Media Asing Soroti Transformasi Umar Patek: Dari Perakit Bom Bali Jadi Peracik Kopi di Surabaya

Ahmad Fairozi, M.Hum.

03/06/2025

3
Min Read
Media Asing Soroti Transformasi Umar Patek: Dari Perakit Bom Bali Jadi Peracik Kopi di Surabaya

On This Post

Harakatuna.com. Jakarta – Mantan terpidana kasus terorisme Bom Bali 2002, Umar Patek, kembali menjadi sorotan media internasional setelah membuka kedai kopi di Surabaya. Perubahan hidup drastisnya menuai beragam reaksi, terutama dari warga Australia yang menjadi korban langsung dalam tragedi kelam tersebut.

Kedai kopi milik Umar diberi nama “Kopi RAMU 1996 by Umar Patek”, dan menjadi bagian dari upayanya membangun kembali kehidupan usai menjalani hukuman penjara. Dalam wawancara dengan This Week in Asia dari South China Morning Post, Umar mengatakan bahwa dirinya ingin dikenang karena hal yang berbeda dari masa lalunya.

“Sebelumnya, saya dikenal karena sesuatu yang menyakiti dunia,” kata Umar Patek. “Sekarang saya telah memilih jalan yang berbeda.”

Kedai ini mendapat dukungan dari restoran Hedon Estate di Surabaya yang membantu peluncuran bisnis tersebut, termasuk dengan menyumbangkan peralatan kopi. Restoran itu bahkan membagikan video promosi dengan narasi menyentuh:

“Dia dikenal karena luka yang ditinggalkannya, sekarang dia dikenang karena aroma kopi yang diseduhnya. Perjalanan hidupnya bukan tentang masa lalu yang kelam, tetapi tentang keberanian untuk berubah dan memilih jalan yang membawa kedamaian.”

Namun, upaya transformasi Umar Patek tak serta-merta diterima semua pihak, terutama keluarga korban Bom Bali. Serangan yang terjadi pada 12 Oktober 2002 di dua klub malam di Kuta, Bali, menewaskan 202 orang, termasuk 88 warga Australia, dan melukai lebih dari 240 orang lainnya.

Umar, yang sempat buron selama hampir satu dekade, ditangkap di Pakistan pada 2011 dan dijatuhi hukuman 20 tahun penjara pada 2012. Ia dibebaskan bersyarat pada Desember 2022 setelah menjalani 11 tahun masa hukuman, keputusan yang kala itu mendapat kecaman keras dari pemerintah Australia.

“Hari pembebasan Umar Patek adalah hari yang sangat mengerikan bagi para korban Bom Bali,” ujar Menteri Dalam Negeri Australia saat itu, Clare O’Neil.

Kemarahan juga datang dari warga Australia yang kehilangan orang terdekatnya dalam tragedi itu. Salah satunya adalah Sandra Thompson, yang kehilangan putranya, Clint Thompson (29 tahun), dalam ledakan.

“Apakah pria ini sudah bertobat? Apakah dia masih berpikir bahwa apa yang dilakukannya benar secara moral? Atau dia hanya menjalani hukuman dan melupakan semuanya begitu saja?” ungkap Sandra kepada This Week in Asia, dikutip news.com.au, Selasa (3/6/2025).

“Dua ratus dua nyawa, termasuk bayi yang belum lahir, serta para penyintas yang masih hidup dengan luka mereka. Apakah itu sudah dibayar? Tidak akan pernah, jika dia tidak sungguh-sungguh menyesal,” tambahnya.

Umar Patek sendiri mengklaim telah menjalani proses deradikalisasi dengan tulus. Dalam wawancara bersama Al Jazeera tahun 2023, ia menyebut dirinya sebagai “pembunuh dan pendosa” dan mengatakan telah meminta maaf kepada para korban yang bersedia mendengarkan.

“Saya tidak meminta maaf agar bisa keluar dari penjara lebih cepat. Tapi apapun yang saya lakukan, tetap salah di mata orang lain. Kalau saya minta maaf, dianggap pura-pura. Kalau tidak minta maaf, saya dianggap arogan,” ujar Umar.

“Semua orang yang pernah bertemu saya secara langsung telah memaafkan saya,” lanjutnya.

Pemerintah Indonesia menyatakan bahwa Umar dibebaskan setelah mengikuti program deradikalisasi dan menunjukkan perilaku baik selama di penjara.

Meski demikian, jalan panjang rekonsiliasi dan penerimaan masyarakat, khususnya para keluarga korban, masih menjadi tantangan besar bagi Umar Patek dalam membuktikan perubahan yang ia klaim telah ia jalani.

Leave a Comment

Related Post