Harakatuna.com – Dalam mendesain ulang lembaga pendidikan Jama’ah Islamiyah (JI) sesungguhnya perlu mengetahui terlebih dahulu bobot kurikulum JI dan kondisi di dalamnya. Di semua sektor yang berjumlah 198 lembaga pendidikan jelas memiliki perbedaan dalam pengelolaan di masing-masing tempat.
Seperti dalam tulisan saya sebelumnya, bahwa pemerintah harus bergerak cepat dan tepat soal ini. Sebab jika teledor sedikit, anggota JI bisa lari dan minggat ke tempat lain. Hari ini anggota JI gusar dan mereka masih belum tahu bagaimana cara memutuskan mengelola pendidikannya. Karena inilah kita sebaiknya melakukan pengawasan secara ketat dan terarah.
Tujuan Pendidikan JI
Dalam mencapai tujuan perjuangannya, kelompok Jama’ah Islamiyah memang bergerak dalam pendidikan dan dakwah. Dua-duanya dijadikan aset berharga sebagai pengkaderan generasi selanjutnya. Karena itu pendidikannya dikelola dengan cara eksklusif dan jihad.
Pendidikan JI ini mirip dengan gerakan perjuangan di lapangan. Di lapangan JI menganut konsep strategi perjuangan yang disebut dengan Strategi Tamkin Jama’ah Islamiyah (STRATA-JI), dan sebelumnya disebut Pedoman Umum Perjuangan Jama’ah Islamiyah (PUPJI).
Sebagai konteks, strategi Tamkin Jama’ah Islamiyah (STRATA-JI), geraknya bagaimana cara mempengaruhi sebuah negara untuk menjalankan pemerintahan secara Islam. Sementara Pedoman Umum Perjuangan Jama’ah Islamiyah (PUPJI) bagaimana cara untuk membentuk pemerintahan Islam harus menguasai negara secara Islam.
Strategi di atas salah satunya dijalankan melalui pendidikan dan dakwah. Karena bagi Para Wijayanto, pendidikan dan dakwah akan banyak manfaatnya dalam menggerakkan personil di segala level; mulai paling muda, usia dewasa, dan usia tua. Yang disasar dalam strategi ini adalah bagaimana cara mendapatkan dukungan dari umat Islam sebesar-besarnya.
Penataan Mengelola Pendidikan
Nah, dalam mengoperasikan pendidikan lembaga-lembaga pendidikan JI memakai kader-kader JI yang handal dan telaten. Meski kader ini terlihat lugu, yang terpenting, kader-kader ini mumpuni di bidangnya, misal dalam penguasaan tartil Al-Qur’an, tajwid, dalam bidang kesehatan, ekonomi, dan lainnya. Kendati pendidikan JI dan lembaga layanan sosial JI sebenarnya sudah mendapatkan respons baik dari masyarakat dan diapresiasi.
Penataan dalam mengelola pendidikan dan gerakan di lapangan terbukti ampuh. Gerakan di lapangan mereka tetap dalam jihad, membuat senjata, pelatihan militer ilegal, dan berhubungan dengan kelompok teroris internasional. Sementara di pendidikan mereka merekrut santri-santrinya untuk terlibat proyek jihad global. Inilah sekilas gambaran persinggungan gerakan JI dan pendidikan.
Lalu bagaimana dengan kurikulumnya? Lembaga pendidikan JI sebenarnya menginduk ke Pesantren Al Mukmin Ngruki Sukoharjo. Sebab, rata-rata pengelola lembaga pendidikan JI adalah alumni dari Pesantren Al Mukmin Ngruki. Artinya, sanad keilmuan dan DNA perjuangan lembaga pendidikan JI itu adalah Pesantren Al Mukmin Ngruki.
Kurikulum dan Bahan Ajaran JI
Kitab-kitab yang diajarkan di sana sebagai rujukan dalam bab aqidah dan syariat, seperti Kitabul Iman atau Aqidah Thohawiyah (Aqidah untuk tingkat Tsanawiyah/tiga tahun pertama), Kitab Tauhid (Aqidah untuk Aliyah/tiga tahun kedua), dan Minhajul Muslim (untuk fiqh dan adab/akhlak). Ini semua diajarkan di semua lembaga pendidikan JI.
Sementara ustaznya tidak memiliki keberanian berpikiran terbuka terhadap pendapat-pendapat di luar kelompoknya. Sehingga kurikulum dan kitab-kitab di atas diajarkan dengan cara tematik, monolotik dan fatalistik. Yang terpenting adalah bagaimana pendidikan ini satu garis rel dengan perjuangan JI, yakni menjadikan umat Islam bisa menegakkan negara Islam di Indonesia. Lalu bagaimana nasib lembaga JI pasca membubarkan diri dan bagaimana cara menangani lembaga tersebut? Akan dibahas pada tulisan selanjutnya.








Leave a Comment