Mantan Napiter Ingatkan Bahaya Intoleransi

Ahmad Fairozi, M.Hum.

07/07/2025

3
Min Read
Mantan Napiter Ingatkan Bahaya Intoleransi

Harakatuna.com. Medan – Kalangan santri dinilai menjadi salah satu kelompok yang rentan terpapar paham radikalisme dan intoleransi. Hal ini disebabkan oleh usia mereka yang masih remaja dan berada dalam fase pencarian jati diri, sehingga lebih mudah dipengaruhi oleh ideologi ekstrem.

“Santri kita ini masih polos dan berada dalam fase pencarian identitas. Mereka belum memiliki filter yang kuat terhadap informasi atau ajaran yang mereka terima. Ini menjadikan mereka sasaran empuk bagi penyebar radikalisme,” ujar Ustadz Rony Syamsuri Lubis, mantan narapidana terorisme, dalam sebuah kegiatan di Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Medan, Sabtu (5/7).

Kegiatan bertajuk “Mengimplementasikan Nilai-Nilai Pancasila Guna Mencegah Penyebaran Paham Radikal dan Intoleransi” itu dihadiri para santri dan perwakilan pimpinan pondok pesantren, termasuk Ustadz Rudiansyah.

Ustadz Rony yang kini menjabat sebagai Ketua X-TERNAL (Ex-Terrorist Intern Alliance) wilayah Sumatera Utara, menyampaikan bahwa masuknya paham radikal ke tengah masyarakat, khususnya generasi muda, didorong oleh berbagai faktor. Di antaranya adalah ketimpangan sosial dan ekonomi, minimnya pendidikan kebangsaan, eksklusivisme dalam beragama, rasa kecewa terhadap pemerintah, serta ketidakadilan sosial yang dirasakan sebagian kelompok.

“Kelompok radikal kerap memanfaatkan narasi ketidakadilan sosial untuk membenarkan tindakan anarkis mereka. Ini sangat berbahaya karena bisa menjerumuskan anak-anak muda kita,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, ia juga membagikan pengalaman pribadinya sebagai mantan pelaku terorisme. Menurutnya, penangkapan dirinya menjadi titik balik penting dalam hidup. Ia mulai menyadari bahwa paham radikal digunakan oleh kekuatan asing untuk merusak stabilitas Indonesia secara perlahan, tanpa melalui perang terbuka.

“Waktu saya ditangkap, saya tersadar bahwa ideologi radikal itu bukan gerakan murni. Ini adalah bagian dari proxy war—upaya pihak asing untuk melemahkan Indonesia dari dalam,” ungkapnya.

Pancasila sebagai Benteng Ideologi

Ustadz Rony menegaskan bahwa Pancasila adalah benteng ideologis paling kuat untuk menangkal paham radikal dan intoleran. Setiap sila dalam Pancasila, katanya, mengandung nilai-nilai luhur yang dapat membentuk karakter bangsa yang beradab, toleran, dan adil.

“Sila pertama mengajarkan spiritualitas dan toleransi antar umat beragama. Sila kedua menanamkan nilai adab dan anti kekerasan. Sila ketiga menumbuhkan nasionalisme inklusif. Sila keempat mengedepankan demokrasi dan musyawarah, dan sila kelima menekankan keadilan sosial bagi seluruh rakyat,” paparnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa akar dari radikalisme, ekstremisme, bahkan terorisme, adalah intoleransi. Intoleransi muncul dari penolakan terhadap perbedaan yang berkembang menjadi kebencian, diskriminasi, dan kekerasan. “Intoleransi adalah bentuk ketidakpedulian terhadap eksistensi orang lain. Ia tumbuh dari sikap tidak manusiawi, dan bisa memicu konflik sosial yang serius,” tegasnya.

Sebaliknya, menurut Rony, toleransi adalah kunci utama dalam membangun masyarakat majemuk yang harmonis dan damai. Menghargai perbedaan, baik dalam hal agama, budaya, maupun pandangan, adalah fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara yang inklusif. “Toleransi itu bukan sekadar sikap, tapi tindakan nyata. Ia harus dijaga dan dilestarikan oleh semua pihak agar kita bisa hidup berdampingan dalam damai,” pungkasnya.

Leave a Comment

Related Post