Ketika Wahabi Terasa Lebih Menarik: Autokritik atas Ketidakjelasan Moderasi Islam di Indonesia

Ahmad Khairi

21/07/2025

5
Min Read
Wahabi

On This Post

Harakatuna.com – Saya baru saja masuk warteg, ketika para jemaah berduyun keluar dari salah satu masjid di Kota Bekasi. Mereka, lelakinya berjenggot dan celana di atas matakaki khas Salafi. Sementara perempuannya, mereka memakai baju longgar dan jilbab selutut; beberapa bahkan ada yang bercadar. Di warteg, salah satu jemaah tengah makan, dan saya kemudian ngobrol ada acara apa, kajian siapa.

Ustaz Nuzul Zikri, Mas,” kata bapak-bapak itu. Saya langsung tahu beliau, yang pembawaannya lembut dan menyejukkan. Kendati saya menentang Wahabisme, namun saya masih berakal sehat untuk menilai bahwa dalam beberapa aspek, Wahabi memang menarik. Bahkan, harus diakui, ia lebih menarik daripada gagasan moderasi beragama yang gak jelas, gak konsisten, dan elitis sekali.

Hari ini, di tengah arus keislaman Indonesia yang sarat narasi moderasi dan Islam inklusif, satu pertanyaan yang kerap dihindari namun mendesak untuk dijawab ialah: mengapa Wahabi justru terasa lebih menggoda, utamanya bagi masyarakat urban? Bapak-bapak yang ketemu saya pun berasal dari Karawang; rela datang jauh untuk menghadiri pengajian Ustaz Nuzul. Mana ada militansi seperti itu di kalangan kaum moderat?

Ini bukan pertanyaan provokatif. Pesantren-pesantren Salafi-Wahabi tumbuh dengan konsistensi dan sistematis, pengajian daring bergaya Wahabi juga diminati ratusan ribuan viewers, dan tokoh-tokoh bertitel ‘ustadz sunnah’ kini jadi kiblat keagamaan baru—menggeser otorisasi ustaz moderat. Gerakan hijrah juga menjadi kanal transformasi ideologis ke arah paham yang sangat ketat dalam berislam.

Maka, jika ingin berlaku jujur, mari berhenti sekadar menyalahkan Wahabi sebagai ancaman. Ini saatnya kaum moderat melihat bahwa daya tarik Wahabi, betapa pun berbahayanya dalam konteks pluralitas Indonesia, muncul sebagai antitesis dari kegagalan internal Islam moderat di tanah air dalam menyusun narasi yang kokoh dan menyentuh kebutuhan spiritual dan identitas umat Islam.

Alasan mendasar mengapa Wahabi terasa lebih menarik ialah karena menawarkan kepastian. Saat ini para jemaah mencari pegangan yang kokoh dan gak elitis. Wahabi datang dengan tawaran yang tegas: halal dan haram, tauhid dan syirik, sunnah dan bid’ah. Semuanya dibingkai dalam logika dikotomis yang membuat para pengikutnya merasa ‘jelas’ tentang apa yang hak dan apa yang batil. Islam yang murni, kata mereka.

Bandingkan dengan wacana Islam moderat yang selalu membingungkan dan terlalu kompromistis—bahkan berbau proyek. Alih-alih memberi arah, moderasi Islam justru memberi terlalu banyak kemungkinan. Semuanya direlatifkan: Islam bisa begini tapi juga bisa begitu; ulama ini berkata A, tapi ulama lain berkata B; dan semua dianggap benar. Di situ banyak umat yang justru merasa kehilangan arah karena berislamnya dirasa tidak paten.

Islam Moderat yang Elitis!

Itulah kelemahan Islam moderat di Indonesia: terlalu banyak bicara, terlalu sedikit membimbing. Menarasikan toleransi tapi lalai membangun keteladanan. Bangga jadi inklusif namun lemah perihal militansi. Cinta kebudayaan lokal tapi tak punya infrastruktur dakwah yang tertata—juga cenderung pragmatis. Bangga pada khazanah keilmuan klasik, namun kalah telak dalam kemampuan digitalisasi dakwah.

