Ketika Seorang Ulama Berguru Kepada Perempuan

Ahmad Darwis

08/09/2024

2
Min Read
Ulama Perempuan

On This Post

Harakatuna.com – Berbicara ulama dunia yang diakui kealimannya, pastinya tidak akan terpisahkan dari sang guru yang alim pula dan sabar saat mengayominya. Terlepas apakah sang guru laki-laki atau perempuan, karena tidak menutup kemungkinan bahwa perempuan adalah salah satu orang yang berjasa bagi murid saat menuntut ilmu. Artikel ini akan mengingat kembali ulama terkemuka yang pernah belajar pada perempuan.

Pertama, Tajuddin as-Subki. Belum sah rasanya belajar Ushul Fikih bila belum menelaah kitab Jam’ul al-Jawami’. Kitab kecil, tetapi menjadi babon dalam metodologi studi Islam. Penulis kitab ini; Tajuddin as-Subki memang dikenal sebagai usuli papan atas pada waktu itu.

Namun siapa sangka, ulama usuli ini selain mengambil ilmu dari sang ayahanda; Taqiyuddin as-Subki juga pernah berguru kepada ulama perempuan hebat. Beliau adalah Zainab binti al-Kamal Ahmad bin Abdurrahman al-Maqsidiyah, perempuan (musnidah) pemilik sanad hadis di Syam.

Dalam ad-Durar al-Kaminah, Imam Ibn Hajar al-Asqalani menceritakan profil ulama perempuan ini:

وَكَانَتْ دَيِّنَةٌ خَيَّرَةٌ رَوَتْ الْكَثِيْرَ وَتَزَاحَمَ عَلَيْهَا الطّلبَةُ وَقَرَأُو عَلَيْهَا الكُتُبَ الكِبَارَ وَكَانَتْ لَطِيْفَةَ الأَخْلاَقِ طَوِيْلَةَ الرُّوْحِ رَبَّمَا سَمِعُوْا عَلَيْهَا أَكْثَرَ النَّهَارِ قَالَ وَكَانَتْ قَانِعَةً مُتَعَفِّفَةً كَرِيْمَةَ النَّفْسِ طَيِّبَةَ الخَلْقِ وَأُصِيْبَتْ عَيْنُهَا بِرَمَدٍ فِي صِغَرِهَا وَلَمْ تَتَزَوَّجْ قَطُّ

“Zainad adalah perempuan agamis dan berintegritas. Ia meriwayatkan banyak hadis. Banyak santri berdesak-desakan menghadiri majelisnya. Mereka hendak membaca kitab-kitab besar di hadapannya. Ia juga seorang perempuan yang memilik akhlak lembut, ramah dan periang. Pengajiannya banyak diadakan pada siang hari. Ia juga seorang perempuan yang menerima apa adanya, menjaga diri, baik jiwanya bagus perangainya. Saat masih kecil, ia pernah sakit radang mata. Ia belum pernah menikah sama sekali.”

Kedua, Ibn Hazm. Ia lahir dan berkarir di Andalus, sebuah daerah yang menjadi penghubung antara peradaban Timur dan Barat pada era itu. Ulama ini memiliki beberapa keistimewaan yang melekat pada dirinya. Salah satunya adalah kekuatan hafalan yang luar biasa. Al-Ghazali memberikan kesaksian tentang kuatnya hafalan Ibn Hazm:

وَجَدْتُ فِي أَسْمَاءِ اللهِ تعالى كِتَاباً لِأَبِيْ مُحَمَّدٍ بنِ حَزْمٍ يَدُلُّ عِظَمَ حِفْظِهِ وَسَيَلَانَ ذِهْنِهِ

“Aku menjumpai pada Asma Allah sebuah kitab karya Ibn Hazm yang menjadi bukti kekuatan hafalan dan kecerdasannya”.

Ketika berbicara sosok ulama ini, yang tidak banyak diketahui orang adalah Ibn Hazm pada era-era menuntut ilmu, ia belajar pada sosok perempuan tentang khat, menghafal Al-Qur’an dan syair. Al-Hafnawi berkata:

لَقَدْ تَعَلَّمَ ابنُ حَزْمٍ فِي حَيَاتِهِ اْلأُولَى مَا يَتَعَلَّمُهُ أَبْنَاءُ الأَكَابِرِ مِنْ كِبَارِ الدَّوْلَةِ مِنْ حِفْظِ الْأَشْعَارِ وَحفظ القُرآنِ وَالْخَطِّ وَالْكِتَابَةِ وَكَانَ ذَالِكَ عَلَى أَيْدِى النِّسَاءِ

“Pada periode awal masa hidupnya, Ibn Hazm belajar menghafal syair, menghafal Al-Qur’an serta khat dan menulis Al-Qur’an sebagaimana layaknya anak para pembesar negara, dan itu semua di bawah asuhan seorang perempuan.”

Dan beberapa ulama besar lainnya yang tercatat dalam sejarah pernah berguru kepada perempuan, seperti Imam Syafi’i berguru pada Sayyidah Nafisah, dan Imam Malik bin Anas yang diperintahkan oleh ibunya untuk belajar pada sosok perempuan yang bernama Rabi’ah. Ibunya berkata:

إِذْهَبْ اِلَى رَبِيْعَةَ فَتَعَلَّمْ مِنْ أَدَبِهِ قَبْلَ عِلْمِهِ

“Pergilah pada Rabia’ah, dan belajarlah padanya tentang adab sebelum belajar tentang ilmu.”

Leave a Comment

Related Post