Mantan Napiter Ismail Alamsyah: Dari Rencana Jihad ke Suriah, Kini Setia pada NKRI dan Buka Warung Ayam Bakar

Ahmad Fairozi, M.Hum.

18/05/2025

3
Min Read

On This Post

Harakatuna.com. Yogyakarta – Ismail Alamsyah tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah drastis. Pria kelahiran Curup, Bengkulu, 17 Februari 1969 ini pernah terseret dalam jaringan kelompok radikal, namun kini memilih hidup damai dengan keluarganya dan mengelola sebuah warung ayam bakar di Sleman, Yogyakarta.

Kisah kelam Ismail bermula pada tahun 2014, ketika konflik di Suriah menarik perhatian dunia. Ismail, yang saat itu menganggap perang tersebut sebagai ladang jihad, merasa terpanggil untuk berangkat. “Setelah saya melihat, ‘wah ini saya terpanggil untuk berjihad di sana [Suriah],’” ujarnya saat ditemui di Polda DIY beberapa waktu lalu.

Berbekal tekad tersebut, Ismail mulai mencari jaringan yang bisa membantunya mewujudkan rencana itu. Ia kemudian bergabung dengan Jamaah Ansharut Daulah (JAD), kelompok radikal yang berafiliasi dengan ISIS dan dikenal sebagai dalang berbagai aksi teror, termasuk serangan bom di Surabaya pada 2018. “Akhirnya tercantol sama kelompok JAD ini,” kata Ismail mengenang.

Sebelum berangkat, ia menjalani pelatihan fisik dan kajian agama. Berbekal pengalaman sebagai atlet bela diri yang pernah meraih juara PON dan peringkat empat kejuaraan dunia, ia bahkan diminta untuk melatih anggota kelompok tersebut.

Namun saat itu, Ismail mengakui bahwa dirinya belum sepenuhnya memahami arah perjuangan kelompok tersebut. “Kita belum tahu, belum paham, yang penting kita mau berangkat saja,” tuturnya.

Namun, rencana itu urung terlaksana. Ismail mulai ragu setelah mendengar kesaksian rekan-rekannya yang telah lebih dulu berangkat ke Suriah. Kondisi medan perang yang keras membuatnya mulai mempertanyakan keputusannya.Istrinya mengetahui rencananya sejak awal, dan Ismail sempat berpesan agar sang istri menjaga anak-anak jika ia tak kembali.

Puncak kesadaran Ismail muncul pada 2018, ketika terjadi kerusuhan antara narapidana teroris dan aparat di Rutan Cabang Salemba, Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok. Peristiwa itu menjadi titik balik bagi dirinya. “Saya sadar, ketika peristiwa Mako [Brimob], kok begini? Janji mau ke Syam [Suriah], tapi kok gini,” kenangnya.

Belum lama berselang, serangan bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya oleh satu keluarga semakin menguatkan keraguannya. Aksi tersebut menewaskan belasan orang dan memicu revisi Undang-Undang Anti-Terorisme oleh DPR.

Tak lama setelah itu, Ismail ditangkap sebagai bagian dari penggerebekan besar-besaran terhadap jaringan JAD. Ia divonis dua tahun penjara. Selama menjalani hukuman di Lapas Gunung Sindur, Ismail mengalami pergolakan batin. Tekanan dari sesama tahanan yang menegurnya karena menyapa petugas lapas dengan salam semakin membuka matanya terhadap ketidaksesuaian nilai-nilai kelompok tersebut.

“Sebenarnya saya sudah lama ingin keluar, tapi ada rasa takut, takut dibilang kafir. Tapi akhirnya akal mengalahkan rasa takut itu,” ungkapnya.

Ismail akhirnya memutuskan untuk mengakhiri keterlibatannya dengan kelompok radikal dan menyatakan ikrar setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Pakai akal saja sudah. Agama itu kan pakai akal. Kita tidak bisa ambil satu ayat saja. Ketika ayat itu untuk menguntungkan kita, diambil seenaknya,” tegasnya.

Menurut Ismail, banyak orang terjerumus ke dalam paham radikal karena tekanan ekonomi dan minimnya pendidikan. Ia pun mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap penyebaran ideologi radikal, yang menurutnya bisa masuk lewat berbagai cara, termasuk obrolan santai di warung kopi hingga media sosial.

“Pengalaman saya, ketika ada pemahaman seperti itu di mana pun—tidak usah kajian, misal ngobrol di warkop, atau chatting—di mana pun pasti ada yang menyusupi radikalisme. Nanti kita pakai akal saja,” ujarnya.

“Kalau ada yang mengajak membunuh orang, gabung ke kelompok kecil yang kita enggak kenal, itu hati-hati. Kalau pemahaman sudah jauh dari NKRI dan Pancasila, mending menjauh,” tambahnya.

Kini, setelah lepas dari masa lalu kelamnya, Ismail memilih kembali ke kehidupan normal. Ia melanjutkan usaha warung ayam bakar “Bu Tuti” miliknya yang berlokasi di Jalan Perumnas Condongsari, Sleman, yang sudah dirintis sejak tahun 2000.

Leave a Comment

Related Post