Judul Buku: The Rise of ISIS: Background and Perspective from the UK and U.S., Penulis/Editor: Christine Fuller, Penerbit: Nova Science Publishers, Kota Terbit: New York, Tahun Terbit: 2015, Tebal Buku: 205 halaman, ISBN: 978-1-63483-178-9, Peresensi: Reza Pradipta Alghifary.
Harakatuna.com – Buku The Rise of ISIS: Background and Perspective from the UK and U.S. yang diedit oleh Christine Fuller berfokus pada penjelasan mengenai latar belakang kemunculan serta perkembangan kelompok teror ISIS di kawasan Timur Tengah, khususnya Irak dan Suriah, berdasarkan perspektif Barat. Buku tersebut berusaha memberikan pemahaman mengenai bagaimana kelompok tersebut berkembang, dari sebuah gerakan pemberontakan lokal menjadi organisasi bersenjata yang jadi perhatian internasional.
Buku yang dieditori Fuller mencoba menyoroti perspektif kebijakan dan keamanan dari AS dan Inggris, buku ini menggambarkan dinamika politik, militer, dan sosial yang melatarbelakangi munculnya ISIS serta respons internasional terhadapnya. Buku ini menelusuri akar historis kemunculan ISIS yang berkaitan erat dengan situasi politik Irak setelah peristiwa 2003 invasi Irak yang dipimpin AS dan sekutunya.
Setelah runtuhnya pemerintahan Saddam Hussein, struktur politik dan keamanan Irak mengalami perubahan besar yang menimbulkan ketegangan sektarian antara kelompok Sunni dan Syiah. Kondisi itu memunculkan berbagai bentuk pemberontakan dari kelompok Sunni yang merasa kehilangan posisi politik dan kekuasaan yang sebelumnya mereka miliki. Di situlah ISIS berkembang dari jaringan militan yang awalnya merupakan bagian dari gerakan perlawanan terhadap pendudukan asing di Irak.
Buku ini juga menjelaskan bahwa perkembangan ISIS tidak dapat dipisahkan dari dinamika konflik regional, terutama perang saudara di Suriah yang menciptakan kekosongan kekuasaan di beberapa wilayah. Kekacauan politik dan militer di negara tersebut memberikan peluang bagi ISIS untuk memperluas pengaruhnya dan menguasai sejumlah wilayah yang mayoritas penduduknya beraliran Sunni.
Dengan memanfaatkan situasi tersebut, ISIS berhasil membangun basis kekuatan yang lebih terorganisasi serta mendirikan pusat kekuasaan yang mereka klaim sebagai ibu kota pemerintahan mereka di Suriah. Melalui penguasaan wilayah ini, ISIS tidak saja beroperasi sebagai kelompok militan, namun juga berupaya membentuk struktur pemerintahan dan sistem administrasi di wilayah yang mereka kuasai.
Selain menjelaskan faktor-faktor yang mendorong pertumbuhan ISIS, buku ini juga membahas berbagai pandangan mengenai komposisi dan kepemimpinan organisasi tersebut. Salah satu argumen yang muncul dalam analisis buku The Rise of ISIS ini adalah kemungkinan keterlibatan mantan pejabat militer dan aparat keamanan dari rezim Saddam Hussein yang telah dibubarkan setelah invasi Irak.
Beberapa analis berpendapat bahwa orang-orang tadi berperan penting dalam membentuk kemampuan militer ISIS, karena mereka memiliki pengalaman dalam strategi militer dan organisasi keamanan. Dengan demikian, ISIS tidak sekadar dipahami sebagai kelompok ideologis berbasis agama, melainkan juga sebagai organisasi yang memanfaatkan pengalaman militer dan jaringan politik dari masa lalu.
Pada bagian lain, buku ini juga menyoroti bagaimana ekspansi ISIS memicu reaksi dari berbagai aktor internasional. Negara-negara Barat, khususnya AS dan Inggris, memandang keberadaan ISIS sebagai ancaman terhadap stabilitas kawasan serta terhadap kepentingan keamanan internasional.
