Maulid Nabi sebagai Kontra-Ekstremisme: Mainstreaming Islam Rahmah ala Rasulullah

Ahmad Khairi

11/09/2024

5
Min Read
Maulid Nabi

On This Post

Harakatuna.comUswah hasanah. Demikian predikat yang Allah Swt. sematkan untuk Nabi Muhammad Saw., sosok penuh kasih dan teladan untuk seluruh umat manusia. Diriwayatkan, misalnya, dalam Shahih Bukhari bahwa pada suatu hari, jenazah seorang Yahudi dibawa melewati Nabi Muhammad Saw. Ketika melihat jenazah itu, Nabi berdiri sebagai tanda penghormatan. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, itu adalah jenazah seorang Yahudi.” Nabi menjawab, “Bukankah dia juga manusia?

Kisah masyhur lainnya diriwayatkan bahwa ada seorang wanita Yahudi tua yang kerap melempari Nabi dengan kotoran setiap kali beliau lewat di depan rumahnya. Nabi tidak pernah marah atau membalas perbuatan wanita tersebut. Suatu hari, wanita itu sakit. Nabi pun menjenguk ke rumahnya. Sikap penuh kasih sayang dan perhatian Nabi saw. pun membuat wanita Yahudi itu tersentuh.

Pada tahun 6 Hijriah, Nabi dan kaum Muslim pergi ke Makkah untuk menunaikan umrah. Namun, mereka dihalangi oleh kaum Quraisy. Setelah negosiasi panjang, Nabi setuju menandatangani Perjanjian Hudaibiyah. Meskipun perjanjian tersebut tidak menguntungkan, Nabi menerima kesepakatan demi menghindari pertumpahan darah dan menjaga perdamaian. Betapa luasnya sifat rahmah dalam diri Nabi Saw.

Setelah Perang Badar, sejumlah kaum Quraisy ditawan oleh kaum Muslimin. Nabi menginstruksikan para sahabat memperlakukan mereka dengan baik. Bahkan, dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa para sahabat memberikan makanan terbaik mereka kepada para tawanan, sedangkan mereka sendiri hanya memakan kurma. Nabi Saw. benar-benar menjadi insān kāmil yang tidak ada tandingannya.

Sejarah keteladanan Nabi Saw. telah banyak dibahas, dan belum ada manusia sealam semesta hingga sekarang yang setara dan selayak Nabi Saw. untuk diteladani. Tidak ada. Siapa pun itu, tidak ada yang mampu menandingi. Nabi Saw. tidak hanya simbol “rahmah li al-‘ālamīn”, tetapi juga representasi anti-ekstremisme. Karena itu, di tengah nuansa perayaan maulid ini, merefleksikannya untuk kontra-ekstremisme sangatlah krusial.

Menguatkan Islam Rahmah Lewat Maulid Nabi

Maulid Nabi Muhammad Saw. bukan sekadar perayaan keagamaan. Itu penting dicatat seluruh umat. Maulid adalah kesempatan untuk menelisik teladan hidup Rasulullah yang penuh kasih, bijaksana, dan pelopor perdamaian. Di tengah maraknya narasi ekstremisme yang selalu mengatasnamakan Islam, maulid Nabi menjadi momentum untuk memperkuat narasi Islam yang penuh rahmah.

Ekstremisme berakar pada pemahaman keliru tentang ajaran Islam. Para ekstremis memanfaatkan ketidaktahuan, ketidakpuasan sosial, dan ketegangan politik untuk mempromosikan ideologi kekerasan. Mereka memonopoli tafsir Al-Qur’an untuk kepentingan terorisme dan mengabaikan esensi Islam yang mengajarkan rahmah. Di situlah maulid mengonfrontasi narasi tersebut melalui keteladanan atas Nabi Saw.

Dalam peringatan maulid Nabi, kisah-kisah tentang kelembutan hati Rasulullah, keadilannya, kepeduliannya terhadap kaum lemah, dan pengampunannya terhadap musuh menjadi pelajaran riil yang bisa diangkat untuk menentang doktrin kekerasan kelompok ekstremis. Nabi tidak pernah membalas keburukan yang orang lain lakukan untuk diri beliau. Hal itu jelas beda dengan kaum ekstremis yang justru berperilaku buruk kepada sesama.

