Makna Kehidupan Menurut Nasihat Imam Syafi’i

Harakatuna

10/07/2025

5
Min Read

On This Post

Harakatuna.com – Kehidupan yang diberikan Allah kepada setiap manusia bukanlah sesuatu yang sia-sia, apalagi sekadar permainan. Kehidupan ini adalah sesuatu yang serius, penuh makna, dan memiliki dampak besar, baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak. Waktu yang kita miliki selama hidup di dunia merupakan fase ujian sebuah kesempatan untuk membuktikan keimanan, kesungguhan, dan keikhlasan dalam menjalani perintah Allah serta menjauhi larangan-Nya.

Salah satu tokoh besar yang memberikan nasihat mendalam tentang makna kehidupan adalah Imam Syafi’i. Dalam banyak ungkapan dan tulisan beliau, terdapat peringatan kepada manusia agar tidak terlena oleh kenikmatan dunia yang sementara. Sebaliknya, beliau mengajak umat Islam untuk memfokuskan diri pada kehidupan akhirat sebagai tujuan utama.

Imam Syafi’i adalah seorang ulama besar, mufti terkemuka, sekaligus pendiri mazhab Syafi’i yang hingga kini menjadi salah satu mazhab fikih terbesar dalam Islam. Beliau berasal dari keturunan mulia, yaitu Bani Muthalib, yang merupakan cabang dari suku Quraisy—satu jalur dengan keluarga Rasulullah SAW melalui Al-Muthalib, saudara dari Hasyim, kakek Nabi Muhammad SAW.

Nama lengkap beliau adalah Abu Abdullah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i Al-Muthallibi Al-Qurasyi. Imam Syafi’i lahir pada tahun 150 H (sekitar 767 M), dengan catatan sejarah yang menyebut dua kemungkinan tempat kelahiran: Gaza di Palestina atau Asqalan.

Perjalanan intelektual beliau dimulai dari Madinah, di mana beliau belajar langsung kepada Imam Malik, pendiri mazhab Maliki. Selanjutnya, pada tahun 801 M, beliau pindah ke Baghdad dan berguru kepada Muhammad bin Hasan Asy-Syaybani, salah satu tokoh utama dalam mazhab Hanafi. Dari pengembaraan ilmunya ini, Imam Syafi’i mampu menyerap dan mengkaji berbagai pemikiran fikih yang berkembang di masa itu.

Pada tahun 816 M, beliau menetap di Mesir, dan di sanalah pendapat-pendapat hukumnya mengalami perkembangan lebih lanjut. Pendapat-pendapat tersebut kemudian dikenal sebagai qoul qodim (pendapat lama yang disusun di Irak) dan qoul jadid (pendapat baru yang dirumuskan di Mesir).

Selain sebagai ahli fikih, Imam Syafi’i juga dikenal karena nasihat-nasihat hidupnya yang mendalam dan menyentuh jiwa. Banyak dari ucapannya yang tetap relevan hingga kini, mengingatkan manusia akan pentingnya hidup yang bermakna dan tidak melupakan tujuan akhir: ridha Allah dan kebahagiaan abadi di akhirat.

Mutiara Nasihat Kehidupan dari Imam Syafi’i

Dalam perjalanan hidup, manusia kerap dihadapkan pada berbagai kekhawatiran—terutama mengenai rezeki dan masa depan yang belum terlihat. Namun, nasihat-nasihat kehidupan dari Imam Syafi’i memberikan ketenangan dan kedalaman makna bagi siapa pun yang merenunginya.

Imam Syafi’i, seorang ulama besar dan pendiri mazhab Syafi’i, tidak hanya dikenal karena keluasan ilmunya dalam fikih, tetapi juga karena petuah-petuahnya yang menyentuh hati dan menuntun jiwa. Berikut ini adalah untaian nasihat beliau yang sangat relevan dengan kondisi manusia sepanjang zaman:

عليك بتقوى الله إن كنت غافلاً، يأتيك بالأرزاق من حيث لا تدري
Wajib bagimu bertakwa jika engkau dalam kelalaian, maka rezekimu akan datang dari arah yang tidak disangka.

