Harakatuna.com. – Dalam kajian tafsir Al-Qur’an, banyak pendekatan yang digunakan untuk memahami maknanya secara lebih mendalam. Salah satu pendekatan yang menarik untuk dikaji adalah lewat kacamata hermeneutika Friedrich Schleiermacher, seorang filsuf Jerman abad ke-19 yang dikenal sebagai “Bapak Hermeneutika Modern”. Hermeneutika Schleiermacher ini menekankan pentingnya memahami teks dengan mencari makna asal dari apa yang dimaksud oleh penulisnya. Namun, apakah metode ini masih relevan jika diterapkan dalam penafsiran Al-Qur’an?
Pemikiran hermeneutika Friedrich Schleiermacher dapat dikategorikan ke dalam aliran objektivis atau yang dikenal juga dengan istilah aliran romantisisme.[1] Aliran ini merupakan aliran yang fokus pada pemahaman mendalam terhadap teks dengan tujuan mengembalikan makna yang dimaksud oleh penulis aslinya. Dalam hal ini, Schleiermacher mengusulkan dua pendekatan utama, yaitu hermeneutika gramatikal dan hermeneutika psikologis. Hermeneutika gramatikal menitikberatkan pada pemahaman struktur bahasa dan makna kata dalam teks, sedangkan hermeneutika psikologis berfokus pada pemahaman kondisi mental dan motivasi pengarang saat menulis teks tersebut.
Dalam konteks Al-Qur’an, beberapa prinsip dari hermeneutika Schleiermacher, khususnya hermeneutika gramatikal, tampaknya dapat memberikan kontribusi dan perspektif baru dalam kajian dan penafsiran Al-Qur’an. Berikut adalah tiga prinsip utama yang sangat relevan untuk diaplikasikan:[2]
Pemahaman Bahasa Asli Al-Qur’an
Prinsip pertama dalam hermeneutika Schleiermacher adalah bahwa penafsir harus memahami bahasa yang digunakan oleh pengarang teks dan audiens pada saat teks tersebut ditulis. Hal ini berarti bahwa seorang mufasir Al-Qur’an, harus mengerti dan memahami bahasa Arab yang digunakan pada saat Al-Qur’an diturunkan, baik dari segi makna kosakata maupun struktur bahasanya. Hal ini penting guna menghindari kesalahan dalam memahami makna yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Pada dasarnya, bahasa Arab memiliki dua karakteristik utama: sinkroni dan diakroni. Sinkroni mengacu pada aspek bahasa yang cenderung tetap dan tidak banyak berubah seiring waktu, sedangkan diakroni merujuk pada bagian bahasa yang mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Contohnya dapat dilihat dari QS. Yusuf ayat 19 berikut:
وَجَاۤءَتْ سَيَّارَةٌ فَاَرْسَلُوْا وَارِدَهُمْ فَاَدْلٰى دَلْوَهۗ
”Datanglah sekelompok musafir. Mereka menyuruh seorang pengambil air, lalu dia menurunkan timbanya”.
Kata “sayyarah” pada zaman Al-Qur’an diturunkan berarti “musafir” atau “pejalan kaki”. Namun, dalam bahasa Arab modern, kata ini berarti “mobil.” Perubahan makna ini menunjukkan betapa pentingnya memahami konteks linguistik asli untuk menghindari kesalahan dalam penafsiran Al-Qur’an. Dengan demikian, pendekatan hermeneutika gramatikal Schleiermacher membantu mengatasi tantangan dalam memahami perbedaan makna bahasa dari masa ke masa.
Analisis Konteks Kata (Sitagmatis)
Prinsip kedua adalah pentingnya memahami konteks kata dalam sebuah kalimat. Ini berarti, saat menafsirkan suatu kata dalam ayat Al-Qur’an, mufasir harus memperhatikan kata-kata di sekitarnya (samping kanan, samping kiri, atau sekelilingnya). Dengan cara ini, makna kata yang dimaksud akan lebih jelas dan sesuai dengan konteks ayat secara keseluruhan. Dalam penafsiran Al-Qur’an, metode ini sangat penting. Seorang mufasir tidak hanya melihat arti dasar sebuah kata, tetapi juga melihat bagaimana kata tersebut digunakan dalam kalimat dan ayat yang sama. Contohnya dapat dilihat dari perbedaan dua ayat di bawah ini:
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu”. (QS. Al-Baqarah ayat 238)
وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيرًا ۗ
“Sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi, dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah”. (QS. Al-Hajj ayat 40)
Dalam QS. Al-Baqarah ayat 238, lafadz الصلوات bermakna shalat (ibadah seorang muslim) sedangkan dalam QS. Al-Hajj ayat 40 Lafadz الصلوات memiliki makna yang berbeda, yaitu rumah ibadah orang Yahudi. Perbedaan makna ini dapat diketahui dengan memperhatikan konteks di mana kata tersebut digunakan. Pendekatan Schleiermacher melalui hermeneutika gramatikal sangat relevan untuk memastikan bahwa kata-kata dalam Al-Qur’an dipahami sesuai dengan konteksnya.
