Koalisi Adidaya Timur: Membaca Strategi ‘Look East’ Iran dalam Tatanan Multipolar

Shireen Ateefa Mahmood

22/02/2026

9
Min Read
Iran Timur

On This Post

Judul: Iran’s Look East Policy: New Directions, Editor: Mehran Kamrava, Penerbit: Cornell University Press, Kota Terbit: Ithaca, New York, Tahun Terbit: 2026, Tanggal Publikasi: 15 Januari 2026, Tebal Buku: 348 halaman, Dimensi Buku: 6 × 9 × 0 inch, ISBN-13: 978-1-5017-8454-5, Peresensi: Shireen Ateefa Mahmood.

Harakatuna.com – Satu dekade terakhir, kebijakan luar negeri Iran mengalami transformasi struktural yang tidak dapat dipahami semata sebagai perubahan taktis atau respons jangka pendek terhadap tekanan sanksi Barat. Ia mencerminkan upaya sistematis untuk mengintegrasikan Republik Islam Iran ke dalam orbit geopolitik non-Barat. Buku Iran’s Look East Policy: New Directions yang diedit oleh Mehran Kamrava hadir tepat pada momen ketika merapatnya Iran ke negara adidaya Timur terlihat sebagai fenomena global yang signifikan, bukan sekadar kebijakan regional.

Karya ini penting karena menempati posisi yang sebelumnya relatif kosong dalam literatur akademik berbahasa Inggris. Banyak studi mengenai Iran selama ini didominasi oleh pendekatan keamanan Barat yang berfokus pada isu nuklir, sanksi, atau konflik Timur Tengah, sehingga orientasi strategis Iran ke Asia kerap diperlakukan sebagai fenomena sekunder. Buku ini justru membalik perspektif tersebut: ia menempatkan kebijakan “Look East” sebagai pusat analisis dan memandangnya sebagai indikator penting dari pergeseran struktur kekuasaan global.

Peran editor, Mehran Kamrava, sangat menentukan arah intelektual buku ini. Sebagai seorang profesor ilmu pemerintahan dan salah satu pakar politik Iran yang paling berpengaruh, Kamrava dikenal karena pendekatannya yang menggabungkan analisis institusional, ideologis, dan geopolitik. Karya-karya sebelumnya menunjukkan minatnya pada bagaimana negara Iran berfungsi sebagai sistem politik yang kompleks, bukan sekadar rezim ideologis. Dalam buku ini, kebijakan “Look East” tak dipahami sebagai retorika anti-Barat semata, melainkan strategi rasional yang dibentuk oleh interaksi antara tekanan eksternal, kebutuhan ekonomi, dan kalkulasi keamanan.

Kontributor buku ini berasal dari beragam latar akademik dan geografis, mulai dari pakar ekonomi politik hingga analis hubungan internasional. Keragaman ini menghasilkan pendekatan yang tidak monolitik. Beberapa penulis menggunakan perspektif realisme struktural, yang lain mengandalkan analisis ekonomi politik internasional, sementara sebagian menyoroti dimensi regionalisme dan institusi multilateral. Heterogenitas metodologis ini menjadi salah satu kekuatan utama buku, karena memungkinkan pembaca melihat kebijakan “Look East” sebagai fenomena multidimensional.

Pada bagian awal buku, Kamrava menegaskan bahwa kebijakan “Look East” tidak muncul secara tiba-tiba. Ia merupakan hasil evolusi panjang sejak Iran semakin terisolasi akibat sanksi internasional. Namun, yang membuat fase terbaru berbeda adalah skala dan sistematisasinya. Jika sebelumnya hubungan Iran dengan negara-negara Asia bersifat pragmatis dan terbatas, kini orientasi tersebut menjadi kerangka strategis utama yang mencakup perdagangan, keamanan, teknologi, hingga diplomasi multilateral.

Dalam analisis awalnya, Kamrava mengidentifikasi tiga faktor utama yang mendorong kebijakan ini. Pertama adalah tekanan struktural dari sistem internasional yang masih didominasi Barat, khususnya melalui mekanisme sanksi ekonomi. Kedua adalah peluang baru yang muncul dari kebangkitan ekonomi Asia, terutama China. Ketiga adalah perubahan persepsi elite Iran tentang masa depan tatanan global, yang semakin dipandang bergerak menuju multipolaritas. Dengan demikian, kebijakan “Look East” didasarkan pada keyakinan bahwa pusat gravitasi dunia sedang bergeser ke Timur.

Separuh pertama buku kemudian memperdalam analisis tersebut melalui pembahasan tentang hubungan antara sanksi, regionalisme, dan risiko strategis. Para penulis menunjukkan bahwa sanksi internasional mendorong inovasi dalam pola perdagangan dan diplomasi ekonomi. Iran mengembangkan jaringan perdagangan alternatif yang kompleks, sering kali melalui mekanisme tidak formal atau melalui negara perantara. Proses ini menghasilkan adaptasi ekonomi yang unik, tetapi juga menciptakan ketidakpastian dan ketergantungan baru.

