Harakatuna.com – Langit. Sebuah cakrawala tak berbatas yang memantik rasa takjub manusia sejak zaman purba hingga era modern. Dalam tradisi Islam, langit menjadi salah satu tanda kebesaran Allah yang sering disebutkan dalam Al-Qur’an. Salah satu konsep menarik dalam Al-Qur’an adalah “tujuh lapis langit”, sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Mulk ayat 3:
الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًاۗ مَا تَرٰى فِيْ خَلْقِ الرَّحْمٰنِ مِنْ تَفٰوُتٍۗ فَارْجِعِ الْبَصَرَۙ هَلْ تَرٰى مِنْ فُطُوْرٍ ٣ ( الملك/67: 3)
Artinya: “(Dia juga) yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu tidak akan melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih ketidakseimbangan sedikit pun. Maka, lihatlah sekali lagi! Adakah kamu melihat suatu cela?” (Al-Mulk/67:3)
Ayat ini menyodorkan tantangan kepada manusia untuk melihat kembali ciptaan Allah dan mencari harmoni di dalamnya. Namun, apa sebenarnya makna “tujuh lapis langit”? Apakah ia berbicara tentang struktur kosmis yang bisa dijelaskan oleh sains modern, ataukah ini adalah ungkapan spiritual yang melampaui batas rasionalitas manusia?
Tafsir Tradisional tentang Langit Tujuh
Dalam tafsir klasik, para ulama mencoba memahami makna tujuh lapis langit dengan berbagai pendekatan. Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa langit tujuh ini adalah struktur yang nyata dan berlapis-lapis, di mana masing-masing memiliki fungsi tertentu. Dalam Al-Kashyaf, Imam Zamakhsyari menyebutkan bahwa langit ini meliputi segala sesuatu yang ada di atas bumi, termasuk benda-benda langit yang kita saksikan setiap hari.
Namun, konsep ini sering kali diinterpretasikan secara metaforis oleh sebagian ulama. Imam Al-Ghazali, misalnya, dalam kitab Ihya Ulumuddin, menyebut bahwa tujuh langit bisa merujuk pada lapisan spiritual manusia, dari nafsu rendah hingga tingkat tertinggi kesadaran ruhani. Pendekatan ini mengubah tujuh langit menjadi refleksi perjalanan batin manusia menuju kedekatan dengan Allah.
Perspektif Saintifik: Langit dan Astronomi Modern
Ketika berbicara tentang langit dalam Al-Qur’an, sebagian intelektual modern berusaha mengaitkannya dengan penemuan ilmiah. Struktur tujuh lapis sering kali dihubungkan dengan atmosfer bumi yang memiliki tujuh lapisan: troposfer, stratosfer, mesosfer, termosfer, eksosfer, ionosfer, dan magnetosfer.
Namun, apakah ini cocok? Ilmu astronomi modern telah membuka rahasia alam semesta hingga miliaran tahun cahaya. Apa yang disebut langit oleh sains lebih dari sekadar atmosfer bumi; ia mencakup ruang antar bintang, galaksi, dan struktur kosmos yang kompleks. Dalam pandangan ini, klaim bahwa “tujuh lapis langit” sepenuhnya merujuk pada atmosfer tampak terlalu menyederhanakan makna ayat tersebut.
Seorang fisikawan Muslim, Dr. Nidhal Guessoum, dalam bukunya Islam’s Quantum Question, mengingatkan agar kita tidak buru-buru mengaitkan Al-Qur’an dengan penemuan sains. Menurutnya, Al-Qur’an tidak dimaksudkan untuk menjadi buku sains, tetapi petunjuk moral dan spiritual. Dengan demikian, “langit tujuh lapis” mungkin lebih tepat dipahami sebagai konsep yang melampaui batas sains, menantang manusia untuk merenungi kebesaran Allah.
Fakta Sosial: Kehausan Spiritual di Era Kosmik
Di era modern, manusia telah melampaui batas langit pertama—atmosfer bumi—dengan eksplorasi luar angkasa. Namun, di balik pencapaian ini, manusia justru menghadapi krisis eksistensial. Sebuah survei dari Pew Research Center (2023) menunjukkan bahwa 26% orang dewasa di Amerika Serikat mengidentifikasi diri sebagai “tidak beragama”, meningkat dari hanya 16% pada tahun 2007.
