Larangan Saling Merendahkan Sesama Manusia dan Hikmah Sosialnya, Tafsir Surah al-Hujurat Ayat 11

Harakatuna

27/01/2026

4
Min Read

On This Post

Harakatuna.com – Allah menciptakan manusia dengan adanya perbedaan karakter dan latar belakang. Namun sebab perbedaan itu, sering kali menimbulkan sikap saling meremehkan dan merendahkan di antara manusia, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan. Padahal, sikap demikian sangat berpotensi menyakiti perasaan satu sama lain dan dapat merusak hubungan persaudaraan.

Tidak sedikit ditemukan dalam ayat Alquran yang membahas sikap-sikap meremehkan atau merendahkan, di antaranya adalah surah al-Hujurat ayat 11 yang berbunyi:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ ۝١١

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, boleh jadi mereka (yang direndahkan) lebih baik dari pada mereka (yang merendahkan). Dan jangan pula perempuan-perempuan merendahkan sekumpulan perempuan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Janganlah kalian saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruknya panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Barang siapa yang tidak bertobat, mereka adalah orang-orang zalim.”

Melalui ayat di atas, Allah melarang manusia untuk saling mengejek, merendahkan dan memberi julukan buruk kepada sesama manusia. Hanya Allah lah yang mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya, mana yang baik dan yang buruk di sisi-Nya. Bisa jadi seseorang yang direndahkan itu lebih baik di hadapan Allah dibandingkan orang yang merendahkan.

Perilaku Merendahkan Manusia

Menurut Imam al-Maturidi dalam Ta’wilat Ahl as-Sunnah bentuk merendahkan atau ejekan yang dipaparkan ayat di atas memiliki dua macam. Pertama, ejekan terhadap perbuatan atau perilaku seseorang, misalnya mengatakan sok cari muka kepada orang yang bersedekah. Merendahkan atau ejekan seperti ini tidak layak dilakukan oleh seseorang, khususnya muslim, karena bisa jadi orang yang direndahkan itu mulia di sisi Allah.

Kedua mengejek fisik atau ciptaan, seperti menganggap anggota tubuh orang lain jelek atau tidak sempurna. Seseorang yang mencela fisik saudaranya, maka seolah-olah ia juga mencela Allah Sang Pencipta, karena bentuk fisik merupakan ciptaan Allah untuk para hamba-Nya.

Dalam kitab Mafatih al-Ghaib, Imam Fakhruddin ar-Razi mengatakan bahwa ayat di atas mengandung isyarat tentang beberapa tingkatan bentuk ejekan. Tingkatan pertama berupa sukhriyah, yaitu memandang seseorang dengan tanpa penghormatan, dan menganggap orang itu tidak layak untuk di bicarakan apalagi diperhatikan keberadaannya. Seakan-akan keberadaan orang itu dianggap tidak ada.

Tingkatan kedua berupa lamz, yaitu menggunjing atau membicarakan aib seseorang di saat orang itu tidak ada. Tingkatan ini berada di bawah sukhriyah, karena dalam lamz orang yang dibicarakan masih dianggap keberadaannya. Sedangkan sukhriyah sama sekali tidak menganggap keberadaan seseorang, sampai-sampai aibnya saja tidak layak untuk dibicarakan.

Ketiga nabz, yaitu memberi julukan atau gelar buruk kepada seseorang. Nabz juga bisa dimaknai dengan memberi julukan baik pada seseorang, seperti memberi julukan syuja’ atau pemberani kepada orang yang pengecut. Ini masuk dalam kategori nabz, karena julukan baik hanya bisa dipakai oleh orang yang memiliki sifat dari julukan tersebut. Sedangkan orang yang tidak memiliki sifat demikian, tidak boleh dijuluki menggunakan sifat itu.

Hikmah Sosial Larangan Merendahkan Orang Lain

Di balik larangan merendahkan atau mengejek sesama manusia tentu memiliki hikmah. Salah satunya adalah mengingatkan manusia akan keterbatasan dalam menilai baik dan buruknya perilaku orang lain. Mulia atau tidaknya seseorang tergantung pada penilaian Allah Swt., dan manusia tidak bisa menilai saudaranya.

Selain itu, ejekan atau penghinaan bisa menimbulkan kebencian antara manusia. Jika hal ini diteruskan, bisa merusak ukhuwah atau hubungan persaudaraan sesama manusia, yang awalnya masyarakat hidup rukun, malah saling bermusuhan lantaran ejekan atau hinaan. Oleh karena itu Alquran melarang manusia untuk saling mengejek dan merendahkan, supaya tidak menimbulkan konflik di kehidupan manusia.

Lebih lanjut lagi, menurut Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir bahwa di antara tujuan Islam melarang ejekan atau hinaan terhadap manusia adalah supaya umat muslim bersatu dan tidak terpecah belah. Dengan bersatunya umat muslim ini akan menjadi contoh teladan bagi umat-umat lainnya, sehingga Islam bisa tersebar di muka bumi sebagai agama rahmatan li al-‘alamin.

Demikianlah larangan saling mengejek dan merendahkan yang dijelaskan dalam QS. al-Hujurat ayat 11. Larangan tersebut bertujuan agar manusia selalu sadar bahwa standar baik buruknya seseorang tergantung penilaian Allah Swt. Selain itu, dengan adanya larangan saling merendahkan, akan terciptanya kehidupan rukun dan harmonis di antara manusia. Wallahu a’lam.

Oleh: Fikri Ardiansyah (Mahasantri Mahad Aly Situbondo).

Leave a Comment

Related Post