Namun demikian, buku ini menunjukkan bahwa respons terhadap ISIS tidak selalu terkoordinasi secara efektif karena adanya perbedaan kepentingan politik dan strategi di antara negara-negara yang terlibat. Pemerintah Irak dan Suriah memiliki orientasi politik dan aliansi strategis yang berbeda, sementara negara-negara regional dan kekuatan global juga memiliki prioritas yang tidak selalu sejalan dalam menangani konflik tersebut.
Buku ini memberikan gambaran mengenai kompleksitas situasi yang memungkinkan ISIS berkembang serta tantangan yang dihadapi oleh komunitas internasional dalam merespons kelompok tersebut. Buku ini berusaha menjelaskan bagaimana ISIS muncul sebagai kekuatan signifikan di Timur Tengah serta mengapa upaya internasional untuk menanggulanginya menghadapi berbagai hambatan.
Menariknya, karya Fuller tersebut memberikan kontribusi penting dalam memahami dinamika kemunculan dan perkembangan ISIS di kawasan Timur Tengah. Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada upayanya untuk menempatkan kemunculan ISIS dalam konteks politik dan keamanan internasional yang lebih luas.
Fuller dkk. berhasil memperlihatkan bagaimana perubahan struktur politik dan keamanan di Irak membuka ruang bagi munculnya berbagai kelompok teror sekelas ISIS. Pendekatan tersebut membantu pembaca memahami bahwa kemunculan ISIS bukanlah fenomena yang terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil dari proses politik, militer, dan sosial yang berlangsung dalam jangka waktu yang panjang.
Selain itu, buku ini juga memiliki kelebihan dalam mengaitkan perkembangan ISIS dengan dinamika konflik regional, khususnya perang saudara di Suriah. Penjelasan mengenai bagaimana kekacauan politik di Suriah memberikan peluang bagi ISIS untuk memperluas wilayah kekuasaannya menunjukkan bahwa konflik bersenjata di Timur Tengah memiliki keterkaitan yang erat antara satu negara dengan negara lainnya. Buku ini berhasil menggambarkan bahwa ancaman yang ditimbulkan oleh ISIS tidak hanya bersifat lokal, tetapi juga memiliki dimensi regional dan internasional.
Namun demikian, buku ini juga memiliki beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan. Karena fokus utamanya adalah perspektif kebijakan dari AS dan Inggris, analisis yang disajikan cenderung didominasi oleh sudut pandang Barat. Akibatnya, perspektif masyarakat lokal di Irak dan Suriah tidak banyak mendapat perhatian yang mendalam.
Padahal, pemahaman mengenai kondisi sosial, ekonomi, dan politik masyarakat setempat sangat penting untuk menjelaskan mengapa kelompok seperti ISIS memperoleh dukungan atau setidaknya bertahan di wilayah-wilayah tertentu. Keterbatasan ini menunjukkan bahwa analisis dalam buku tersebut lebih menekankan aspek kebijakan luar negeri dan keamanan internasional dibandingkan dinamika sosial di tingkat lokal.
Beberapa pembahasan dalam buku ini juga terlalu menekankan pada dimensi militer dan keamanan, sehingga analisis mengenai aspek ideologi dan propaganda yang digunakan oleh ISIS tidak dibahas secara mendalam. Padahal, ideologi dan strategi komunikasi merupakan faktor penting dalam menjelaskan bagaimana organisasi tersebut mampu menarik anggota baru dan memperluas pengaruhnya secara global. Artinya, buku ini cocok dibaca sebagai kajian mengenai kebijakan dan strategi keamanan, namun belum sebagai analisis komprehensif mengenai gerakan ideologis ISIS itu sendiri.
Kendati demikian, secara keseluruhan, buku ini tetap memiliki nilai akademik yang signifikan, terutama bagi pembaca yang ingin memahami bagaimana negara-negara Barat merespons ancaman yang ditimbulkan oleh ISIS. Dengan menyajikan analisis mengenai latar belakang konflik, perkembangan organisasi, serta respons internasional terhadapnya, buku ini memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai kompleksitas situasi geopolitik di Timur Tengah pada masa munculnya ISIS. Buku ini layak menjadi referensi yang bagi kajian hubungan internasional maupun penelitian mengenai terorisme dan konflik di kawasan Timur Tengah.









Leave a Comment