فكيف تخاف الفقر والله رازق، فقد رزق الطير والحوت في البحر
Bagaimana mungkin engkau takut miskin, padahal Allah adalah Sang Pemberi rezeki? Bukankah Dia telah memberi rezeki kepada burung di udara dan ikan di laut?

من ظن أن الرزق يأتي بقوة، ما أكل العصفور شيئًا مع النسر
Siapa yang menyangka rezeki datang karena kekuatan, maka burung pipit takkan mendapat bagian ketika bersama elang.

تزول عن الدنيا فإنك لا تدري، إن جنّ ليلٌ هل تعيش إلى الفجر
Engkau akan meninggalkan dunia ini, dan tidak tahu apakah setelah malam gelap engkau masih hidup hingga fajar.

فكم من صحيحٍ مات من غير علة، وكم من سقيمٍ عاش حينًا من الدهر
Betapa banyak orang sehat meninggal tanpa sebab, dan betapa banyak orang sakit hidup bertahun-tahun.

فمن فتىً أمسى وأصبح ضاحكًا، وأكفانه في الغيب تنسج وهو لا يدري
Berapa banyak pemuda yang tertawa pagi dan petang, padahal kain kafannya sedang ditenun di alam ghaib.

وكم من صغارٍ يُرتجى طول عمرهم، وقد أُدخلت أجسامهم ظلمة القبر
Berapa banyak anak kecil yang diharapkan panjang umur, namun tubuh mereka lebih dahulu masuk ke dalam gelapnya kubur.

وكم من عروسٍ زينوها لزوجها، وقد قبضت أرواحهم ليلة القدر
Berapa banyak pengantin yang berhias untuk pasangannya, tetapi ruh mereka dicabut pada malam yang telah ditetapkan.

Hikmah yang Dapat Dipetik

Dari untaian nasihat di atas, terdapat dua pelajaran utama yang dapat kita renungkan dan amalkan:

1. Jangan Khawatir akan Rezeki

Rezeki adalah bagian dari jaminan Allah kepada seluruh makhluk-Nya, baik manusia, jin, maupun hewan. Rezeki tidak terbatas pada hal-hal materi seperti uang atau harta, tetapi mencakup hal-hal immateri seperti kesehatan, keluarga yang harmonis, teman yang baik, lingkungan yang mendukung, dan anak-anak yang taat.

Imam Syafi’i mengingatkan kita untuk senantiasa bertakwa, karena dengan takwa, Allah akan mencukupkan kebutuhan kita dari arah yang tidak disangka. Firman Allah dalam Surah Al-Ma’idah ayat 66 menegaskan:

“Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil, dan (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhan mereka, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka.”
(QS. Al-Ma’idah: 66)

2. Ingatlah akan Kematian

Kematian adalah suatu kepastian yang tak dapat ditunda atau ditawar. Mengingat kematian adalah kunci untuk menjaga diri agar tetap dalam kebaikan dan tidak terjerumus dalam kesia-siaan. Terdapat tiga hikmah utama dari mengingat kematian:

  • Semangat dalam beribadah dan berbuat baik, karena hanya amal kebaikan yang akan menjadi bekal akhirat.
  • Segera bertaubat, karena tidak ada yang tahu kapan ajal menjemput.
  • Belajar menerima kehidupan dengan lapang dada, karena segala sesuatu telah ditetapkan oleh Allah.

Nasihat-nasihat Imam Syafi’i mengajarkan kita untuk hidup dengan kesadaran penuh akan tanggung jawab di dunia, dan harapan akan keselamatan di akhirat. Dengan bersandar pada takwa dan mengingat kematian, kita akan menjalani hidup dengan lebih tenang, bijak, dan bermakna.Semoga petuah-petuah ini menjadi penerang dalam langkah kita, dan menguatkan keyakinan bahwa kehidupan ini adalah perjalanan menuju kehidupan yang lebih abadi.

Oleh: Bukhori Sholeh, MA. (Pengasuh Ikatan Mahasiswa STAN)

Leave a Comment

Related Post