Mahasiswa Benteng Utama Cegah Terorisme, Ini Penjelasan FKPT Kalteng

Ahmad Fairozi, M.Hum.

10/07/2025

3
Min Read
Mahasiswa Dinilai Bisa Jadi Benteng Utama Cegah Terorisme, Ini Penjelasan FKPT Kalteng

On This Post

Harakatuna.com. Palangka Raya – Kalangan mahasiswa memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam mencegah penyebaran paham radikalisme dan terorisme. Peran tersebut dapat diwujudkan melalui keterlibatan aktif dalam kegiatan sosial, pengembangan pola pikir kritis, serta membangun jaringan yang sehat dan inklusif di lingkungan kampus.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalimantan Tengah, Prof. H. Khairil Anwar, dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Himpunan Mahasiswa (HIMA) Kalimantan Tengah di Aula Hotel Dandang Tingang, Palangka Raya, Rabu (9/7/2025).

“Mahasiswa jangan mudah terpengaruh oleh doktrin-doktrin dari kelompok tertentu. Sebagai kaum intelektual, mereka seharusnya mampu menyaring informasi yang diterima,” tegas Khairil di hadapan peserta diskusi.

Ia menekankan pentingnya sikap kritis mahasiswa terhadap setiap informasi yang beredar, terutama yang mengarah pada paham-paham ekstrem. “Mahasiswa harus berani mengkritisi jika ada sesuatu yang dianggap menyimpang. Jangan membiarkan doktrin masuk yang akhirnya bisa mempengaruhi cara berpikir mereka,” lanjutnya.

Khairil merujuk pada hasil penelitian Mun’im Sirry yang tertuang dalam buku Pendidikan dan Radikalisme (2023). Penelitian tersebut mengungkap bahwa mahasiswa termasuk kelompok yang rentan terhadap paparan paham radikal, namun pada saat yang sama juga memiliki potensi besar untuk menangkalnya jika dibekali dengan kemampuan berpikir kritis.

“Sebanyak 48,3 persen mahasiswa terindikasi bisa terdoktrin lewat teman pengajian. Sebanyak 8,3 persen melalui mentor atau senior kampus, 1,3 persen dari dosen, 1 persen dari orang tua, dan 6 persen dari upaya memahami Al-Qur’an secara otodidak,” paparnya.

Penelitian tersebut dilakukan terhadap 700 mahasiswa dari tujuh perguruan tinggi negeri (PTN) yang sempat menjadi perhatian Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), yaitu IPB, ITB, ITS, UI, UNAIR, UNDIP, dan UB. Selain itu, 500 siswa SMA di Jawa Timur juga menjadi sampel penelitian.

Khairil menambahkan, mahasiswa memiliki peran strategis sebagai agen perubahan dan calon pemimpin bangsa. Oleh karena itu, mereka harus mengambil posisi aktif dalam mencegah penyebaran radikalisme yang kini tak hanya menyasar laki-laki dan generasi milenial, tetapi juga perempuan, generasi Z, bahkan anak-anak.

“Radikalisasi bisa tumbuh karena berbagai faktor, mulai dari ketimpangan sosial, politik identitas yang eksklusif, keterlibatan dalam kelompok terlarang seperti JAD atau HTI, hingga pengaruh ceramah-ceramah yang bernuansa jihadis,” ujarnya.

Ia menjelaskan, penyebab utama kerentanan terhadap radikalisme antara lain adalah kurangnya pemahaman agama dan budaya yang moderat, pengaruh media sosial, propaganda, serta kesenjangan ekonomi dan sosial.

Dalam survei tersebut, terdapat beberapa tantangan utama yang masih dihadapi bangsa Indonesia dalam upaya menciptakan kehidupan yang aman dan harmonis.

“Pertama, masih berkembangnya paham ekstrem di kalangan mahasiswa dan pemuda, baik ekstrem kanan maupun kiri. Kedua, meningkatnya paham intoleransi yang merasa memiliki kebenaran absolut dan gemar menyalahkan kelompok lain,” jelas Khairil.

Ia juga menambahkan bahwa saat ini, paham intoleransi justru menunjukkan tren peningkatan dibandingkan radikalisme dan ekstremisme, sebagaimana terlihat dari berbagai survei.

“Tantangan ketiga adalah masih adanya pandangan dan gerakan yang menolak ideologi Pancasila. Dan keempat, di era Revolusi Industri 4.0, penyebaran informasi hoaks, ujaran kebencian, dan fenomena post-truth semakin cepat menyebar dan sulit dikendalikan,” pungkasnya.

Leave a Comment

Related Post