Literasi, Milenial, dan Radikalisme yang Tak Kita Sadari

Ahmad Khairi

05/08/2025

5
Min Read
Radikalisme

On This Post

Harakatuna.com – Hari ini, Islam tidak hidup di masjid, majelis taklim, atau khotbah Jumat belaka. Islam hadir dan invasif di ruang-ruang tak terduga: linimasa medsos, katalog marketplace, pamflet digital, dan grup WhatsApp keluarga. Para influencer kini tampil dalam bentuk konten atau potongan ceramah satu menit yang dapat dibagikan ribuan kali tanpa perlu dipahami secara utuh. Generasi Muslim muda tumbuh di era limpahan informasi yang memfragmentasi kebenaran.

Sementara negara sibuk membahas UU Anti-Terorisme, dan para akademisi berlomba-lomba menggelar seminar soal deradikalisasi, ada proses yang berlangsung jauh lebih sunyi namun jauh lebih menentukan: pembentukan tafsir keagamaan melalui bacaan. Buku-buku Islam, baik cetak maupun digital, bukan sekadar sumber informasi. Ia adalah formasi iman, cara seseorang memaknai dirinya sebagai Muslim, memosisikan ‘yang lain’, dan membayangkan relasi sosial antarsesama.

Yang menjadi soal ialah: siapa yang menyuplai bacaan tersebut? Ideologi mana yang menulis, menerjemahkan, dan mendistribusikannya? Dan bagaimana generasi muda, yang terlahir di era post-truth, instan, dan cemas eksistensial, menerimanya sebagai bagian dari pencarian jati diri mereka?

Di dunia intelektual klasik Islam, sebuah kitab tidak pernah berdiri sendiri. Ia dibaca bersama sang guru, dijelaskan konteksnya, ditautkan dengan maqashid syariat, dan diajarkan dengan adab. Kini, kitab yang sama bisa beredar bebas di rak toko buku atau dibagikan sebagai file PDF di Telegram. Perubahan tersebut membawa demokratisasi akses, juga menghapus lapisan penting dalam transmisi: otoritas pengetahuan dan kontrol epistemik.

Sejak awal 2000-an, Indonesia mengalami lonjakan impor literatur Islam dari Timur Tengah, khususnya dari pameran buku internasional di Kairo. Buku-buku yang dulunya hanya beredar terbatas di kalangan santri Timur Tengah kini tersedia luas di pasaran lokal. Alih-alih membangun keislaman Nusantara yang inklusif, arus literatur itu justru membuka pintu varian keislaman ideologis yang menolak pluralisme, demokrasi, dan lokalitas.

Bacaan tentang jihad dan tauhid misalnya, kini jadi bagian dari konsumsi rutin anak-anak muda. Lebih mengkhawatirkan, hal itu dimulai bukan dari forum kajian eksklusif, tetapi dari kegemaran membaca novel-novel islami populer yang memicu rasa ingin tahu terhadap ‘Islam autentik’. Ada satu spektrum wacana yang tidak linier, tetapi saling menyusupi: dari bacaan inspiratif ke militansi ideologis. Itulah kontinum arah keberagamaan Muslim hari ini yang tak tersorot serius.

Hijrah dan Imajinasi Islam Kafah

Tak bisa disangkal, fenomena sosial paling menonjol satu dekade terakhir ialah gelombang hijrah, istilah keagamaan klasik yang kini menjelma jadi brand gaya hidup. Hijrah bukan sekadar berhenti pacaran, mengenakan busana syar’i, atau rajin ke kajian. Hijrah merupakan narasi besar tentang ketegasan identitas, pilihan berani meninggalkan ‘Islam KTP’ menuju ‘Islam kafah’. Bacaan keislaman berperan sebagai pemandu arah.

Generasi muda yang tengah mencari pegangan hidup menemukan dalam buku-buku Salafi, Ikhwani, atau Jihadi bukan sekadar jawaban teologis, namun juga struktur naratif yang memberi solusi kebingungan mereka. Buku terposisikan sebagai penunjuk arah eksistensial. Apa yang gagal disadari adalah bahwa dalam banyak kasus, hijrah yang dimulai dari kesalehan personal bisa bertransformasi jadi militansi sosial. Thaghut-isasi pun semarak karena peyorasi hijrah itu sendiri.

Di tengah banjirnya literatur bercorak ideologis dan puritan, di manakah ormas-ormas Islam moderat memosisikan diri? Mengapa tidak ada ‘buku tandingan’ yang mampu menyapa kebutuhan spiritual generasi muda tanpa harus terjebak nalar biner halal-haram, kafir-mukmin, hak–batil? Literatur Islam moderat cenderung hadir dalam gaya bahasa yang kaku, penuh kutipan dalil, dan tidak menyentuh dimensi afeksi pembaca—terutama anak-anak muda yang fleksibel.

Buku-buku moderat gagal menawarkan narasi yang menyentuh jiwa dan menjawab kegelisahan eksistensial generasi muda. Sementara itu, pihak lain justru menawarkan ‘Islam yang lugas dan menjanjikan kepastian’, meski hitam-putih dan penuh judge terhadap yang berbeda. Sebaliknya, sekolah-sekolah negeri dan masjid-masjid perkotaan diramaikan literatur keislaman bercorak eksklusif yang disampaikan dengan halus dan memikat wasatiah. Apa yang absen dari kalangan moderat ialah satu: ‘marketing’.

Jika radikalisme dianggap ancaman, maka membangun literasi keagamaan yang sehat merupakan langkah strategis yang tak bisa ditunda. Keniscayaan yang dimaksud bukan sekadar program ‘deradikalisasi’ setelah seseorang jadi ekstremis, tapi lebih sebagai ‘pre-radikalisasi’, penjagaan epistemik agar proses pencarian spiritual tak terjebak jalan buntu ideologis. Satu hal yang penting dicatat: literasi adalah tentang memahami bagaimana membaca.

Literasi keislaman perlu diajarkan sebagai medan pergulatan. Generasi muda harus dilatih tidak hanya menghafal dalil, namun juga membaca realitas sosial, menafsirkan konteks, dan memahami keragaman tafsir sejarah Islam. Membangun ekosistem literasi keagamaan yang kritis, kontekstual, dan membebaskan merupakan langkah yang tak bisa ditawar. Buku adalah senjata. Ia bisa menjadi ramuan kontra-radikalisasi, sekaligus menjadi biang kerok radikalisasi itu sendiri.

Seberapa pun masifnya, radikalisme tak datang tiba-tiba. Ia bertunas dalam bisikan propagandis: bacaan yang dikonsumsi diam-diam, alienasi yang dijawab janji-janji palsu dalam buku-buku yang ditulis para ideolog radikal. Jika hari ini semarak generasi muda tampil penuh semangat menyuarakan Islam kafah dan anti-NKRI, itu bukan semata akibat pengaruh guru atau organisasi, melainkan hasil perang yang tak terlihat dan radikalisasi yang tak disadari: literasi.

Negara bisa membuat undang-undang. Polisi bisa menangkap radikal-teroris. Tapi selama ruang baca generasi muda Muslim dibiarkan terbuka untuk segala jenis doktrin tanpa pendampingan, itu sama halnya membiarkan radikalisme bertumbuh di ruang baca, toko buku, dan linimasa para pembaca. Dan jika begitu, masa depan keberagamaan Indonesia akan ditentukan oleh mereka yang agresif memproduksi dan mendistribusikan tafsir eksklusif bernuansa radikal-terorisme. Waspada!

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Leave a Comment

Related Post