Ironisnya, di tengah kehausan spiritual ini, minat terhadap kosmologi dan eksplorasi luar angkasa justru meningkat. Program SpaceX yang dipimpin oleh Elon Musk, misalnya, bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang impian manusia untuk menjelajahi langit dan menemukan makna keberadaan. Dalam konteks ini, gagasan “langit tujuh lapis” dapat memberikan perspektif baru: bahwa di balik luasnya alam semesta, ada kebesaran Allah yang menanti untuk ditemukan.
Spirtualitas Kosmis: Melampaui Sains dan Literalitas
Al-Qur’an tidak hanya mengajak manusia untuk memahami dunia fisik, tetapi juga untuk merenungi tanda-tanda Allah yang tersembunyi. Dalam surah Fushshilat ayat 53, Allah berfirman:
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa Dia menyaksikan segala sesuatu?”
Ayat ini menunjukkan bahwa langit tidak hanya berbicara kepada akal, tetapi juga kepada hati. Langit menjadi simbol kebesaran Allah yang tidak terbatas, memancing rasa takjub dan kerendahan hati manusia.
Para filsuf Muslim seperti Al-Farabi dan Ibn Sina memahami langit sebagai simbol perjalanan intelektual dan spiritual. Dalam kosmologi mereka, langit adalah jalan menuju “Akal Aktif”, entitas yang menjadi perantara antara Allah dan manusia. Dalam pandangan ini, langit tujuh lapis adalah refleksi dari perjalanan manusia menuju kesempurnaan.
Antara Tafsir Saintifik dan Spiritualitas Kosmis
Jadi, apakah langit tujuh lapis dalam Al-Qur’an adalah konsep saintifik atau spiritual? Jawabannya mungkin tidak perlu dikotomis. Al-Qur’an adalah kitab yang berbicara kepada semua dimensi manusia: akal, hati, dan jiwa. Dalam ayat-ayat tentang langit, Allah mengundang manusia untuk merenungi kebesaran-Nya melalui ilmu pengetahuan, sekaligus menyadari keterbatasan manusia di hadapan Sang Pencipta.
Syaikh Ibn Atha’illah dalam Al-Hikam berkata dan Ibnu ‘Ajibah dengan Iqazhul Himam syarah Hikam berkata:
لا يُشرق القلب إلا إذا تجلى عنه ظلمات الأكوان، وهي الحظوظ والشهوات والرغبات، فإنه إذا أشرق القلب بالنور تخلص من الأكوان وصعد في مقامات القرب، كل مقام كالسماء بالنسبة لما قبله، حتى يصل إلى سماء المعرفة، وهي السماء السابعة، فإذا وصل إليها تجلى له الحق بنعوت الجمال والجلال، فيسكن القلب، ويطمئن السر، ويذوق حلاوة القرب.”
Artinya: “Hati tidak akan bercahaya kecuali jika kegelapan dunia (keinginan, syahwat, dan nafsu) telah sirna darinya. Ketika hati diterangi oleh cahaya, ia akan terbebas dari dunia dan naik ke maqam-maqam kedekatan. Setiap maqam ibarat langit dibandingkan dengan maqam sebelumnya, hingga ia mencapai ‘langit makrifat,’ yang merupakan langit ketujuh. Ketika sampai di sana, Allah akan menampakkan diri-Nya dengan sifat keindahan dan keagungan. Maka hati akan tenang, rahasia jiwa akan tenteram, dan ia akan merasakan manisnya kedekatan (dengan Allah).
Teks ini menunjukkan bagaimana Ibn Ajibah memetaforakan perjalanan spiritual sebagai pendakian ke “langit-langit” maqam, hingga mencapai makrifat, yang merupakan puncak dari perjalanan spiritual seseorang. Dengan demikian, langit tujuh lapis bukan hanya tentang struktur kosmis, tetapi juga perjalanan spiritual yang menghubungkan manusia dengan Sang Ilahi. Maka, ketika menatap langit, kita tidak hanya melihat bintang-bintang yang jauh, tetapi juga mendengar panggilan Allah yang mengingatkan bahwa kebesaran-Nya melampaui apa pun yang dapat kita pahami.
Langit, baik dalam makna saintifik maupun spiritual, adalah refleksi kebesaran Allah. Dan di balik cakrawala tak berbatas itu, ada rahasia Ilahi yang menunggu untuk ditemukan.
Oleh: Khoirul Ibad, Lc, M.Ag. (Alumni Institut Imam Malik, Maroko 2021 dan Magister Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) IIQ Jakarta 2024. Sedang aktif belajar mengajar di Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Daarul ‘Uluum Lido-Bogor.)









Leave a Comment