Wahabilah yang justru tampil dengan disiplin produksi konten luar biasa: tajuk-tajuk bombastis, thumbnail yang menggoda, ketokohan-keteladanan yang egaliter dan menyejukkan, serta jaringan kanal dakwah yang saling menguatkan. Sementara Islam moderat terperangkap nostalgia romantik: sibuk dengan seminar, FGD, dan diskursus elitis yang sama sekali gak menyentuh umat. Dakwahnya pun banyak diselingi hiburan belaka.

Moderasi beragama terlalu banyak menggantungkan diri pada legitimasi negara, jadi corong rezim, lalu gagal membangun basis sosial secara independen. Ia terlalu fokus pada jargon ‘rahmatan lil alamin’, namun tidak menjawab kegelisahan eksistensial umat yang merasa hidup di dunia yang kian liberal dan kafir-oriented.

Lihatlah bagaimana anak-anak muda lebih tertarik ustaz yang bicara dengan bahasa sederhana, penuh kata-kata hikmah, dan menawarkan jalan hidup yang tertata—sesuai sunnah, dalam Bahasa mereka. Masyarakat tak peduli pada sejarah Wahabi yang berdarah atau keterkaitan Salafi dengan ekstremisme. Yang mereka lihat ialah keteraturan hidup dan jemaah yang kompak dan Islami banget.

Pada saat yang sama, anak muda yang berada di bawah binaan Islam moderat justru tak jarang keblinger. Mereka tak diberi model konkret untuk menjadi Muslim yang istikamah. Mereka diajak menghargai budaya lokal namun tak diberi kerangka teologis kokoh untuk menjelaskan mengapa Islam dan lokalitas tak sepatutnya ditabrakkan. Akhirnya, mereka mudah goyah ketika disodori ghazw al-fikr ataupun stigmatisasi bid’ah.

Wahabi; Pilihan Utama Masyarakat Urban?

Daya tarik Wahabi bersumber dari sense of mission yang mereka miliki. Di balik narasi puritan dan eksklusifnya, tersimpan semangat dakwah yang militan dan terstruktur. Mereka punya visi dunia, bukan sekadar visi Indonesia. Mereka membangun paguyuban lintas negara, dengan jaringan pendanaan, pendidikan, dan mobilitas tokoh yang masif. Berapa kali dai Wahabi mengisi acara bergengsi di negara ini? Mereka kaya dan militan.

Sebaliknya, Islam moderat, terutama yang dilembagakan dalam struktur negara, cenderung reaksioner; bergerak hanya ketika ada ancaman. Ia menggelar deradikalisasi, tapi tanpa narasi ideologis tandingan yang rasional. Islam moderat memproduksi slogan, bukan kader. Mereka bangga pada rekam jejak masa lalu, namun kehilangan arah masa kini. Pada celah itulah Wahabi masuk, dan masyarakat urban pun terambil hati dan loyalitasnya.

Boleh jadi, memang, Wahabi salah secara substansi. Namun, yang jelas, ia benar dalam Teknik, yaitu disiplin dalam narasi, tertata dalam strategi, dan militan dalam diseminasi.

Maka, sebelum menyalahkan Wahabi atau menyebutnya sebagai virus yang mengancam keberagaman, mari merenung bersama. Daya tarik Wahabi adalah cermin dari ketidakjelasan Islam moderat; umat Islam sedang haus makna, bukan haus proyek. Jika Islam moderat tak mampu menjawab kebutuhan itu, maka ia hanya akan jadi museum keumatan, karena ruh keberagamaan Muslim sepenuhnya tersedot pesona Wahabi.

Karena itu, jika ingin Islam moderat tetap relevan, maka mulailah jadi pengarah—trendsetter dakwah. Bangunlah sistem yang solid, dan jangan andalkan proyek pemerintah. Muslim moderat mesti berani menyampaikan kebenaran dengan tegas, bukan dengan keramahan yang menghilangkan muruah. Wahabi terasa lebih menarik karena kaum moderat terlalu lemah, terlalu sibuk membantah, dan lupa membimbing. Kapan mereka berbenah?

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Leave a Comment

Related Post