Konten Pengajian Radikalisme Masih Banyak di Jabar

Harakatuna

06/04/2021

2
Min Read
pengajian radikal

On This Post

Harakatuna.com. Bandung – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat menyatakan bahwa pengajian berkonten radikalisme masih banyak ditemukan di wilayahnya. Pendakwah dengan konten keras dilakukan tidak secara gamblang pada publik.

Sekertaris Umum (Sekum) MUI Jabar, Rafani Akhyar mengatakan, untuk jumlah dari pengajian yang mengajak radikalisme sendiri tidak bisa kita hitung dengan angka. Menurut dia, hal ini kita harus lakukan dengan rapih dan tertutup.

“Pola yang dahulu masih ada dan berjalan pengajian yang sifatnya keras intoleran dan radikal. Selama itu tetap ada walaupun itu tadi laporan terakhir mah belum masuk lagi. Kalau data yang dahulu semua juga sudah tahu lah,” ujar Rafani saat pada Senin (5/4/2021).

Pengajian intoleran dan mengundang konten radikalisme biasanya tidak mereka lakukan secara terus menerus. Pengundang pengajian mereka selingi dengan menghadirkan pendakwah yang moderat agar pengajian tidak radikal.

“Kadang masjid itu di Bandung misal, ada mengundang mubalig moderat, keras diundang, mubalig yang menyerempet radikalisme itu juga hadir. Jadi menurut saya harus dipantau itu mubalignya,” tuturnya.

2. Sensoring konten keagamaan masih lemah

Mengetahui pengajian radikalisme bisa kita lihat dari pendakwahnya. Sebab, ada juga masjid yang memang moderat namun oleh DKM-nya justru mengundang pendakwah yang memiliki latar belakang intoleransi.

“Pengajian Itu sangat terpengaruh dengan siapa yang mengisi. Sensoring keagamaan pada layanan digital juga kurang, dan ini perlu tenaga yang paham betul buat sensor keagaman itu,” jelasnya.

3. Jangan salah artikan kata jihad

Kalimat jihad dalam Islam memang ada. Hanya saja, kata dia, penerapan oleh umat harus sesuai dengan kondisi dan mereka salahgunakan. Sehingga tidak menjerumuskan pada jalan yang tidak benar.

“Banyak yang mendengar kata Jihad ini di kita langsung seperti bagaimana gitu. Ini harus segera kita luruskan,” katanya.

4. Umat dapat laporkan pendakwah mengandung konten radikalisme dan intoleransi

Masyarakat dalam mengikuti pengajian ada baiknya bisa melihat terlebih dahulu siapa pendakwahnya, dan bagaimana latar belakangnya. Rafani berpesan, umat jangan sampai salah menerima dan terpengaruh pada konten negatif.

“Kalau mengundang hal aneh segera konfirmasi sama MUI sekitar dan belajar agama harus pada kiyai yang memang belajar agama. Kenapa jadi radikal dan liberal ini karena memahami agama tidak pada kesejatian,” kata dia.

Leave a Comment

Related Post