Mati Sebelum Mati: Hidup Waras di Dunia yang Hilang Akal

Moh. Nuron Abdussalam

11/05/2025

5
Min Read
Mati

On This Post

Judul: Mati Sebelum Mati: Buka Kesadaran Hakiki, Penulis: Fahruddin Faiz, Penerbit: Noura Books, Tahun Terbit: 2024, ISBN: 978-623-242-400-5, Jumlah Halaman: 348 halaman, Dimensi: 14 x 21 cm, Berat: 350 gram, Jenis Sampul: Soft Cover. Peresensi: Moh. Nuron Abdussalam.

Harakatuna.com – Kita hidup di zaman yang membingungkan. Di satu sisi, kenyataan berbenturan dengan kebohongan; informasi keliru dan ujaran kebencian merajai media sosial. Perlahan namun pasti, sikap masyarakat mulai melunturkan nilai-nilai moral. Dalam keramaian yang hiruk-pikuk, seolah-olah kita sedang menjalani fase zaman edan, sebagaimana digambarkan oleh pujangga Ranggawarsita dalam Serat Kalatidha, karya sastra klasik Jawa yang merekam kegelisahan sosial masyarakat pada masanya.

Dalam Serat Kalatidha, Ranggawarsita menulis, “Zaman edan, wong waras ora keduman” —dalam zaman gila, orang waras tak kebagian apa-apa. Dalam situasi demikian, benak kita pun tergelitik oleh pertanyaan krusial: bagaimana menegakkan iman, akhlak, dan tetap bertahan pada jalan kebenaran, ketika lingkungan justru condong pada nihilisme?

Membaca Zaman Edan dalam Realitas Masa Kini

Fenomena zaman edan bukan sekadar nostalgia budaya. Ia merupakan kritik mendalam terhadap kondisi sosial yang penuh paradoks. Di satu sisi, kita memiliki tokoh-tokoh publik yang tampak mengagumkan; namun di sisi lain, kita dibanjiri informasi palsu yang justru merusak moral masyarakat, terutama melalui ruang digital. Dalam kondisi seperti ini, kebisingan sering kali mengalahkan kebijaksanaan.

Ranggawarsita menggambarkan bahwa dalam masa-masa seperti itu, banyak orang rela menjadi gila demi kekuasaan dan keuntungan duniawi. Namun, ia juga menawarkan jalan spiritual: Luwih becik eling lan waspada—lebih baik tetap sadar dan waspada, meski harus menderita dalam diam. Kesadaran dan kewaspadaan menjadi bentuk perlawanan terhadap derasnya arus kebatilan.

Zaman yang dipenuhi fitnah dan kaburnya kebenaran ini sejatinya juga telah diperingatkan dalam ajaran Islam. Dalam sebuah hadis disebutkan: “Islam dimulai dalam keadaan asing, dan akan kembali menjadi asing. Maka beruntunglah orang-orang yang terasing itu.” (HR. Muslim).

Mereka yang tetap menjaga iman, akhlak, dan kewarasan di tengah kegilaan zaman adalah para ghuraba, orang-orang asing yang justru menjadi cahaya dalam kegelapan zaman.

Spiritualitas Islam sebagai Penerang Zaman

Menjadi seorang Muslim berarti menjaga kewarasan, mempertahankan kemurnian hati, dan melihat dunia dengan jernih di tengah kebisingan yang menyesatkan. Spiritualitas dalam Islam bukan sekadar ritus kosong atau formalitas semata. Ia adalah bentuk kedisiplinan batin; keteguhan pada kebenaran, kesabaran dalam cobaan, kerendahan hati dalam pencapaian, serta keengganan untuk larut dalam gemerlap dunia yang semu.

Islam mengajarkan bahwa kekuatan bukanlah teriakan atau kemarahan yang meledak-ledak. Justru, kekuatan sejati terletak pada kemampuan menahan diri, sebagaimana tercermin dalam Al-Qur’an dan hadis. Seorang Muslim dituntut untuk tidak tergoda kemewahan dunia yang mencolok; hiasan fana yang kerap menipu mata, membuat jiwa terlena oleh titik-titik buta dari kehidupan yang bersinar.

Allah mengingatkan manusia agar tidak terjebak pada kemilau duniawi yang memecah perhatian, menyesatkan arah, dan melunturkan cahaya fitrah.

Jalan Waras: Keberanian dalam Keheningan

Di tengah zaman edan, menjadi waras ibarat memilih untuk hidup dan mati sekaligus — hidup secara spiritual, namun mati dari segala kesia-siaan dunia. Ini adalah pilihan sadar yang menuntut keberanian hati.

Dalam tradisi Jawa, praktik ini dikenal sebagai laku—perjalanan spiritual yang konsisten, hening, dan tak kenal lelah untuk menyucikan diri. Konsep ini sejalan dengan nilai-nilai Islam melalui tazkiyatun nafs, yakni penyucian jiwa demi keselamatan hidup dunia dan akhirat.

Rasulullah bersabda, “Orang kuat bukanlah yang menang dalam gulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Di era modern yang dipenuhi emosi cepat saji, kemampuan menahan amarah dan menyebar kebaikan menjadi bentuk kewarasan yang otentik. Kendali diri adalah bentuk kekuasaan tertinggi — bukan dalam dominasi, tetapi dalam ketenangan yang membebaskan.

Teladan Sunan Kalijaga: Dakwah yang Menyentuh Hati

Kita bisa meneladani pendekatan Walisongo, khususnya Sunan Kalijaga, yang menggunakan budaya lokal seperti wayang dan tembang dalam berdakwah. Ia memahami bahwa mengubah seseorang tidak seperti memaksa sistem lunak (software) untuk dijalankan; melainkan membutuhkan pendekatan hati yang lembut dan penuh hikmah.

Dakwah yang berhasil adalah dakwah yang tidak menggenggam paksa atau memecah-belah, melainkan merangkul; tidak menghancurkan tubuh misi, tetapi menyusun jiwanya dengan kasih dan keteladanan.

Barangkali saat ini kita memang tengah berada di fase tergelap dari sebuah zaman yang tak kunjung reda; saat malam terasa lebih panjang dari biasanya, ketika waktu berdentang tanpa kejelasan arah. Di tengah situasi yang penuh kekacauan ini, kewarasan bagaikan nyala kecil dalam kegelapan; rapuh, namun tetap menjadi satu-satunya petunjuk di tengah minimnya “reset”, dan tak ada peringatan sebelum semuanya runtuh.

Berpikir jernih bukan berarti mengisolasi diri atau hanya hidup dalam dunia maya. Sebaliknya, itu berarti menjalani hidup dengan kesadaran penuh: mempertimbangkan setiap tindakan berdasarkan nilai dan tujuan kehadiran kita di dunia. Inilah saatnya menjadi bagian dari ghuraba, kaum yang dianggap asing karena tetap berjalan lurus di jalan yang berliku, meski angin zaman terus berputar kencang.

Mari bangkit dalam ikhtiar, meski melelahkan. Mari terus melangkah, meski jalanan penuh jebakan simbol-simbol semu. Sebab hanya melalui keteguhan dalam keheningan, kita mampu menemukan cahaya sejati.

Sebagaimana petuah uyah dari Ranggawarsita, diselaraskan dengan hikmah Al-Qur’an dan sabda Rasulullah, kita tidak perlu ikut-ikutan dalam angin gila zaman ini demi sekadar bertahan hidup. Justru dengan tetap eling lan waspada—sadar dan berjaga—kita menjaga akal, mempertahankan arah, dan melindungi fitrah dalam derasnya arus dunia yang menyesatkan.

Leave a Comment

Related Post