Kaum ekstremis membunuh atas nama Islam, sementara Nabi menghindari pembunuhan dan perang atas nama Islam. Siapa yang benar? Jelas Nabi. Kaum ekstremis itu hanya ikut nafsu belaka yang berasal dari iblis, sementara Nabi Saw. mengikuti wahyu yang berasal dari Allah Swt. Makanya, Nabi menjadi sosok paling pemaaf sealam semesta, sementara kaum ekstremis menjadi kelompok paling pelaknat sejagat raya.

Berhubung sedang bulan Rabiulawal, majelis-majelis maulid dapat menjadi sarana efektif untuk menguatkan Islam rahmah; yang mencintai kedamaian, menghargai perbedaan, mengedepankan keadilan sosial, serta memperjuangkan persatuan dan kesatuan. Melalui maulid Nabi, Muslim dapat menunjukkan bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam—bukan agama yang melegitimasi kekerasan dan teror.

Memperkokoh Kontra-Narasi Lewat Maulid Nabi

Maulid Nabi tidak hanya sekadar momentum spiritual bagi umat Islam, tetapi juga sebuah kesempatan strategis untuk memperkokoh kontra-narasi ekstremisme. Sebab, hari ini, kelompok ekstremis semakin cerdik menyebarkan ideologi kekerasan; memanfaatkan medsos dan platform digital lainnya untuk menarik simpatisan dan rekrutmen anggota. Kalau bukan umat Islam yang mau menghalau mereka, siapa lagi?

Saat ini, narasi-narasi ekstremis dibalut dengan dalil agama yang dipelintir, hingga menciptakan kebingungan di kalangan umat, terutama generasi muda yang sedang proses pencarian identitas—hijrah. Dalam situasi itu, maulid Nabi menjadi kesempatan emas untuk memperkuat kontra-narasi yang tidak saja berbasis pada nilai-nilai wasatiah Islam, tetapi juga mempromosikan toleransi dan persatuan antarumat.

Maulid menjadi penyampai pesan-pesan keindahan ajaran Islam melalui ceramah, kajian, dan dialog interaktif. Para ulama, cendekiawan, dan tokoh masyarakat harus turun gunung memanfaatkan kesempatan tersebut untuk membahas bagaimana sang insān kāmil dan sang uswah hasanah hidup dalam keteladanan sebagai manusia paripurna: penuh kasih, toleran, dan sangat jauh dari perangai yang ditampilkan kaum ekstremis.

Di situlah maulid Nabi bisa dimanfaatkan untuk mengekspose kontradiksi narasi kelompok ekstremis yang mengklaim diri sebagai pewaris kemurnian Islam di satu sisi, namun di sisi lain tindakan mereka kontradiktif dengan etika-moral Islam yang diajarkan Nabi Saw. Artinya. maulid menjadi forum penegasan kembali bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan perdamaian dan menolak segala bentuk kekerasan ala kaum ekstremis.

Memperkokoh kontra-narasi lewat momentum maulid Nabi, wajib dicatat, merupakan ikhtiar jihad modern: bukan dengan pedang atau kekerasan, melainkan dengan ilmu, pengetahuan, dan pemahaman yang hak tentang Islam. Tentu, itu bentuk perlawanan yang jauh lebih efektif terhadap upaya-upaya kelompok ekstremis yang ingin menghancurkan harmoni dan cinta-kasih di tengah masyarakat.

Dengan demikian, maulid Nabi harus dimaknai tidak sebagai tradisi tahunan belaka, tetapi sebagai gerakan sosial untuk me-mainstreaming Islam rahmah ala Rasulullah. Hanya itu yang mampu menghadang segala bentuk ekstremisme yang mengancam negara-bangsa. Jadilah umat yang penuh rahmat sebagaimana Nabi, jangan jadi umat yang penuh laknat sebagaimana radikalis-ekstremis. Selamat merayakan maulid Nabi Saw.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Leave a Comment

Related Post