدي هذا لم يَأتِهِ إلَّا لِخيرٍ يتعلَّمُهُ أو يعلِّمُهُ فَهوَ بمنزلةِ المجاهِدِ في سبيلِ اللَّهِ ومن جاءَ لغيرِ ذلِكَ فَهوَ بمنزلةِ الرَّجُلِ ينظرُ إلى متاعِ غيرِهِ

Artinya: Siapa pun yang memasuki masjidku ini hanya untuk mengajar kebaikan atau untuk belajar, sesungguhnya dia berada di posisi berjihad di jalan Allah dan siapa yang datang untuk selain itu maka ia sedang melihat perhiasan yang lainnya. (HR. Ibnu Majah, Ahmad)

Bahkan menunaikan haji pun dinilai sebagai jihad. 

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلَى النِّسَاءِ جِهَادٌ قَالَ نَعَمْ عَلَيْهِنَّ جِهَادٌ لَا قِتَالَ فِيهِ الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ

Artinya: Aisyah r.a bertanya, Wahai Rasulullah adakah jihad bagi perempuan? Rasulullah saw. bersabda, “Ada, bagi mereka perempuan ada jihad yang tidak ada peperangan padanya, yaitu Haji dan Umrah”. (HR. Ibnu Majah). 

Begitu pula dengan seorang anak, jihadnya adalah dengan berbakti kepada orang tua. Dari Abdullah bin ‘Amr ra, ada anak yang meminta izin untuk ikut berjihad (perang). Beliau Saw bertanya, 

أَحَيٌّ وَالِدَاكَ؟ قَالَ: نَعَمْ. فقال: فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ.

Artinya: “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Ia menjawab, Ya. Beliau bersabda, “kalau begitu, berjihadlah untuk kedua orang tuamu”. (Muttafaq ‘Alaih).

Pada praktiknya peran jihad yang paling utama adalah upaya dengan kesungguhan untuk mengendalikan diri dari hawa nafsu guna melawan pengaruh buruk dari setan. Sabda Rasulullah Saw.

أَفْضَلُ الْجِهَادِ أَنْ يُجَاهَدَ الرَّجُلُ نَفْسَهَ وهَوَاهُ

Artinya: Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad (berjuang) melawan dirinya dan hawa nafsunya (HR. Abu Na’im dari Abu Dzarr Al-Ghifari, shahih).

Peran jihad juga bisa dengan menunjukkan eksistensi ajaran atau syariah Islam. Upayanya adalah dengan menuntut diri untuk melakukan ketaatan dan menjauhi larangan Allah Swt dan Rasul-Nya. Sabda Rasulullah Saw:

وَالْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ

Artinya: Mujahid itu adalah orang yang bersungguh-sungguh terhadap dirinya dalam ketaatan kepada Allah dan Muhajir itu adalah orang yang berhijrah (menjauhi) dari larangan Allah. (HR. Ahmad 6/21, sanadnya sahih)

Meningkatnya fasilitas di bidang teknologi dan informasi memudahkan manusia dalam segala bidang. Manusia sangat mudah untuk mengakses informasi, komunikasi dan bahkan sekedar untuk hiburan. Di antara dampak buruknya manusia diliputi dengan mentalitas instan dan serba ingin mudah yang membawa kepada rasa malas dan pragmatis dalam beramal. Manusia mudah untuk dipengaruhi atau digiring pada kelalaian yang  membawa terlena dengan khayalan kosong.

Pada gilirannya ruhul jihad ini menjadi penting untuk dimaknai kembali sebagai sebuah upaya menegakkan jihad atau kesungguhan amal ibadah, sehingga manusia mampu melawan pelbagai rintangan yang akan dihadapi. Ruhul jihad harus diartikan sebagai dorongan kuat untuk menjalankan amal ibadah dan kewajiban syariat dengan penuh dedikasi, konsistensi, dan keikhlasan.

Ruhul jihad menjadi sebuah semangat yang berfungsi sebagai motivasi internal untuk mengatasi tantangan, kesulitan, dan hambatan dalam menjalankan perintah agama serta menjalani kehidupan yang bermartabat dan bermakna. Ini mencakup rintangan pribadi, sosial, maupun material. Termasuk melawan pola pikir dan orientasi yang cenderung pragmatis, serba instan dan hedonis.

Oleh: H. Risyan Moehamad Taufik, Lc., M.Ag. (Pengajar Pesantren Sains dan Teknologi Darul Hikam Bandung. Pembimbing Haji dan Umroh Qiblat Tour Bandung).

Leave a Comment

Related Post