Kontra-Narasi Daulah dan Khilafah dalam Dakwah: Awas Propaganda Terselubung Kaum Radikal!

Ahmad Khairi

09/10/2024

4
Min Read
Dakwah Khilafah
Felix Siauw (kiri), dai HTI yang selalu mempropagandakan khilafah dan Oemar Mita (kanan), dai afiliasi JI yang selalu mempropagandakan daulah dalam dakwah mereka.

On This Post

Harakatuna.com – Apa yang terlintas dalam benak Anda ketika mendengar kata ‘dakwah’? Pasti, kebanyakan, berpikir soal amar makruf nahi mungkar. Para dai—terlepas karena ikhlas maupun karena profesi belaka—bergulat dalam narasi baik-buruk, sunah-wajib, halal-haram, dan hal-ihwal syariat Islam lainnya. Bahkan, tidak jarang beberapa dai menyematkan pesan ideologis dalam dakwah mereka. ‘Daulah’ dan ‘khilafah’, umpamanya.

Dalam beberapa dekade terakhir, wacana tentang daulah dan khilafah telah menjadi salah satu isu sentral yang memengaruhi kelompok fundamentalis mendiseminasi radikalisme. Narasi tersebut tidak sekadar muncul sebagai wacana keislaman yang ideologis, melainkan juga sebagai agenda politik yang riskan untuk NKRI. Kaum radikal menganggap daulah atau khilafah sebagai tujuan utama dakwah mereka.

Dan tidak hanya itu, konversi iman dijadikan bagian integral dari rencana khilafahisasi tersebut. Jelas, perspektif sempit semacam itu tidak saja mengabaikan keragaman umat, tetapi juga menyelewengkan esensi dakwah itu sendiri. Mengapa? Sebab, dalam sejarahnya, dakwah Islam bukanlah upaya untuk secara agresif mengubah keyakinan seseorang, apalagi keyakinan ideologis, melainkan sarana untuk membangun peradaban yang luhur.

Dakwah yang dibawa Nabi Saw. di Makkah dan Madinah, sebagai contoh, orientasinya pembenahan akhlak dan tatanan sosial—bukan agenda ideologis-politis. Implikasinya, kaum mukmin ketika itu menerima ajaran Islam secara damai, tidak melalui paksaan. Konversi keimanan terjadi sebagai dinamika sosial yang positif, bukan sebagai target monolitis dakwah. Artinya, propaganda terselubung dalam dakwah itu tidak dibenarkan.

Kaum radikal yang mendakwahkan ‘daulah’ dan ‘khilafah’ lupa bahwa Nabi Saw. tidak pernah memaksakan Islam terhadap masyarakat yang berbeda keyakinan. Nabi justru menjadi teladan dialog antarumat beragama dengan memprioritaskan tasamuh. Narasi-narasi yang dipaksakan secara politis hari-hari ini justru mengabaikan keniscayaan masyarakat itu sendiri, yakni hidup dalam harmoni—apa pun agamanya.

Politik Konversi Iman, Propagandakah?

Hari ini, kaum radikal pengusung agenda daulah dan khilafah menyempitkan dakwah jadi alat konversi iman belaka. Akibatnya, dakwah menjadi eksklusif untuk Muslim dan mengabaikan yang lain. Bagi mereka, keberhasilan dakwah diukur dari seberapa banyak orang yang berhasil dikonversi ke dalam Islam. Orientasi tersebut menegasikan aspek terkrusial dari dakwah itu sendiri: guyubnya interaksi antarumat beragama.

Dakwah ideal tidak diproyeksikan untuk mengeliminasi keyakinan lain, tetapi menciptakan dialog, saling pengertian, dan kerja sama lintas agama demi peradaban bangsa. Namun, di tangan kaum radikal dan propaganda terselubungnya, dakwah justru jadi alat polarisasi masyarakat dan memantik konflik horizontal. Obsesi akan daulah dan khilafah melupakan realitas kebhinekaan dan mengabaikan kemaslahatan untuk NKRI.

Karena itulah, sebagai manifestasi kehati-hatian dari propaganda terselubung itu, redefinisi dakwah menjadi sesuatu yang urgen. Dakwah tidak bisa lagi dimaknai sebagai proses konversi iman, melainkan sarana untuk memajukan nilai-nilai perdamaian, persaudaraan, keadilan sosial, dan persatuan-kesatuan. Dakwah mesti dikembalikan ke misi semula: menciptakan lingkungan sosial yang harmonis demi negara-bangsa.

Secara historis, the golden age of Islam itu terjadi ketika toleransi antarumat beragama dijaga. Kejayaan Islam di Andalusia, misalnya, mempertontonkan kedamaian interaksi Muslim, Kristen, dan Yahudi hingga sama-sama melahirkan kontribusi besar dalam bidang sains, filsafat, dan lainnya. Sekarang silakan Anda pikir, apakah daulah dan khilafah ataupun konversi iman itu dapat memajukan peradaban? Mustahil.

Artinya, semua itu hanyalah propaganda belaka. Jika ingin negara-bangsa ini, yakni NKRI, menjadi maju dan berjaya, maka memupuk kerukunan antarumat lewat dakwah itu jalan satu-satunya. Setelah itu, terjalinlah kerja sama yang produktif di bidang sains dan teknologi. Bicara daulah dan khilafah hari ini tidak saja ahistoris, tetapi juga sudah expired. Jika dipaksakan, propaganda tersebut hanya akan membuat umat semakin sengsara.

Keniscayaan Kontra-Narasi Propagandis

Di era digital, tantangan dakwah semakin kompleks. Propaganda terselubung kaum radikal tentang daulah dan khilafah menyebar dengan cepat melalui berbagai platform; memperdaya generasi muda tentang Islam dan politik. Kelompok radikal mempromosikan gagasan utopis sebagai solusi tunggal atas masalah yang dihadapi umat Muslim. Karena itulah, mesti muncul dakwah kontra-narasi yang menekankan dialog dan kerukunan.

Identifikasi dan penanggulangan diseminasi narasi kaum radikal saat ini sangat krusial. Strategi kontra-narasi harus mengedepankan pendekatan kognitif, yang memperlihatkan bahwa khilafah bukanlah solusi Islam untuk memajukan peradaban—justru menghancurkannya karena sistem yang manipulatif dan eksploitatif. Kebhinekaanlah yang akan memajukan peradaban, asal diselamatkan dari segala propaganda.

Pada intinya, dakwah yang semata-mata berorientasi pada konversi iman, dan terlebih lagi dipolitisasi dengan narasi daulah dan khilafah, akan gagal menghadirkan masyarakat yang damai dan negara yang tamadun. Maka, kembalikan dakwah ke makna idealnya. Orientasikan untuk memperkuat toleransi dan dialog antaragama, bukan alat untuk menundukkan atau meminggirkan kelompok lain. Perpecahan bukan solusi.

Tujuan dakwah tidak boleh hanya dilihat dari seberapa banyak orang yang berpindah keyakinan ideologisnya, tetapi bagaimana nilai-nilai kebaikan dan keadilan dapat menjadi landasan dalam interaksi sosial-masyarakat. Seperti yang dicontohkan Nabi Saw., dakwah yang benar berorientasi pada pembentukan peradaban luhur, yaitu ketika harmoni, keadilan, dan kesetaraan menjadi prinsip utama. Maka, awas propaganda terselubung kaum radikal!

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Leave a Comment

Related Post