Harakatuna.com – Besok lusa saudara umat Kristiani akan merayakan Natal. Indonesia memasuki masa puncak mobilitas luar biasa, dan diprediksi lebih tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut membawa konsekuensi serius bagi tugas negara menjaga keamanan publik, karena momentum besar ini kerap jadi momen uji kesiapsiagaan aparat. Operasi pengamanan besar-besaran merupakan langkah realistis yang sistemik.
Operasi yang dipilih sebagai payung pengamanan adalah Operasi Lilin 2025, operasi terkoordinasi yang melibatkan gabungan personel Polri-TNI dan instansi terkait. Sebanyak 146.701 personel gabungan disiapkan dan disebar di seluruh penjuru tanah air sejak Sabtu (20/12) kemarin hingga Jumat (2/1) mendatang. Ribuan pos pengamanan dan layanan didirikan dari Aceh hingga Papua. Pos-pos tersebut jadi tempat pemantauan arus publik dan penanganan krisis secara terpadu.
Di sejumlah daerah, kesiapan juga tampak dalam bentuk apel gelar pasukan keamanan. Di Jawa Timur, sebagai contoh, ribuan personel digerakkan untuk mengamankan tempat-tempat ibadah, pusat keramaian, dan titik-titik transportasi yang diprediksi jadi titik kritis mobilitas momentum Natal. Mewaspadai terorisme bukanlah menunggu insiden terjadi, namun merancang pola pengamanan yang adaptif terhadap potensi ancaman yang beragam.
Di Banten, aparat mendirikan puluhan pos pengamanan, pos pelayanan, dan pos terpadu untuk lakukan rekayasa lalu lintas dan potensi gangguan publik lainnya. Di Sulawesi Selatan, ribuan personel disiapkan untuk menghadapi potensi kepadatan arus, bencana alam, hingga kebutuhan layanan masyarakat secara umum. Operasi pengamanan Nataru memiliki perencanaan detil atas risiko kompleks yang berpotensi terjadi ketika jutaan orang bergerak dalam euforia Natal.
Pada semua langkah tersebut, ancaman terorisme sama sekali bukan momok tak berdasar yang dibesar-besarkan. Aksi teror adalah spektrum risiko yang harus diantisipasi dengan serius, karena perayaan besar kerap jadi momen eksploitasi para radikal-teror terhadap kerumunan thaghut-kafir dalam mindset mereka. Maka, kewaspadaan perlu ditempatkan sejajar dengan antisipasi terhadap bencana alam dan gangguan lalu lintas sebagai pengamanan publik secara komprehensif.
Masyarakat diundang untuk memahami bahwa strategi pengamanan yang masif adalah bentuk respons terhadap data dan pola nyata. Tidak benar jika itu dilabeli parno atau paranoia belaka. Apa yang negara lakukan adalah langkah realistis mengantisipasi terorisme di momen Nataru. Narasi kewaspadaan merupakan panggilan memahami keamanan sebagai keseimbangan antara kesiapsiagaan dan kebersamaan dalam merayakan keberagamaan di tengah keberagaman.
Aksi Teror itu Momok Menakutkan
Di balik gema sukacita Natal dan dentuman kembang api Tahun Baru, ancaman terorisme terus mengusik pikiran banyak orang. Nataru jadi titik rawan teror dalam sejarah. Serangan terhadap pasar dan tempat ibadah selama hari-hari besar keagamaan selalu menjelma momok yang menakutkan, dengan dampaknya yang destruktif. Perayaan Natal di Baghdad, misal, menewaskan puluhan umat Kristen sedang merayakan hari sucinya.
Apakah Indonesia berbeda? Sayangnya tidak. Itu sebabnya setiap momen Nataru tahun baru, BNPT bersama aparat keamanan aktif melakukan pemantauan dan mitigasi terhadap potensi serangan teror. Kerja sama intelijen lintas lembaga dan unit-unit khusus, termasuk Densus 88, dikerahkan untuk membaca dan menutup celah-celah risiko yang boleh muncul sebelum, ketika, atau sesudah Nataru. Ironisnya, momok ini tidak spekulatif. Siapa yang mau kecolongan oleh aksi teror?
Ribuan personel, pos pengamanan, hingga patroli intensif di sekitar tempat ibadah dan lokasi keramaian adalah langkah niscaya. Hampir tiga puluh ribu personel gabungan telah dikerahkan di Jawa Tengah untuk mengamankan perayaan Natal dan Tahun Baru dan itu tidak berlebihan. Mereka concern pada satu hal, yaitu kemungkinan gangguan keamanan yang kompleks seperti yang terjadi di masa lalu. Kendati Jama’ah Islamiyah (JI) sudah deklarasi bubar, waspada tetaplah keharusan.
Ketakutan terhadap aksi teror begitu kuat karena niat pelaku dalam berbagai serangan tidak memandang hari besar sebagai batasan. Momentum yang melibatkan kerumunan massa justru dipandang sebagai peluang aksi. Dalam skenario terburuk, Natal adalah sasaran empuk bagi strategi destruktif teroris. Perayaan yang semestinya damai bisa berubah jadi tragedi yang memilukan dalam hitungan detik dan, sebagai negara berdaulat, hal itu tidak bisa dibiarkan.
