Kurban: Esensi Spiritualitas dan Gerakan Sosial dalam Krisis Kemanusiaan

Ni'am Khurotul Asna

04/06/2025

4
Min Read
Kurban

On This Post

Harakatuna.com – Dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw. bersabda, “Tidak ada hari-hari di mana amal salih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah melebihi hari-hari ini, yakni sepuluh hari pertama Dzulhijjah” (HR. Bukhari).

Momentum mulia ini menjadi pengingat bagi setiap Muslim untuk saling memperkuat hubungan dengan Allah, sesama manusia, alam, maupun diri sendiri. Kurban yang ditandai dengan pelaksanaan sakral penyembelihan hewan kurban menjadi simbol maupun refleksi spiritual umat beragama dan konteks kemanusiaan yang kompleks.

Kisah Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail, menggugah refleksi, apresiasi, dan nilai kebaikan dalam hari raya kurban atau hari raya Iduladha pada tiap tahunnya. Namun, harus dipahami betul bahwa betapapun besarnya pengorbanan manusia untuk agama dan Allah, pengorbanan tak bisa dilakukan dengan mengorbankan nyawa.

Jangan sampai salah kita dalam menafsiri kisah Ibrahim dan Ismail sebagai cikal-bakal hari raya kurban. Itu sebabnya, bom bunuh diri yang merugikan kemaslahatan diri sendiri dan banyak pihak yang dilakukan atas embel-embel jihad, tak dibenarkan dalam Islam.

Kurban harus dimaknai sebagai momentum meneladani nilai spiritualitas dan kemanusiaan dalam rangka menebarkan nilai keteladanan pengorbanan. Penting bagi kita sebagai umat beragama, dapat melihat dan memaknai simbol tersebut tidak hanya patut diberikan pada umat Islam saja. Saluran kebaikan dari berkurban dapat dibagikan kepada siapa saja pada mereka yang membutuhkan, termasuk dalam banyaknya problematika kemanusiaan di tingkat lokal maupun global.

Esensi Kurban Tak Terbatas Waktu

Krisis kemanusiaan yang sampai kini melanda dunia dan menuai konflik berkepanjangan, salah satunya yang terjadi di Palestina, diskriminasi dan penindasan di mana-mana, hingga kemiskinan ekstrim di sekitar kita, ibadah kurban seharusnya menggerakkan empati dan solidaritas. Sehingga di sini makna kurban menjadi urgen yakni memperhatikan mereka yang terluka, kelaparan, dan terpinggirkan.

Meskipun hari raya kurban hanya setahun sekali, tetapi sebetulnya esensi penting yang harus kita pahami adalah terlaksananya nilai-nilai dari berkurban yang tak terbatas waktu. Artinya, tidak hanya saat momentum bulan Zulhijah, hari raya Iduladha, dan berkurban, tetapi esensi yang didapat dari perayaan tersebut dapat teraplikasi dalam kesadaran dan kepedulian umat sepanjang waktu.

Simbol dari bentuk ketakwaan dan kemanusiaan patut tercermin dalam tindak laku masyarakat, sehingga saat momentum—tiba bagiannya adalah bagaimana kita meng-upgrade makna dan merefleksikan ulang. Akan ada hal-hal baru dalam hari raya kurban tiap tahun tetapi esensinya adalah menancapkan kesadaran bahwa kurban tak hanya menyoal sebuah perayaan agama tapi kesadaran umat untuk memperbaiki diri.

Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail pun tentu masih relevan untuk terus diceritakan. Edukasi dari hebatnya kisah mengedukasi masyarakat beragama mengenai ketakwaan dan kepeduliaan sosial dalam meningkatkan hubungan dengan Tuhan dan keterhubungan antar makhluk hidup. Kurban merupakan jembatan spiritual yang menghubungkan manusia dengan Tuhan dan sekaligus manusia dengan sesamanya.

Solidaritas sosial dari berkurban dibutuhkan untuk memulihkan kemanusiaan yang kering. Saudara kita di Palestina hingga saat ini masih dibombardir Israel dengan ancaman mematikan atas kelaparan maut. Penembakan oleh pasukan Israel terhadap warga palestina juga banyak menyebabkan korban jiwa dan luka-luka. Berbagai negara mengecam tindakan bengis Israel. Dan sudah saatnya berbagai negara mengupayakan penguatan solidaritas sosial untuk warga Palestina.

Spiritualitas dan Solidaritas Kemanusiaan yang Inheren

Peristiwa pelaksanaan kurban menghubungkan nilai spiritualitas dan solidaritas sosial senantiasa terhubung. Sebab manifestasi sikap kepedulian terhadap sesama karena kurban seyogianya dilandasi dengan nilai cinta dan kasih sayang. Teladan baik dan positif dapat kita kerahkan untuk memupuk semangat solidaritas antar sesama. Tak harus dengan kelimpahan daging tapi sesuatu yang layak kita beri untuk menguatkan sesama menjadi inti dari implementasi nilai kurban yang transformatif.

Gerakan solidaritas sosial dapat diperluas oleh berbagai macam bentuk semangat kolektif antar masyarakat. Misalnya, dalam hari raya kurban, distribusi daging kurban dapat disebarkan dengan adil dan merata, termasuk bagi mereka yang membutuhkan di wilayah bencana dan konflik. Kemudian diiringi kampanye edukasi dalam meraih kesadaran tentang nilai spiritual dan sosial kurban yang menyentuh berbagai platform. Supaya adil dan merata, kolaborasi penting dilakukan untuk menjangkau mereka yang tak terdengar suaranya.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda, “Tidaklah beriman kepadaku orang yang kenyang sementara tetangganya lapar dan dia tahu akan hal itu” (HR. Thabrani). Ini menjadi pepeling bagi kita semua bahwa dalam hidup rasa memiliki yang terbagi antar sesama menjadi penting dan dampaknya membahagiakan. Baik dilakukan dalam ranah kecil di sekeliling saudara, tetangga, maupun mereka yang jangkauannya jauh dengan kita.

Meneladani nilai kurban juga harus memberi kesadaran bagi orang-orang yang pernah merasa berlebihan dalam membelanjakan harta. Korupsi dan perilaku ishraf misalnya, menjadi perilaku mengotori hati yang harus dibersihkan dan dicegah. Edukasi nilai-nilai kurban pun perlu didengungkan tak hanya di institusi pendidikan, namun juga masyarakat luas. Semakin esensial pula, pastinya kurban akan menjadi lebih bermakna apabila dirayakan dengan suka cita mengasihi sesama tanpa dibatasi oleh perbedaan yang ada.

Leave a Comment

Related Post