Analisis ekonomi dalam bagian ini memperlihatkan ambivalensi dari kebijakan “Look East”. Di satu sisi, orientasi ke Asia membantu Iran mempertahankan stabilitas ekonomi relatif di tengah isolasi. Di sisi lain, hubungan yang tidak seimbang dengan mitra besar seperti China berpotensi menciptakan hubungan asimetris yang menyerupai ketergantungan struktural baru. Dengan kata lain, kebijakan yang dirancang untuk mengurangi ketergantungan pada Barat justru berisiko menghasilkan bentuk ketergantungan yang berbeda.

Selain dimensi ekonomi, bagian awal buku juga menyoroti implikasi regionalisme. Iran semakin aktif dalam organisasi multilateral Asia dan memperkuat hubungan dengan negara-negara tetangga. Namun, regionalisme ini tidak selalu stabil. Persaingan kekuatan besar di Asia Tengah, dinamika konflik regional, serta perbedaan kepentingan nasional sering kali membatasi efektivitas integrasi tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan “Look East” bukanlah strategi yang bebas risiko, melainkan sebuah upaya navigasi kompleks dalam lingkungan geopolitik yang terus berubah.

Salah satu kontribusi penting dari bagian awal buku adalah analisis kritis mengenai risiko strategis kebijakan tersebut. Para penulis menekankan bahwa orientasi ke Timur tidak otomatis meningkatkan otonomi Iran. Justru, semakin dalam keterlibatan Iran dalam jaringan kekuatan non-Barat, semakin besar pula keterikatannya pada kalkulasi geopolitik negara-negara besar seperti China dan Rusia. Ini menciptakan dilema klasik dalam politik internasional: upaya untuk menghindari dominasi satu kekuatan sering kali berujung pada keterikatan dengan kekuatan lain.

Secara keseluruhan, separuh pertama buku ini berhasil membangun kerangka analitis yang kuat untuk memahami kebijakan “Look East” sebagai fenomena yang kompleks dan kontradiktif. Ia bukan sekadar strategi ekonomi atau diplomatik, melainkan refleksi dari perubahan mendalam dalam persepsi Iran tentang posisi dan masa depannya dalam sistem internasional. Dengan memadukan analisis struktural, ekonomi, dan geopolitik, bagian ini memberikan fondasi konseptual yang kokoh bagi pembahasan lebih lanjut dalam bagian-bagian berikutnya.

Poros Strategis: Iran-China, Iran-Rusia, dan Dilema Geopolitik “Look East”

Jika separuh pertama buku berfungsi sebagai landasan konseptual, maka bagian berikutnya bergerak ke inti strategis kebijakan “Look East”: hubungan Iran dengan dua kekuatan utama yang menjadi pilar orientasi barunya, yakni China dan Rusia. Dalam bagian ini, buku menunjukkan secara paling jelas bahwa kebijakan tersebut bukan sekadar diversifikasi diplomatik, melainkan sebuah reposisi geopolitik yang berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan regional maupun global.

Pembahasan tentang China menjadi titik berat pertama. Para kontributor menunjukkan bahwa kemitraan Iran-China tidak dapat dipahami hanya sebagai hubungan ekonomi antara negara yang disanksi dan kekuatan industri global. Ia merupakan bagian dari dinamika struktural yang lebih luas, yakni pergeseran pusat gravitasi ekonomi dunia dari Atlantik ke Asia. Dalam kerangka ini, Iran tidak sekadar mencari pasar alternatif, tetapi berusaha menempatkan dirinya sebagai simpul strategis dalam jaringan geopolitik dan ekonomi Eurasia yang semakin terintegrasi.

Analisis dalam buku menekankan bahwa pendekatan Iran terhadap China sangat rasional dalam logika realisme neoklasik. Elite Iran memandang China sebagai mitra yang relatif bebas dari tekanan ideologis dan memiliki kepentingan jangka panjang dalam stabilitas energi. Kemitraan strategis jangka panjang yang dirancang antara kedua negara mencerminkan kalkulasi ini: Iran memperoleh investasi dan perlindungan ekonomi, sementara China mendapatkan akses energi dan posisi geopolitik di kawasan Teluk Persia.

Namun, buku ini tidak terjebak dalam narasi optimistik mengenai kemitraan tersebut. Para penulis secara tajam menunjukkan adanya ketidakseimbangan struktural yang inheren dalam hubungan Iran-China. China, sebagai kekuatan ekonomi dominan, memiliki posisi tawar yang jauh lebih kuat. Hal ini membuat Iran berpotensi berada dalam situasi di mana pilihan strategisnya semakin dibatasi oleh kepentingan Beijing. Dengan kata lain, kebijakan “Look East” mengandung paradoks: ia bertujuan memperluas otonomi strategis, tetapi dalam praktiknya dapat menghasilkan bentuk subordinasi baru yang lebih halus.