Atensi besar terhadap pengamanan tempat ibadah sama sekali tidak boleh dianggap parno. Jika aparat kepolisian sampai memeriksa secara khusus kesiapan pengamanan gereja-gereja besar yang akan dipenuhi jemaat pada puncak perayaan Natal nanti, maka semua itu merupakan upaya memastikan pelaksanaan ibadah berlangsung aman, tertib, dan kondusif. Paranoia itu kalau ancamannya dibuat-buat. Sementara ini ancamannya riil, maka perlu disikapi secara realistis.
Jadi sekali lagi, kewaspadaan yang negara lakukan merupakan respons terhadap ancaman secara realistis, didasarkan pada pola intelijen dan pemahaman bahwa momen besar tidak jarang membawa risiko. Ketika negara menyiapkan diri sedemikian rupa, itu bukan tanda ketakutan yang berlebihan, bukan parno, dan haram disebut parno. Semua itu justru menjadi bukti bahwa ancaman teror jadi bagian dari kelangsungan hidup bersama yang layak diantisipasi.
Propaganda Daring Teror Nataru
Apa yang sudah diuraikan tadi ialah soal tindakan realistis menghentikan terorisme. Namun, ketika bicara tentang ancaman teror menjelang Natal, sebenarnya ada medan yang jauh lebih luas dan sulit terdeteksi, yaitu propaganda daring. Para ekstremis saat ini tidak lagi bergantung semata pada komunikasi atau halakah tatap muka. Mereka merambah ruang virtual yang digunakan jutaan orang, termasuk generasi muda yang sedang asyik bermain atau sekadar berinteraksi secara daring.
BNPT sendiri telah menegaskan, kelompok-kelompok teror mampu menyesuaikan strategi dengan perkembangan zaman, memanfaatkan medsos, aplikasi chatting seperti Discord, bahkan game online seperti Roblox untuk menyebarkan paham radikal. Laporan ASIO Australia menunjukkan bahwa radikalisasi di dunia maya kini begitu cepat dan menyasar kelompok usia yang rentan, termasuk anak-anak dan remaja yang notabene digital native, penduduk digital.
Menurut BNPT, beberapa jaringan teror memanfaatkan platform-platform tadi sebagai pintu masuk awal untuk berinteraksi dengan target mereka. Interaksi yang tampak biasa-biasa saja, seperti berdiskusi tentang strategi permainan atau berbagi tips, bisa beralih secara halus jadi komunikasi di grup private, misalnya melalui Telegram atau WhatsApp, di mana pesan-pesan intoleransi dan narasi ekstremisme disisipkan. Sadar atau tidak, korban radikalisasinya semakin banyak.
Kasusnya pernah muncul dalam catatan penegakan hukum ketika Densus 88 mencatat ratusan anak, berusia 10-18 tahun, direkrut jaringan teror secaraonline. Radikalisasi daring memerlukan perhatian serius dari negara dan masyarakat luas. Propaganda daring bahkan bisa berupa obrolan dalam permainan, meme freak ala anak-anak muda, atau tautan yang mengarah pada konten heroisme misalnya, namun akhirnya menjerumuskan mereka ke ruang ideologis yang amat meresahkan.
Di tengah momentum Nataru, ketika atensi publik fokus pada keamanan fisik tempat ibadah dan kerumunan massa, propaganda daring tetap jadi ancaman yang mesti diantisipasi dengan serius. Jika pengamanan Natal terfokus pada aspek fisik semata, risiko ideologi kekerasan yang tersebar lewat ruang digital akan tertinggal dari radar perlindungan publik. Ruang daring saat ini adalah front depan medan perang ideologis, sehingga negara dan masyarakat perlu sadar dan bertindak tegas.
Memang, fenomena propaganda dan radikalisasi daring terdengar seperti fantasi gamer atau teori konspirasi. Tetapi, pergeseran ruang rekrutmen ekstremisme memang ke platform daring merupakan fakta yang tidak terbantahkan. Roblox jadi rumah bagi jutaan pengguna dan di sana percakapan terjadi secara intens dan terus-menerus. Ruang-ruang daring seperti itulah yang kini jadi tempat radikalisasi, bukan lagi propaganda gamblang seperti di masa lalu.
Di Roblox, narasi radikal-teror menyelinap lewat candaan, peran-peran fiksi yang memuliakan aksi teror, atau challenge yang mengajak pemain ikut dalam cerita ekstremisme tertentu. Perlahan, konten tersebut menumbuhkan rasa wajar dan sepele terhadap tindakan brutal. Parahnya lagi, target didekati secara personal. Tujuannya bukan merekrut saat itu juga, melainkan membangun ketergantungan emosional dan rasa percaya. Bukankah itu akar psikologis radikalisasi?
Propaganda radikal-terorisme di era sekaranf tak lagi mengandalkan ceramah, manifesto, atau video propaganda frontal. Radikalisasi menjelma menjadi ekosistem interaksi, relasi sosial, dan imajinasi kolektif dari obrolan ringan dan permainan virtual. Dan ironisnya, Roblox dan Discord hanya contoh kecil.
Itulah mengapa radikalisasi daring jarang disadari orang tua maupun guru. Internet telah merampas intensitas anak dengan keluarga, dan mengintensifkan mereka justru dengan jaringan terorisme. Jadi, kewaspadaan terhadap terorisme di momen Nataru sama sekali tidak bisa disebut tindakan parno. Apa yang pemerintah dan para stakeholder lakukan adalah langkah realistis untuk menggagalkan segala skenario aksi terorisme.
Wallahu A’lam bi ash-Shawab…








Leave a Comment