Kisah Nabi Khidir dan Musa Tafsir tentang Ilmu yang Tidak Tertulis

Harakatuna

29/07/2025

6
Min Read

On This Post

Harakatuna.com – Di tengah gemerlapnya dunia yang penuh dengan informasi, terkadang kita lupa bahwa ada jenis ilmu yang tidak tertulis, yang tidak bisa didapatkan hanya melalui buku atau riset ilmiah. Dalam Al-Qur’an, kisah pertemuan antara Nabi Musa dan Nabi Khidir memberikan gambaran mendalam mengenai ilmu semacam ini.

Kisah ini tertuang dalam Surah Al-Kahfi, ayat 60 hingga 82, dan sering kali mengundang banyak pertanyaan mengenai hakikat ilmu yang berada di luar jangkauan akal manusia. Apa yang dapat kita pelajari dari pertemuan ini, dan bagaimana kaitannya dengan pencarian ilmu dalam konteks sosial dan intelektual zaman sekarang?

Mari kita telaah lebih dalam tafsir mengenai pertemuan dua nabi besar ini dan apa pelajaran yang bisa diambil, terutama bagi kita yang hidup di era informasi yang serba cepat ini.

Kisah Nabi Musa dan Khidir: Sebuah Pelajaran Tentang Ilmu yang Tak Terjangkau

Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir dimulai k sawetika Nabi Musa merasa dirinya adalah yang paling berilmu di dunia. Allah kemudian mengingatkan Musa melalui wahyu-Nya bahwa ada seseorang yang lebih berilmu dari dirinya, yaitu Nabi Khidir.

Allah memerintahkan Musa untuk mencari Khidir dan belajar dari ilmu yang dimiliki oleh nabi tersebut. Dalam Surah Al-Kahfi, ayat 66-67, Allah berfirman:

﴿قَالَ لَهُۥ مُوسَىٰ هَلۡ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا ٦٦ قَالَ إِنَّكَ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا ٦٧﴾

Artinya: “Musa berkata, ‘Apakah aku akan mengikuti engkau supaya engkau mengajarkan kepadaku sebagian dari petunjuk yang telah diajarkan kepadamu?'”

Namun, Nabi Khidir mengingatkan Musa bahwa ilmu yang dia miliki berbeda dari yang dimiliki oleh Musa. Sebagaimana dijelaskan dalam tafsir klasik karya al-Tabari, pertemuan ini bukan hanya tentang transfer pengetahuan, tetapi juga tentang pembelajaran akan kesabaran, kerendahan hati, dan penerimaan terhadap ilmu yang tidak dapat dijangkau oleh akal semata. Khidir mengajarkan Musa untuk menerima kenyataan bahwa tidak semua kejadian di dunia ini dapat dimengerti dengan logika dan alasan.

Ilmu yang Tak Tertulis: Memahami Dimensi Ilmu Dalam Tafsir Sufi

Sufi, dalam pandangan mereka, menganggap ilmu yang lebih tinggi sebagai ilmu yang bersifat ruhani dan spiritual, yang tidak dapat ditemukan dalam buku atau diajarkan melalui kata-kata. Al-Ghazali, seorang ulama besar Sufi, menjelaskan dalam Ihya’ Ulum al-Din bahwa ada jenis ilmu yang lebih mendalam dan tidak dapat dipahami dengan akal semata.

Ilmu ini hanya bisa dicapai melalui pengalaman langsung dan pembersihan hati. Ilmu yang dipahami oleh Nabi Khidir, menurut tafsir Sufi, adalah ilmu yang mengalir dari kesucian jiwa dan pengaruh langsung dari Allah SWT. Dalam Ihya, Al-Ghazali menangkaskan

“العلم ليس هو ما حفظته الأذهان، بل هو ما استنار به القلب”

Artinya: “Ilmu yang benar bukanlah yang dihafal dalam akal, tetapi yang menyentuh hati dan memberi cahaya dalam kegelapan jiwa.”

Pandangan ini mengarahkan kita untuk merenungkan bahwa tidak semua pengetahuan dapat dipahami hanya dengan teori dan pembelajaran formal. Ada dimensi ilmu yang lebih dalam yang hanya bisa dicapai melalui pengalaman dan kedekatan dengan Tuhan, sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Khidir kepada Musa. Ilmu semacam ini lebih berfokus pada hikmah dan kebijaksanaan yang terungkap hanya ketika kita membuka hati dan bersedia menerima ketidaktahuan kita.

Ilmu Ilmiah dan Modern: Apa yang Dapat Dipelajari dari Kisah Ini?