Hubungan antara Bagian dan Keseluruhan (Parts and the Whole)
Prinsip ketiga dari hermeneutika Schleiermacher adalah keterkaitan antara bagian-bagian teks (parts) dengan keseluruhan teks (the whole). Dalam tafsir Al-Qur’an, prinsip ini mirip dengan konsep munasabah, yaitu adanya hubungan antara satu ayat dengan ayat lainnya atau antara satu surah dengan surah lainnya. Tujuannya adalah untuk memahami pesan yang utuh dari Al-Qur’an.
Sebagai contoh, QS. Al-Baqarah ayat 183-187 membahas puasa. Jika hanya membaca ayat 183, kita mungkin hanya memahami bahwa puasa adalah kewajiban umat Islam. Namun, ketika membaca hingga ayat 187, penjelasan tentang kapan dan bagaimana puasa harus dilakukan, serta siapa yang dikecualikan, menjadi lebih jelas. Dengan menghubungkan ayat-ayat ini sebagai satu kesatuan, kita bisa memahami pesan yang utuh dari Al-Qur’an. Prinsip ini membantu penafsir untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif tentang pesan Al-Qur’an.
Keterbatasan Hermeneutika Psikologis dalam Penafsiran Al-Qur’an
Salah satu aspek yang sulit diterapkan dari hermeneutika Schleiermacher adalah hermeneutika psikologis. Pendekatan ini mengharuskan penafsir untuk memahami kondisi psikologis pengarang teks, yang dalam hal Al-Qur’an berarti memahami kondisi psikologis Allah. Namun, sebagai Zat yang Maha Suci, kondisi psikologis Allah berada di luar jangkauan pemahaman manusia. Yang bisa kita ketahui hanyalah sifat-sifat dan asma’ul husna-Nya yang disebutkan dalam Al-Qur’an, walaupun hal itu juga masih sangat terbatas.
Meskipun demikian, pendekatan ini dapat dimodifikasi dengan mengalihkan fokusnya pada asbab an-nuzul, yaitu konteks historis turunnya ayat. Dengan memahami latar belakang turunnya suatu ayat, penafsir dapat lebih baik menangkap pesan yang terkandung di dalamnya, tanpa harus berspekulasi tentang kondisi psikologis Allah. Oleh karena itu, penerimaan terhadap pendekatan psikologis dalam memahami Al-Qur’an dapat dilakukan dengan menyesuaikannya pada hakikat Al-Qur’an sebagai wahyu yang berasal dari Tuhan.[3]
Dari pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pendekatan hermeneutika Schleiermacher, khususnya melalui hermeneutika gramatikal, tetap relevan dalam kajian tafsir Al-Qur’an. Prinsip-prinsip seperti pemahaman bahasa asli, analisis konteks kata, dan hubungan antara bagian dan keseluruhan teks, dapat membantu memperkaya pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Qur’an. Namun, pendekatan hermeneutika psikologis perlu disesuaikan dengan sifat Al-Qur’an sebagai wahyu ilahi yang melampaui jangkauan psikologi manusia. Oleh karena itu, pendekatan hermeneutika Schleiermacher masih dapat memberikan kontribusi penting dalam penafsiran Al-Qur’an jika diterapkan dengan bijak dan sesuai konteks.
Oleh Qotrotul Mustamtiroh (Mahasiswi Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan).
[1] Rohman. A, ”Model Hermeneutika Friedrich Schleiermacher dan Relevasinya dengan Ilmu Tafsir Al-Qur’an” AL-FANAR: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir 5 No. 2 (2022): 144.
[2] Sahiron Syamsuddin, ”Hermeneutika dan Pengembangan Ulumul Qur’an (Edisi Revisi dan Perluasan)” (Yogyakarta: Pesantren Nawesea Press, 2017): 72.
[3] Sahiron Syamsuddin, ”Hermeneutika dan Pengembangan Ulumul Qur’an, Cet. 1” (Yogyakarta: Pesantren Nawesea Press, 2017): 74-75.








Leave a Comment