KH Said Aqil: Tokoh dan Ormas Agama Harus Jadi Pendamai di Tengah Dunia yang Tidak Baik-baik Saja

Ahmad Fairozi, M.Hum.

02/05/2025

3
Min Read
KH Said Aqil: Tokoh dan Ormas Agama Harus Jadi Pendamai di Tengah Dunia yang Tidak Baik-baik Saja

On This Post

Harakatuna.com. Jakarta Ketua Umum Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) dan Lembaga Persahabatan Ormas Keagamaan (LPOK), Kiai Haji Said Aqil Siradj, mengajak para tokoh agama dan organisasi keagamaan untuk mengambil peran aktif sebagai pendamai di tengah meningkatnya konflik global dan ancaman terhadap stabilitas nasional.

Dalam acara Konsolidasi Bersama Tokoh Agama dan Ormas Keagamaan yang digelar di Jakarta, Rabu (30/4), KH Said menekankan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi gerbang perdamaian dunia. Namun, peran tersebut hanya bisa diwujudkan jika para tokoh agama dan ormas tidak bersikap pasif.

“Ormas-ormas Islam dan keagamaan serta para pemimpin agama tidak boleh hanya jadi penonton. Mereka tidak boleh hanyut dalam pusaran konflik kepentingan yang tidak jelas arah dan ujungnya,” ujar KH Said, sebagaimana disampaikan dalam keterangan tertulis yang diterima Kamis (1/5).

Ia mengingatkan bahwa dunia saat ini berada dalam kondisi yang tidak stabil. Konflik bersenjata terus bereskalasi, ekonomi global mengalami guncangan, dan ancaman bencana ekologis semakin nyata. Menurutnya, situasi ini menuntut perhatian dan kewaspadaan dari semua pihak, khususnya ormas keagamaan. “Kita harus tegas dan konsisten mengedepankan kedaulatan dan perdamaian Indonesia. Dalam kondisi seperti ini, bangsa Indonesia tidak boleh lengah. Harus siap siaga terhadap dinamika global dan situasi nasional, agar tidak ada ruang bagi pihak-pihak yang ingin merusak dari dalam maupun luar negeri,” tegasnya.

Ia juga menyerukan pentingnya membangun narasi positif. “Narasi Indonesia Gelap harus segera di-counter dengan narasi Indonesia Cerah melalui langkah konkret dan kolaboratif,” tambah KH Said.

KH Said juga menyoroti bahwa saat ini Indonesia tengah berada dalam masa transisi yang memerlukan penyelarasan dan konsolidasi nasional. Dalam masa ini, katanya, penting bagi ormas dan pemuka agama untuk memperkuat sistem deteksi dini dan memperkuat kesiapsiagaan nasional agar sel-sel ekstremisme, radikalisme, dan terorisme tidak mendapat celah untuk berkembang. “Gerakan-gerakan itu bisa bermetamorfosa menjadi pola-pola baru yang lebih sulit dikenali namun memiliki dampak luas. Ini yang harus diwaspadai,” ujarnya.

Dalam forum yang sama, Deputi I Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Mayor Jenderal TNI Sudaryanto, juga menyoroti peran strategis pemuka agama dan ormas keagamaan dalam menghadapi tantangan zaman. Menurutnya, ada tiga fungsi utama yang bisa diemban oleh tokoh agama dan ormas. “Pertama, sebagai penjaga moral dan etika publik. Dalam kondisi percepatan kebijakan dan tekanan global, suara tokoh agama sangat dibutuhkan agar langkah bangsa tetap berpegang pada kejujuran, keadilan, dan kepedulian,” jelas Sudaryanto.

Kedua, lanjutnya, adalah fungsi sebagai penyeimbang antara negara dan masyarakat. Ia menyebutkan, “Ormas keagamaan memiliki kedekatan emosional dan kultural dengan masyarakat, sekaligus akses ke pemerintah. Posisi ini sangat strategis.”

Fungsi ketiga, tambah Sudaryanto, adalah sebagai pelayan umat dan penggerak pemberdayaan sosial ekonomi. Ia menilai bahwa lembaga-lembaga keagamaan telah terbukti berperan penting dalam mencerdaskan masyarakat, membangun solidaritas sosial, dan menggerakkan ekonomi rakyat. “Ketiga fungsi ini—penjaga moral, penyeimbang sosial, dan pelayan umat—merupakan bentuk kontribusi nyata yang harus terus dirawat dan dikembangkan,” pungkasnya.

Leave a Comment

Related Post