Di zaman modern ini, ilmu pengetahuan berkembang begitu pesat. Generasi Z, misalnya, hidup di tengah arus informasi yang deras, dengan internet sebagai sumber pengetahuan yang tak terbatas. Namun, meskipun kita memiliki akses ke hampir semua jenis informasi, sering kali kita merasa ada kekosongan. Ada hal-hal dalam hidup yang tidak bisa dijelaskan dengan data atau statistik, dan banyak fenomena yang membingungkan meskipun telah dipelajari oleh para ilmuwan.

Fazlur Rahman, seorang cendekiawan Muslim modern, dalam bukunya Islam di halaman 102 mengatakan “Knowledge must go beyond the acquisition of facts; it must also involve the understanding of life’s deeper meaning.”. Ungkapan ini menjelaskan bahwa perbedaan antara ilmu yang bisa dijelaskan secara ilmiah dan ilmu yang lebih abstrak adalah perbedaan antara pengetahuan yang bisa dikuasai manusia dan pengetahuan yang hanya bisa dipahami dengan pandangan hati. Rahman menekankan bahwa ilmu yang sebenarnya adalah yang menghubungkan kita dengan hakikat kehidupan, yang lebih besar daripada sekedar logika atau teori ilmiah. Dalam konteks ini, kisah Nabi Khidir dan Musa mengajarkan kita untuk lebih rendah hati dalam menerima bahwa ada banyak aspek kehidupan yang tidak bisa dijangkau dengan ilmu pengetahuan biasa.

Ilmu dalam Kehidupan Sehari-hari: Melihat dengan Hati

Ilmu yang tidak tertulis adalah ilmu yang tidak dapat dipahami hanya dengan melihat secara fisik atau material. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering terjebak dalam rutinitas yang menyibukkan kita dengan hal-hal yang tampak jelas dan konkret. Namun, kisah Nabi Khidir mengingatkan kita bahwa di balik setiap kejadian, ada dimensi yang lebih dalam yang hanya bisa dipahami dengan hati yang terbuka.

Para mufassir, termasuk al-Razi dalam al-Tafsir al-Kabir, menyatakan bahwa setiap tindakan yang dilakukan oleh Nabi Khidir -seperti merusak perahu, membunuh seorang anak, atau memperbaiki tembok- memiliki hikmah yang tidak langsung terlihat. Musa, dengan segala pengetahuan dan kecerdasannya, hanya mampu melihat permukaan peristiwa tersebut. Tetapi Khidir, dengan ilmu yang lebih dalam, bisa melihat hikmah dan alasan di balik setiap tindakan tersebut.

“Tidak setiap tindakan yang tampaknya buruk di permukaan, memiliki niat buruk di dalamnya. Keberkahan sering datang dari sumber yang tidak kita duga.” (Al-Razi, Al-Tafsir al-Kabir, Jilid 6, Halaman 295)

Relevansi bagi Generasi Z: Membuka Mata dan Hati untuk Ilmu yang Tak Tertulis

Bagi Generasi Z, yang hidup di dunia yang didominasi oleh data dan informasi instan, kisah Nabi Khidir dan Musa memberikan pelajaran penting. Dalam dunia yang mengutamakan pencapaian materi dan kemajuan teknologi, kita sering kali lupa bahwa ada ilmu yang jauh lebih berharga yang tidak bisa diperoleh hanya dengan membaca atau menonton tutorial di YouTube. Ilmu yang sejati datang dari kemampuan untuk melihat kehidupan melalui perspektif yang lebih luas, dengan menggabungkan antara akal dan hati.

Seperti yang dikatakan oleh Al-Ghazali, ilmu yang benar adalah ilmu yang tidak hanya memuaskan akal, tetapi juga memberi pencerahan pada jiwa. Generasi Z perlu membuka mata mereka untuk melihat bahwa ada banyak hal yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan logika dan analisis ilmiah. Ilmu yang paling berharga adalah ilmu yang menghubungkan kita dengan Tuhan, dengan diri kita sendiri, dan dengan sesama.

Kisah Nabi Khidir dan Musa adalah sebuah peringatan yang mengajarkan kita bahwa ilmu tidak hanya terletak pada apa yang dapat dipelajari melalui buku atau penelitian ilmiah. Ada ilmu yang tidak tertulis, yang hanya dapat dipahami melalui pengalaman dan hati yang terbuka. Ilmu ini adalah ilmu yang menghubungkan kita dengan dunia yang lebih besar, mengajarkan kita untuk rendah hati, sabar, dan melihat kehidupan dengan pandangan yang lebih mendalam. Sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Khidir kepada Nabi Musa, ilmu sejati adalah ilmu yang membawa kita kepada kebijaksanaan, bukan hanya pengetahuan semata. Bagi Generasi Z, ini adalah pelajaran yang sangat penting: untuk terus mencari ilmu, tetapi juga untuk menjaga hati tetap terbuka bagi pelajaran yang tidak tertulis dalam buku.

Oleh: Khoirul Ibad, Lc, M.Ag.

Leave a Comment

Related Post