Selain aspek ekonomi, buku juga mengkaji bagaimana China merespons kebijakan Iran melalui kerangka yang disebut sebagai “partner-community framework”. Pendekatan ini menunjukkan bahwa China cenderung membangun hubungan bertingkat, di mana Iran diposisikan sebagai mitra penting tetapi tidak setara dengan negara-negara inti dalam jaringan strategisnya. Perspektif ini menegaskan bahwa kebijakan “Look East” bukanlah proyek bilateral yang simetris, melainkan bagian dari arsitektur geopolitik yang didominasi kepentingan kekuatan besar.

Jika hubungan dengan China lebih banyak dipahami dalam dimensi ekonomi dan strategi jangka panjang, maka hubungan Iran-Rusia dianalisis dalam konteks keamanan dan militer. Bagian buku ini mengungkap bagaimana kedekatan kedua negara berkembang pesat dalam situasi konflik global, terutama setelah perang di Ukraina. Dukungan militer Iran kepada Rusia dipahami sebagai tindakan yang didorong oleh kalkulasi risiko tinggi, tetapi juga sebagai manifestasi dari solidaritas geopolitik di antara negara-negara yang menghadapi tekanan Barat.

Para penulis menunjukkan bahwa hubungan Iran-Rusia memiliki karakter yang berbeda dari kemitraan Iran-China. Jika China beroperasi dalam logika ekonomi dan stabilitas, Rusia lebih bergerak dalam logika keamanan dan konfrontasi geopolitik. Iran, dalam konteks ini, melihat Rusia sebagai mitra strategis yang dapat membantu menyeimbangkan tekanan militer dan politik Barat. Namun, hubungan ini juga sarat dengan ambivalensi, karena sejarah menunjukkan bahwa kepentingan Rusia di kawasan sering kali tidak sepenuhnya sejalan dengan kepentingan Iran.

Analisis mengenai sektor pertahanan Iran memperlihatkan dimensi domestik yang penting dalam kebijakan “Look East”. Keputusan untuk memperkuat hubungan militer dengan Rusia didorong oleh dinamika internal elite keamanan Iran. Sektor pertahanan memiliki peran signifikan dalam pembentukan kebijakan luar negeri, sehingga orientasi ke Timur juga mencerminkan preferensi institusional dalam struktur kekuasaan Iran sendiri.

Salah satu kontribusi paling tajam dari bagian ini adalah penjelasan mengenai dilema strategis yang dihadapi Iran. Di satu sisi, kedekatan dengan China dan Rusia memberikan Iran ruang manuver yang lebih besar dalam menghadapi tekanan Barat. Di sisi lain, keterlibatan yang semakin dalam dalam orbit kedua kekuatan tersebut dapat mengurangi fleksibilitas kebijakan luar negeri Iran dalam jangka panjang. Buku ini menunjukkan bahwa kebijakan “Look East” bukanlah jalan keluar yang sederhana dari isolasi, melainkan sebuah strategi yang sarat dengan trade-offs.

Lebih jauh, bagian ini mengaitkan hubungan Iran dengan China dan Rusia dalam konteks perubahan tatanan dunia. Para penulis berargumen bahwa kebijakan “Look East” mencerminkan munculnya pola baru dalam politik internasional, di mana negara-negara non-Barat membangun jaringan kerja sama yang semakin independen dari struktur Barat. Namun, mereka juga menekankan bahwa jaringan ini belum tentu menciptakan sistem internasional yang lebih egaliter. Justru, ia berpotensi mereproduksi hierarki kekuasaan dalam bentuk yang berbeda.

Dengan demikian, bagian ini memperlihatkan bahwa kebijakan “Look East” merupakan bagian dari dinamika global yang lebih luas. Ia mencerminkan pergeseran kekuatan dunia, tetapi sekaligus menunjukkan bahwa pergeseran tersebut tidak menghapus logika dominasi dalam politik internasional. Iran, dalam hal ini, berada dalam posisi yang kompleks: ia berusaha menjadi aktor otonom dalam sistem multipolar, tetapi tetap harus beroperasi dalam struktur kekuasaan yang tidak sepenuhnya setara.

Secara keseluruhan, bagian ini merupakan jantung analitis buku. Ia mengungkap bahwa hubungan Iran dengan China dan Rusia bukanlah aliansi sederhana, melainkan jaringan interdependensi yang penuh kontradiksi. Melalui analisis yang tajam dan berlapis, para penulis menunjukkan bahwa kebijakan “Look East” adalah proyek geopolitik yang ambisius, tetapi juga rapuh, karena bergantung pada keseimbangan yang sangat halus antara otonomi dan ketergantungan.

Leave a Comment

Related Post