Mantan Napiter: Ancaman Intoleransi dan Radikalisme Masih Mengintai Indonesia

Ahmad Fairozi, M.Hum.

14/08/2025

3
Min Read

On This Post

Harakatuna.com. Jakarta – Delapan puluh tahun merdeka, Indonesia masih dihadapkan pada tantangan serius dalam menjaga persatuan dan keamanan nasional. Ancaman intoleransi, radikalisme, dan terorisme dinilai tetap hidup, meski sering kali tidak terlihat di permukaan karena terus bertransformasi dalam bentuk baru.

Peringatan itu disampaikan oleh Ustaz Suryadi Mas’ud, mantan narapidana terorisme yang pernah terlibat dalam serangan di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat. Menurutnya, sejumlah daerah di Indonesia masih menjadi lahan subur bagi berkembangnya paham radikal yang mengancam stabilitas negara.

“Dari pengalaman saya, sampai sekarang kita belum benar-benar bebas dari tiga hal itu. Bibit-bibitnya masih ada, hanya saja kini mereka bertransformasi, misalnya masuk dalam jaringan seperti ISIS,” ujar Suryadi, Selasa (12/8/2025).

Suryadi menegaskan, kedaulatan bangsa sejati baru akan terwujud jika Indonesia mampu sepenuhnya terbebas dari ancaman ideologi yang memecah belah. Ia juga mengkritik masih adanya narasi kelompok radikal yang mendapat pembenaran dari sebagian pihak, sehingga mengaburkan pemahaman masyarakat.

Menurutnya, momen perayaan kemerdekaan seharusnya dimanfaatkan untuk mengingat kembali pengorbanan para pahlawan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Banyak orang, kata Suryadi, terjerumus pada paham radikal karena kurang memahami sejarah bangsa dan hanya mengonsumsi narasi sepihak.

“Saya dulu hanya menerima narasi keagamaan dan sejarah dari satu sisi, tanpa pembanding. Saat SMA, saya mulai melihat Indonesia sebagai negara batil. Saya tidak memikirkan perjuangan para pahlawan,” kenangnya.

Ia juga menyoroti gencarnya penyebaran propaganda radikal di dunia maya. Generasi muda, khususnya Gen-Z, menjadi sasaran empuk bukan hanya karena isi pesannya, tetapi juga kemasan yang kreatif dan menarik. Di sisi lain, narasi tandingan tentang nasionalisme dan kebhinekaan masih disajikan secara monoton.

“Anak-anak tidak bisa menerima narasi kebangsaan yang membosankan. Gaya penyampaiannya harus sesuai zaman. Kisah para pahlawan harus diangkat agar generasi muda mengerti pentingnya menjaga keutuhan bangsa,” tegasnya.

Suryadi mengakui, pengalaman pribadinya menjadi bukti kegagalannya memahami kompromi para pendiri bangsa terkait kemajemukan Indonesia. Ia mendorong seluruh pihak yang berkomitmen memberantas intoleransi dan radikalisme untuk bersatu, mengingat para pelaku teror memiliki solidaritas yang kuat. “Jangan memaksakan narasi umum yang tidak sesuai dengan lingkungan sasaran. Sayang sekali jika sumber daya sudah keluar, tapi pesannya tidak mengena,” tambahnya.

Suryadi memiliki rekam jejak panjang dalam dunia terorisme. Ia pernah bergabung dengan jaringan Al Qaeda di Moro, Filipina, terlibat dalam Bom Bali I sebagai pengirim bahan baku, Bom McDonald Makassar, hingga serangan di Sarinah-Thamrin. Ia tiga kali keluar masuk penjara, hingga akhirnya mengalami titik balik ketika mendekam di Lapas Pasir Putih.

Di penjara, Suryadi sempat ditempatkan di sel isolasi dan hanya melihat matahari enam bulan sekali. Masa kesunyian itu ia manfaatkan untuk membaca karya para ulama, yang perlahan membuka jalan baginya meninggalkan jalan kekerasan.

Leave a Comment

Related Post